Kolom
Pahlawan Milenial di Era Pandemi
Pahlawan bukanlah gelar belaka yang diberikan kepada seseorang secara sukarela, tetapi gelar pahlawan merupakan sebuah penghargaan yang tinggi yang diberikan kepada seseorang yang bersedia dan rela berkorban jiwa raga kepada Agama, Negara dan Bangsa.
ARTI PAHLAWAN masa kini rupanya bisa multitafsir. Syafii Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah sekaligus tokoh yang menjadi tempat banyak orang bertanya ini, pun tak menyebutkan dengan pasti kriteria pahlawan masa kini.
Namun, menurut Buya, panggilannya, pahlawan adalah orang yang sangat mencintai bangsa dan negaranya secara otentik. “Itu filsafatnya. Ia juga orang yang memahami Indonesia secara utuh, mencintai Pancasila dan menjalankannya secara otentik. Memang klise, tapi itu mendasar sekali dan tak bisa bergeser,” tuturnya.
Hari Pahlawan, kita sepakat bahwa pahlawan itu identik dengan para pejuang baik itu tentara atau sukarelawan yang datang dari berbagai daerah di masa lalu yang berjuang mengangkat senjata melawan para penjajah dan mempertahankan kemerdekaan yang telah diploklamirkan.
Kita ketahui bagaimana heroiknya para pejuang masa lalu, tepatnya pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya dalam melawan penjajah yang dating karena tidak mengakui kedaulatan negara Indonesia.
Memang hal yang mustahil ketika itu untuk melawan Britania Raya yang datang dengan segala perlengkapan yang sangat canggih dengan 30 ribu serdadu lalu melawan rakyat Indonesia yang datang hanya menggunakan persenjataan terbatas, sebagian menggunakan bambu runcing dan sebagian lagi memakai bedil bekas yang dirampas dari penjajah sebelum nya, Jepang.
Semenjak itulah ditetapkan setiap tanggal 10 November sebagai hari pahlawan untuk mengenang heroiknya “Arek Arek Suroboyo” dalam membela negeri ini. Saking membekas nya pertempuran ini di hati masyarakat Indonesia, sampai sampai setiap tahun nya diadakan upacara khusus di hari pahlawan ini.
Setelah 76 tahun berlalu pertempuran Surabaya. Indonesia telah merdeka dari cengkraman penjajah asing secara nyata. Saat ini tidak ada lagi peperangan, tidak ada lagi negara yang berani mengusik kita, lalu apakah Indonesia saat ini tidak memilki pahlawan?
Apakah gelar pahlawan hanya layak disandangkan kepada para pejuang yang mengangkat senjata dimasa lalu?
Pada zaman milenial ini, “Gelar” pahlawan bisa disandangkan kepada siapa saja yang sudah mempertahankan NKRI dengan berbagai cara dan bidang yang mereka kuasai.
Seperti guru misal nya, yang disebut sebagai “Pahlawan tanpa tanda jasa” yang telah menyelamatkan bangsa dari kebodohan dan keterbelakangan. Atau kepada para TNI yang berjasa mengamankan negara kita dari ancaman luar maupun dalam negeri.
Pahlawan bukanlah gelar belaka yang diberikan kepada seseorang secara sukarela, tetapi gelar pahlawan merupakan sebuah penghargaan yang tinggi yang diberikan kepada seseorang yang bersedia dan rela berkorban jiwa raga kepada Agama, Negara dan Bangsa.
Pahlawan dalam pengertian zaman kini menjadi lebih luas, artinya siapa yang berjasa bagi bangsa maka ia adalah Pahlawan. Menurut saya ada satu kelompok sosial yang layak disebut “Pahlawan” atas jasa nya kepada bangsa, yaitu para generasi Millenial saat ini: Mahasiswa contohnya jadi jangan heran, walaupun masih berumur belia, namun mereka memilki jasa yang sangat banyak kepada bangsa ini.
Sering kita lihat di televisi misalnya, berita mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa di istana negara atau di depan kantor DPR.
