Mengenal Regent, nakhoda baru FLP ranting UINAM

Warnasulsel.com – Regenerasi sebuah organisasi ditandai dengan adanya musyawarah besar (mubes). Bagi kebanyakan organisasi mubes digelar sekali dalam setahun. Mubes dilaksanakan untuk mempertanggungjawabkan setahun kepemimpinan sebelumnya dan memilih ketua baru untuk tahun berikutnya.

Begitu pula yang terjadi di lingkungan Forum Lingkar Pena (FLP) Ranting UIN Alauddin Makassar. Kampus yang namanya biasa disingkat dengan UINAM itu, memiliki satu organisasi ekstra yang berkecimpung di dunia literasi. Dialah FLP Ranting UINAM.

Minggu (8/7/2018), bertempat di Tanjung Bayang, Makassar, Musyawarah Besar atau yang oleh istilah FLP Ranting disebut Musyawarah Ranting (musran) digelar untuk yang ke empat kalinya.

Organisasi yang menggunakan tiga pilar utamanya, Kepenulisan, Keislaman dan Keorganisasian itu dalam Musran, berhasil memilih dan menetapkan nakhoda barunya. Dialah Regent Aprianto.

warnasulsel.com

Simbolisasi penyerahan kepemimpinan kepengurusan FLP Ranting UINAM dari Ketua sebelumnya Nurjannah kepada ketua terpilih, Regent | Foto: istimewa

Setelah warnasulsel.com melakukan wawancara kepada Regent, didapatlah info yang belum banyak diketahui publik.

Bernama lengkap Regent Aprianto Husen, ia dilahirkan di Kota Gorontalo, 24 April 1998 silam. Hobinya, tentu saja menulis.

Dilihat dari riwayat pendidikannya, Regent mulai bersekolah di SDN No. 77 Kota Tengah Kota Gorontalo sehabis tamat sekolah dasar, ia kemudian melanjutkan pendidikannya di MTsN Kota Gorontalo.

Setelah menamatkan sekolah menengah atasnya di MAN Model Kota Gorontalo, Regent kemudian melanjutkan kuliah di UIN Alauddin Makassar, mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora.

Di kampus, ia kemudian berkenalan dengan beberapa organisasi baik intra maupun ekstra. Seperti yang diceritakannya beberapa organisasi yang sempat dan masih ia geluti yakni bergabung di Forum Lingkar Pena (FLP) Ranting UIN Alauddin Makassar, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Fakultas Adab dan Humaniora.

Selain itu ia juga aktif di lembaga intra jurusannya yakni Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bahasa dan Sastra Arab. Serta tergabung ke dalam Himpunan Pelajar Mahasiswa Indonesia Gorontalo Cabang Makassar.

Ada yang menarik bagi Regent. Di tengah aktivitasnya berorganisasi ia masih menyempatkan diri untuk berkarya. Ia punya motto. “Tak ada yang sulit, hanya saja tidak mudah. Yakin! Tak ada sukses yang instan.”

Itulah yang kemudian mendasari bagi Regent untuk tetap berjuang lewat pena. Dari hasil usahanya itu pula, beberapa prestasi berhasil ia sabet di antaranya pernah menjadi terbaik ke-II lomba cipta puisi Gebyar Bulan Bahasa Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Gorontalo.

Selanjutnya ia juga pernah menjadi kontributor di beberapa buku antologi bersama. Seperti antologi cerpen 2A Dream Publishing pada 2016 dan kontributor antologi puisi Azizah Publishing pada 2017.

Selain masuk di beberapa antologi, karyanya juga diterbitkan di media-media lokal di Sulawesi Selatan.

Puisi, cerpen dan apresiasinya pernah terbit di media cetak Harian Fajar dan Sastra Islami koran Amanah.

Mahasiswa angkatan 2015 ini juga sangat termotivasi dengan buku Randu Alamsyah yang berjudul Beranda Angin.

Ketika ditanya apa yang membuat ia menulis, seketika ia menjawab kalau ada hal yang tak mampu ia bahasakan lewat mulut.

“Saya tidak suka banyak bicara. Bukan karena saya tidak mau, tapi kadang saya bingung. Ada sesuatu yang tidak mampu saya sampaikan dengan lisan. Jadi saya menulis. Saya ingin orang-orang mengerti apa yang saya maksud lewat tulisan saya,” ungkapnya.

Warnasulsel.com

Akun Instagram Regent

Ia juga beranggapan bahwa dengan menulis seseorang bisa disejajarkan memiliki kemampuan. Ia ingin memberikan bukti kepada orangtuanya, bahwa meskipun kurang berbakat di bidang akademik, ia bisa memberikan kontribusi lewat softskill yang dimilikinya.

“Saya ingin orang-orang paham bahwa kemampuan seseorang tak hanya diukur lewat prestasi akademik saja. Jadi saya menulis. Intinya saya ingin orang tua saya bangga,” katanya sambil melebarkan bibirnya.

Terakhir ketika ditanya apa pesan buat para penulis pemula atau seeorang yang ingin jadi penulis, secara singkat ia mengatakan.

“Semua orang bisa menulis. Bisa menuangkan ide-idenya dalam bentuk karya. Hanya saja, kita selalu butuh proses. Seperti motto saya, tak ada sukses yang instan. Cukup bersabar sembari perbaiki niat,” katanya sambil menutup pembicaraan kami dengan mengutip salah satu kalimat dari Penulis Amerika Serikat yang juga peraih nobel sastra pada 1949, William Faulkner.

“Don’t be a writer. Be writing.”

Untuk berkenalan lebih lanjut dengan Regent, silakan kunjungi akun media sosialnya. Akun instagramnya bernama @lahilotergente dan nama akun Facebooknya, Rgnt. Singkat. Begitulah Regent.

Warnasulsel.com

Akun Facebook Regent Aprianto

Leave a Reply