Kolom
Kehilangan Jiwa : Ketika Materi Menyita Rasa dan Makna
Oleh: Andi Ulfa Wulandari
Dalam pemahaman manusia sebagai makhluk hidup, terdapat dua aspek esensial yang saling melengkapi dan membentuk identitasnya: aspek sosial dan aspek spiritual. Manusia tidak hanya sekadar makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dan relasi dengan sesama, tetapi juga merupakan makhluk spiritual yang memiliki keterikatan mendalam dengan Tuhan dan alam semesta. Keterikatan ini menuntut manusia untuk menjaga keseimbangan antara relasi vertikal dengan Sang Pencipta dan relasi horizontal dengan lingkungan sekitarnya. Sayangnya, dalam praktiknya, seringkali aspek spiritual dan kesadaran ekologis ini terabaikan, yang kemudian berkontribusi terhadap krisis ekologis
Kita sering menjumpai fenomena di mana individu maupun kelompok tampak taat menjalankan ritual ibadah dan memperkuat hubungan vertikal dengan Tuhan, namun di saat bersamaan menunjukkan sikap apatis terhadap kondisi lingkungan. Misalnya, banyak orang yang rajin berdoa, berpuasa, dan melakukan ibadah lainnya, tetapi ketika di jalan mereka menendang botol kemasan sembarangan tanpa niat untuk mengangkutnya ke tempat sampah. Fenomena ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam penghayatan spiritual dan kesadaran ekologis. Bahkan, ketidakpedulian terhadap lingkungan tidak hanya menyasar masyarakat awam, tetapi juga mampu menjangkiti berbagai kalangan, termasuk kaum akademisi, kalangan konservatif maupun liberal, serta kaum religius yang terdidik sekalipun.
Krisis ekologis yang melanda dunia, termasuk Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman hayati dan ekosistem yang kaya, menjadi bukti nyata dari dampak ketidakpedulian manusia terhadap alam. Banjir bandang, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), serta kualitas udara yang semakin memburuk adalah sebagian dari konsekuensi dari kerusakan ekosistem yang terus berlangsung. Menurut seorang pemikir Islam yaitu Badiuzzaman Said Nursi, krisis ekologis ini muncul akibat kekeliruan cara pandang manusia dalam memahami alam. Ia menegaskan bahwa alam bukanlah sekadar objek yang harus dikuasai, melainkan merupakan tanda keberadaan Tuhan yang Maha Esa. Alam semesta adalah manifestasi keindahan dan keagungan Sang Pencipta, yang seharusnya dijadikan bahan perenungan dan tadabbur, bukan sebagai objek keserakahan manusia. Namun, filsuf Islam lainnya yaitu Sayyed Hossein Nasr yang kerap disebut sebagai salah satu filsuf Islam kontemporer secara gamblang menyatakan bahwa krisis terhadap lingkungan atau ekologi sebenarnya dipicu oleh krisis spiritual.
Untuk direnungkan, kemana nurani orang-orang yang ada di balik penggundulan hutan yang pada akhirnya merugikan dan menghilangkan banyak nyawa itu. Perasaan sedih dan kecewa telah merajai banyak hati setelah banjir bandang menimpa tiga provinsi di Indonesia. Banyak pertanyaan yang timbul, meski jawabannya sudah pasti bermuara pada satu hal : ketamakan. Pandangan keliru ini, yang sering disebut sebagai “The fallacy of straw man,” menunjukkan bahwa manusia telah menyalahartikan hakikat alam. Mereka menganggap alam sebagai sesuatu yang mesti dimanfaatkan tanpa batas, bahkan dijadikan sebagai sumber keuntungan ekonomi semata. Pandangan ini berakar dari semangat kapitalisme dan sosialisme yang memandang alam sebagai komoditas ekonomi yang harus dikuasai dan dieksploitasi secara maksimal. Akibatnya, manusia sering melakukan penebangan pohon secara besar-besaran demi keuntungan industri furniture, tanpa melakukan penanaman kembali, sehingga hutan-hutan menjadi gundul dan ekosistem terganggu. Padahal, Indonesia yang dikenal sebagai “Paru-paru Dunia” karena keberadaan hutan tropisnya yang luas dan kaya, mulai menghadapi ancaman kerusakan yang serius akibat pembangunan gedung dan perumahan yang tidak memperhatikan keberlangsungan ekosistem. Digunduli tanpa memikirkan efek dan keberlangsungan hidup, yang ada di otak mereka hanya dollar, rupiah, dan omset. Bersembunyi di balik alibi “Ini juga untuk ekonomi umat, dan dapat menyediakan lapangan kerja baru untuk mereka,” padahal yang terjadi adalah untuk kepentingan dan kemakmuran dompet beberapa orang. Sementara efek baik yang diperoleh masyarakat lokal tak seberapa dibanding resiko yang mereka terima. Apalagi jika resiko itu berupa nyawa!! Begitulah nasib bumi yang dipijaki tanpa rasa takut, hingga finansial dianggap jauh lebih penting daripada spiritual.
Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan kawan di Sulawesi Tenggara. Dia menuturkan pengamatannya saat melintasi sebuah kawasan tambang yang baru saja dibuka, menyampaikan bagaimana laut semakin banyak ditimbun, pohon-pohon ditebang untuk memperluas lahan, warga-warga lokal banyak yang mengosongkan rumahnya dan pindah dari lokasi -mungkin karena tak lagi betah dengan debu yang setiap hari masuk ke rumah mereka. Kawasan tambang yang dibangun di tengah pemukiman warga, yang jaraknya begitu dekat dari pusat aktivitas warga, jelas ini sangat membahayakan ke depannya. Dalam hati, apakah ini akan menjadi Morowali kedua? Itu kampung saya, sangat sedih mendengar kondisi lingkungannya yang semakin mengkhawatirkan. Sumber daya alamnya sangat kaya, dikeruk (mungkin hingga habis), namun sumber daya manusianya kurang diperhatikan. Ujung-ujungnya, SDM lokal menjadi keset kaki.
Sebenarnya, meskipun secara materi manusia modern hidup dalam kemudahan dan limpahan kekayaan, mereka tetap mengalami kegelisahan dan kegalauan batin. Kegelisahan ini merupakan tanda bahwa kekayaan materi tidak serta merta mampu memenuhi kebutuhan spiritual manusia. Bahkan, dalam beberapa kasus, kekayaan dan kemewahan justru menjauhkan manusia dari Tuhannya. Mereka banyak berolahraga dan menjaga kesehatan jasmani, namun melupakan pentingnya menjaga kesehatan rohani. Padahal, kesehatan spiritual adalah fondasi utama agar manusia mampu menjalani kehidupannya secara seimbang, penuh makna, dan tidak semena-mena. Mereka luput bahwa alam ini menyimpan pesan-pesan spiritual, terlalu tebal kabut materialistis itu hingga tak mampu melihat hakikat hidup ini dengan jernih.
Padahal, eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan dan ketamakan manusia memiliki dampak jangka panjang yang sangat merugikan. Sangat!!! Tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga berdampak langsung terhadap kehidupan manusia sendiri. Ketamakan dan ego sering kali menjadi faktor utama yang memperparah krisis ekologis ini. Oleh karena itu, sangat diperlukan kesadaran diri (self-awareness) terutama di era teknologi dan informasi yang serba cepat ini. Namun sayang, setelah banyaknya korban meninggal akibat banjir bandang pun, masih belum cukup untuk menyadarkan hati dan pikiran mereka. Saya ingin menegaskan sekali lagi, krisis ekologis terjadi karena krisis spiritual, dan spiritual berbeda religion. Krisis spiritual berarti seseorang tengah kehilangan makna dan kedalaman hubungan dengan Pencipta, dengan diri mereka sendiri, dengan manusia lainnya, dan dengan alam semesta. Hilang maknanya, padahal sebaiknya kecerdasan otak yang dimiliki itu mengantarkan kita pada hidup yang LEBIH BERMAKNA, bukan hanya LEBIH KAYA.

