Sastra
Puisi Puisi Indah Fitriani Sukri; Juang
Juang
Jalan panjang kemenangan
Dari keringat pengorbanan.
Kursi pimpinan meja jabatan
Ada buah air mata waktu, uang, tenaga
Penampakan erotis dari bilik perjuangan
Sengaja diobrak-abrik,
Dari kaum fanatik kekuasaaan
Muncul segelintir kupu-kupu malang
Seakan melerai padahal curang.
Pada perlawanan, dedikasi seakan bumerang
Meronta berputar keluar kelihatan menyerang padahal ia samar.
Pucuk kontestasi bukan mahar apalagi siri’
Jelas ini keadaan sukar, menanggung beban kelompok kalah dan si pemenang bersorak gembira.
Juang, sebagai kata patriot nan energik
Kalah, sebagai orientasi berlawan
Menang, adalah khidmat perjuangan
Lalu, persaudaraan adalah kita hari ini.
Makassar, Juni 2018
Baca juga : Rahasia Hamidah
Sajak Toilet
Aku tak seperti orang beragama dan mengamalkannya
Aku tak sekaya orang berharta dan mencukupinya
Aku tak secerdas makhluk berakal dan menyelamatkannya
Namun,
aku hanya mampu menjadi langitmu di kala kau berada di atas,
Dan menjadi bumi di saat kau mengalah,
Tapi jangan pandang aku sebagai
abu sisa kenangan
yang telah
kau bakar.
Makassar, Mei 2018
Rindu Bersandiwara
Hei kamu cahaya pagiku
Semenanjung yang menampung gelisahku
Kemarin itu, sisa dari kepingan masa lalu
Kucoba robohkan lewat perlakuanmu
Sampai tidak pantas kujadikan sandaran rinduku,
Rinduku amat kuat, rindumu terlalu rapuh.
Kembali pada sandiwaramu
Menepi dan tidak mengalahkanku
Kau kujadikan malam tanpa cahaya agar tak menyakiti pagi kini masih bersembunyi.
Makassar, Juli 2018
Baca juga : Kekuatan Jiwa
Indah Fitriani Sukri merupakan mahasiswi fakultas Hukum UMI Makassar dan sementara menyelesaikan studi jurusan Hukum Tata Negara. Kini ia aktif dalam aktivitas kemanusiaan dan kepenulisan. Ia juga termasuk aktivis di Himpunan Mahasiswa Islam, diamanahi sebagai Ketua Komisariat Hukum UMI 2017/2018. Bergabung di Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia PBHI Sulsel.


Pingback: [Puisi] Syamsul alam; lelaki kepada perempuannya - warnasulsel.com