Jangan salah kira, mahasiswa yang melakukan aksi unjuk rasa itu adalah suatu bakti yang dilakukan kepada masyarakat. Karena aspirasi yang disampaikan oleh mahasiswa itu tidak jarang berasal dari aspirasi masyarakat yang mereka temukan.
Ingatkah kita pada masa krisis moneter pada tahun 1998 lalu? Dimana puluhan ribu mahasiswa turun ke jalan menuntut pemerintah untuk memperbaiki ekonomi nasional.
Kerusuhan terjadi dimana mana, yang paling terkenal kala itu adalah kematian 4 orang Mahasiswa universitas Trisakti yang meninggal ditembak oleh apparat keamanan. Kematian mahasiswa Trisakti itu menegaskan bahwa mahasiswa adalah garda terdepan untuk menjadi penyambung aspirasi rakyat, bahkan mahasiswa pun mengorbankan nyawa demi bakti kepada bangsa.
Selain itu, pada Senin 27 September 2021 juga sempat terjadi Demo yang menuntut KPK membatalkan hasil Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) terhadap 57 pegawai yang berujung pada pemecatan. Aksi demontrasi ini berjalan cukup kondusif dan lancar, namun ratusan polisi saat itu tetap bersiaga sambil mengawal mahasiswa.
Mahasiswa sejati nya adalah masa depan bangsa, maka jika mahasiswa nya berkualitas dan baik maka bisa dipastikan masa depan bangsa ini juga akan semakin baik. Di dalam diri seorang mahasiswa itu tertanam sebuah amanah yang besar yang akan mereka pertanggungjawaban kepada rakyat Indonesia, amanah itu adalah belajar.
Perjuangan mahasiswa dalam perkuliahan itu merupakan salah satu bentuk jasa mereka terhadap Indonesia, maka jangan remehkan mereka, walaupun tugas mereka kelihatan sederhana, yaitu belajar. Namun tugas mereka itulah yang akan menjadi pertaruhan masa depan bangsa ini.
Tidak hanya itu, mahasiswa adalah harga diri bangsa, betapa banyak kita lihat prestasi mahasiswa Indonesia di ajang lomba Internasional yang mampu mengangkat derajat kita dihadapan negara lainnya.
Sangat banyak para Pelajar dan Mahasiswa Indonesia yang berprestasi di Luar negeri, sehingga mereka lah yang mengharumkan nama bangsa di kancah Internasional.
Salah satu kata bijak yang sering dikutip dari Bung Tomo, pahlawan nasional yang memimpin pertempuran melawan tentara Sekutu yang mencapai puncaknya pada 10 November 1945 di Surabaya, ialah “Jangan memperbanyak lawan, tetapi perbanyaklah kawan”.
Kini, saat ditengah wabah pandemi Covid-19, kepahlawanan tentu saja sangat diperlukan. Negara ini membutuhkan orang-orang biasa yang bersedia berubah menjadi luar biasa.
Bangsa ini membutuhkan mereka yang berani keluar dari zona nyaman dan dapat saling bahu membahu bersama-sama membantu dan berkorban mengatasi ganasnya serangan wabah Covid-19 yang terus-menerus merenggut nyawa dan menghantui serta mengancam ratusan juta masyarakat.
Dan ini adalah salah satu momentum yang bisa dilakukan oleh para generasi milenial, para generasi milenial dapat saling membatu dan berkontribusi dalam penanganan wabah pandemi Covid-19. Inilah adalah sebuah kesempatan bagi seluruh kalangan masyarakat untuk menjadi lebih besar dengan menjadi pahlawan sebenarnya.
Ini adalah waktu untuk hadir di tengah masyarakat dan saling membatu. Untuk yang terakhir, Hari Pahlawan tahun ini, setelah 76 tahun yang lalu merdeka, adalah sebuah titik penentu, apakah bangsa ini akan dibawah kemana, akankah dibawa bergerak maju atau mundur lagi.
Oleh : Muhammad Muqorrobin (Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia STKIP Al Hikmah Surabaya, Jawa Timur. Lahir di Sidoarjo, 23 Juli 2002. Akun sosial media saya IG : mmuqorrobin23, Facebook : Muhammad Muqorrobin)

