Kolom
Keterjangkauan Teknologi Saat Pembelajaran Daring
COVID-19 telah membuat seluruh dunia kewalahan. Semua yang tadinya berjalan secara normal tiba-tiba dipaksa untuk diam di rumah demi menghindari penyebaran Covid-19 yang mematikan.
Virus yang ditemukan pertama kali di Wuhan pada tahun 2019 ini sangat berbahaya dan telah merenggut jutaan nyawa manusia.
Penyebaran yang begitu cepat membuat negara-negara di seluruh dunia berbenah dan berkolaborasi untuk menangani Covid-19. Oleh karena itu, organisasi kesehatan dunia atau WHO telah menetapkan status menjadi pandemi sampai saat ini.
Perkembangan Covid-19 di Indonesia juga tidak luput dari perhatian. Pemerintah melalui kolaborasi antarmenteri telah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Sistem ini dirancang untuk mengatur mobilitas manusia demi meminimalkan kerumunan. Semua orang yang bekerja dari kantor terpaksa harus WFH, bahkan tidak sedikit yang menerima PHK akibat meruginya perusahaan karena ekonomi yang lesu.
Menyebarnya Covid-19 berdampak pada sektor ekonomi, di antaranya banyak usaha yang pailit, pariwisata dihentikan, pekerja industri di PHK, pekerja seni yang menganggur, dan lain-lain. Tak hanya sektor ekonomi, sektor pendidikan juga ikut terdampak.
Pendidikan merupakan salah satu sektor yang terdampak akibat Covid-19.
Dengan mengikuti aturan dari pemerintah, proses pembelajaran dialihkan ke sistem BDR. Tentu ini sangat mengagetkan, mengingat belum meratanya akses teknologi ke semua daerah di Indonesia.
Interaksi antara pendidik dan peserta didik yang semula terbiasa dilakukan selama di sekolah terpaksa harus dialihkan ke layar virtual. Hal tersebut menuntut pendidik untuk kompeten, harus mampu beradaptasi dengan kondisi yang sedang terjadi.
Pendidik harus berpikir keras untuk menciptakan pola pembelajaran baru yang relevan dengan kondisi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Pendidik di Indonesia, bahkan di dunia harus mampu menunaikan tugasnya untuk memberikan materi kepada peserta didik sebaik mungkin dengan segala keterbatasan komunikasi.
Teknologi memainkan peran yang vital saat pembelajaran dialihkan di rumah. Banyak aplikasi yang menawarkan untuk menjadi penunjang pembelajaran.
Namun, pertanyaannya adalah apakah aplikasi-aplikasi yang ditawarkan dapat menjangkau ke seluruh peserta didik di Indonesia? Jawabannya tentu belum.
Dengan keganasan Covid-19 yang juga menghajar Indonesia, para pemangku jabatan di bidang pendidikan dipaksa untuk berpikir bagaimana caranya pembelajaran bisa terlaksana dengan baik di seluruh Indonesia tanpa tatap muka.
Di kota-kota besar, pembelajaran daring mungkin masih bisa terlaksana sesuai dengan konsep yang diberikan.
Koneksi internet yang baik, latar belakang ekonomi yang mumpuni, lingkungan yang mendukung, dan faktor-faktor lainnya dapat membantu kelancaran proses pembelajaran. Mayoritas peserta didik tentu sudah memiliki gawai yang dengan mudahnya mengunduh beragam aplikasi yang disepakati sebagai penunjang pembelajaran.
Peserta didik dengan mudah mengunduh aplikasi di Play Store atau App Store. Misalnya Whatsapp, Youtube, Zoom, Google Meet, Google Classroom akan mudah digunakan, asal memiliki koneksi internet yang baik dan kuota yang sesuai dengan kebutuhan.
Sedangkan di daerah-daerah lain, pembelajaran daring akan sangat sulit terlaksana karena beberapa faktor seperti listrik, alat bantu teknologi (gawai atau laptop), lingkungan belajar, dan ekonomi.
Keterbatasan akses teknologi di beberapa daerah di Indonesia tentu membuat pihak sekolah dilema. Pihak sekolah harus berpikir secara rasional untuk menciptakan iklim pembelajaran yang sesuai dengan kondisi pandemi.
Alhasil jalan satu-satunya adalah metode home visit yang dilakukan pendidik dengan cara mengunjungi rumah peserta didik secara bergiliran. Konsep seperti ini memang menjadi satu-satunya jalan agar interaksi pendidik dan peserta didik tetap terjaga.
Jika tidak, peserta didik akan menganggap bahwa kegiatan sekolah diliburkan selama pandemi berlangsung dan akan menyebabkan efek negatif seperti tidak mau lagi sekolah, ilmu yang terbatas, bahkan tidak sedikit yang putus sekolah.
Pembelajaran daring telah membuat pendidikan di Indonesia kewalahan karena keterjangkauan teknologi yang belum merambah ke setiap daerah.
Pihak sekolah tentunya harus mengikuti aturan dari pemerintah untuk mendukung upaya memberantas Covid-19. Namun, di sisi lain pemerataan akses dasar seperti listrik dan sinyal patut menjadi PR besar pemerintah agar teknologi dapat menjangkau ke seluruh daerah di Indonesia.
Saat ini tren Covid-19 sudah mulai menurun dan membuat pembelajaran dialihkan kembali menjadi semi normal atau PTMT. Protokol kesehatan harus dijalankan, seperti wajib memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.
Semua hal yang berkaitan dengan teknis pembelajaran diserahkan sepenuhnya ke masing-masing sekolah dengan menyesuaikan aturan yang dibuat oleh pemerintah melalui dinas pendidikan setempat. Semua dilakukan secara bertahap.
Adanya covid-19 memberi pelajaran bagi setiap orang, khususnya di sektor pendidikan. Tidak dapat dimungkiri bahwa pemerataan akses teknologi harus digarap lebih serius agar sila kelima yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bisa terwujud.
Oleh: Alvian Rivaldi Sutisna, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka


