Kolom
Mendudukkan Filsafat sebagai Jalan Hidup dan Pisau Analisis
Oleh: Andi Ulfa Wulandari
Tulisan ini adalah bagian dari selebrasi dalam memperingati Hari Filsafat Se-dunia, yang ditetapkan UNESCO pada tanggal 20 November sebagai penegasan bahwa filsafat adalah suatu hal yang penting. Dalam perjalanan manusia mencari jati diri maupun mencari makna dari keberadaan di dunia, filsafat mengambil peran penting. Filsafat tidak hanya hadir sebagai suatu disiplin keilmuan atau disiplin akademik yang dinilai abstrak, namun lebih dari itu, bagi saya filsafat adalah sebuah jalan hidup (way of life) yang mengarahkan cara berpikir, cara mengembangkan pengetahuan, dan cara berperilaku. Dengan mendudukkan filsafat sebagai jalan hidup, berarti menjadikan prinsip-prinsip rasional dan reflektif sebagai pedoman dalam menjalani laku hidup. Seakan tak ada cela bagi diri untuk mengutuk situasi, bahkan ketika kita merasa sangat sial sekali pun.
Socrates, seorang filsuf Yunani yang dianggap memiliki kesialan di akhir hayatnya, justru memiliki banyak penggemar dan pengikut akibat ajaran filsafatnya yang berhasil menjadi jalan hidup. Bagi Socrates, kebijaksanaan sesungguhnya dimulai dari kerendahan hati untuk menyadari ketidaktahuan kita.” Pesan-pesan bijak yang juga telah ia terapkan dalam menjalani hidup ternyata menjadi inspirasi baru bagi para pembelajar yang datang kemudian. Dengan pesan kebijaksanaan ini, seakan tak ingin memberi ruang bagi kesombongan, juga tak memberi kesempatan bagi kebodohan. Sebagaimana asal muasal katanya, “Philo” dan “shopia” bermakna cinta akan kebijaksanaan, mengajak kita kembali merenungi bahwa jalan hidup terbaik adalah jalan yang ditempuh dengan cara-cara bijak, karena kebajikan selalu menyertai kebijaksanaan. Tak perlu selalu indah, tak perlu selalu ramai, juga tak perlu dipenuhi lampion.
Hari ini, filsafat menjadi jalan yang sunyi. Hanya sedikit kaki yang melangkah di atasnya, hanya sedikit lampu sorot yang mengarah ke sana, filsafat juga kerap dikemas sebagai sesuatu yang sukar bagai tumbuhan belukar yang ribet dan rumit. Padahal, filsafat adalah bagian tak perpisahkan dari kehidupan manusia. Bagi beberapa pemulung kebijaksanaan, mereka justru tidak melihat belukar di sana, tapi bunga indah yang dapat dipetik, itulah “hikmah” atau kebijaksanaan. Alasan yang kuat mengapa argumen ini saya sampaikan, karena kebermanfaatan praktis dari filsafat telah dirasakan bukan oleh saya pribadi tapi juga oleh mereka yang menerapkannya.
Tidak hanya sebagai jalan hidup, filsafat berperan penting sebagai pisau analisis yang membimbing manusia untuk bertanya, untuk menggali makna tersembunyi, untuk menyelidiki, dan untuk merenungi ragam aspek dalam kehidupan ini dengan lebih kritis. Filsafat mendorong kita untuk hidup berkesadaran dan bertanggung jawab, di mana dua hal inilah yang menjadi akar permasalahan kebanyakan sumber daya manusia (SDM) yang hidup di era kontemporer. Misalnya dalam filsafat eksistensial , mengajarkan tentang bagaimana menghadapi absurditas kehidupan ini dengan keberanian. Dalam filsafat etika, membimbing kita untuk menentukan tindakan yang benar dan salah, agar hidup lebih bermakna tanpa terombang-ambing. Jika ditarik pada ranah ilmiah, kedudukan filsafat bahkan menjadi sangat krusial, sebab menjadi fondasi dalam menilai objektivitas, validitas, hingga keberlanjutan pengetahuan. Misalnya, dalam filsafat ilmu, mendorong kita untuk mempertanyakan hal-hal yang mendasari suatu teori ilmiah dan pertimbangan mengenai implikasi maupun etis dari penemuan ilmiah tersebut. Masih banyak cabang keilmuan filsafat lainnya yang mengajak kita berefleksi dan memaksimalkan rasionalitas.
Sederhananya, saya ingin mengatakan bahwa filsafat tidak hanya berkontribusi di ruang-ruang akademik, bagi ruang publik, bahkan juga bagi ruang privasi yang hanya terdiri antara diri dan bayangan kita sendiri. Di ruang akademik, filsafat membantu kita menembus batas-batas riset dan pengetahuan. Di ruang publik, filsafat membantu kita dalam pengendalian emosi dan berpikir jernih. Di ruang privasi, filsafat membantu kita untuk berefleksi dan berdialog dengan diri sendiri untuk memahami eksistensi serta mencapai hubungan transendental yang lebih intim dengan Pencipta.
“Filsafat mengajarkan kita bahwa hidup bukan tentang menemukan jawaban sempurna, tetapi tentang menjalani pertanyaan yang terus berkembang.”
Selamat hari filsafat sedunia. Semoga semua makhluk berbahagia.
Gowa, 20 November 2025

