Connect with us

Kolom

Ibu sebagai ‘Penjara’: Analisis Kritis Tentang Konstruksi Sosial

Published

on

Spread the love

Oleh : Andi Ulfa Wulandari

Baru-baru ini, kasus daycare bernama Little Aresha di Yogyakarta menyita perhatian publik. Puluhan anak yang dititipkan memperoleh perlakukan yang kasar dan tidak menyenangkan, di mana mereka dibiarkan tanpa pakaian dengan kedua kaki terikat. Video penggrebekan akhirnya meluas di media sosial dan memicu banyak respons masyarakat. Tindak kekerasan terhadap anak itu melahirkan kekhawatiran, kesedihan, dan kemarahan dari berbagai kalangan. Menanggapi kejadian tersebut, sejumlah akun mulai menyuarakan pendapat, namun yang menjadi perhatian penulis adalah munculnya tulisan-tulisan yang mendiskreditkan pilihan perempuan pekerja atau working mom.

Dalam sebuah wacana yang berseliweran di media sosial dikatakan bahwa, ”Dari kasus 53 anak yang menjadi korban kekerasan dan perlakukan tidak manusiawi sebuah daycare, kita bisa belajar bahwa daycare terbaik adalah ibu.” Selanjutnya dalam beberapa komentar terdapat wacana, “Lagian kenapa sih tega banget menitipkan anak kecil ke orang lain,” wacana lain berbunyi,”Itu juga alasan aku memilih resign, fokus jaga anak dan mendoakan suami agar rezekinya lancar.” Fenomena ini menarik untuk dianalisis secara kritis, sebab dalam pengamatan penulis, hal tersebut merefleksikan struktur kekuasaan dan ideologi yang ada dalam masyarakat.

Wacana “daycare terbaik adalah ibu” dapat dianalisis sebagai contoh dari representasi ideologi patriarkal yang masih kuat di tengah masyarakat kita, di mana wacana tersebut mengasumsikan seakan-akan ibu adalah satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab atas pengasuhan anak, sementara ayah adalah pencari nafkah yang tidak perlu terlibat dalam pengasuhan anak. Teori habitus oleh Pierre Bourdieu menurut penulis relevan dalam analisis ini, di mana teori habitus ini merupakan suatu sistem disposisi yang membentuk perilaku dan pandangan seseorang dalam masyarakat. Wacana “ibu sebagai daycare terbaik” bisa dilihat sebagai suatu bentuk habitus yang telah terbentuk dalam masyarakat, yang membuat kita meyakini bahwa ibu adalah pengurus rumah tangga yang ideal, apalagi jika dikaitkan dengan narasi religius.

Dalam konteks ini menunjukkan bagaimana wacana dapat digunakan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan patriarkal serta membatasi peran perempuan dalam masyarakat, sebagaimana yang dimaksud Michel Foucault dalam The Power of Knowledge. Jika melihat konteks, maka yang sepatutnya menjadi fokus dalam kasus Little Aresha ini adalah bagaimana sebaiknya pelayanan dan pengawasan sebuah lembaga yang diberikan amanah, bukan justru menyudutkan pilihan perempuan untuk menitipkan anak di daycare. Sehingga terjadi kecacatan logika, karena tidak menyentuh pada titik perkara sesungguhnya.

Tidak semua perempuan memiliki kesempatan dan keberuntungan yang sama untuk bisa menjadi full mom, beberapa mungkin dapat memilih untuk resign dan fokus membersamai anak, tetapi yang lain bahkan tidak memiliki pilihan sama sekali. Mereka harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dan masa depan anak, sementara daycare adalah solusi yang tersedia. Bagaimana jika perempuan itu juga merupakan tulang punggung keluarga? Pertanyaan mendasar seperti ini kiranya perlu menjadi bahan permenungan sebelum seseorang mengeluarkan argumen, agar tidak masuk dalam kategori “nirempati”. Karena sesungguhnya, para ibu pekerja yang menitipkan anaknya itu sudah menyalahkan diri mereka terlebih dahulu sebelum orang lain berkomentar, mereka sudah dihantui oleh perasaan gelisah dan dilema di antara kondisi yang menghimpit.

Wacana tentang “daycare terbaik adalah ibu” juga mengungkapkan sebuah paradoks dalam konstruksi sosial kita. Pada satu sisi, kita mengangungkan konsep ibu sebagai simbol pengorbanan serta kasih sayang tanpa batas. Akan tetapi, di lain sisi, kita juga menciptakan sebuah standar yang tidak realistis dan tidak adil bagi perempuan. Ironisnya, wacana diskriminatif itu justru kebanyakan datang dari sesama perempuan sendiri. Tujuan dari tulisan ini selain dari membongkar ideologi patriarkal yang tersembunyi di balik wacana, juga ingin menyuarakan kembali “woman supporting woman” agar tidak hanya sebatas slogan semata, melainkan dapat diimplementasikan dalam kehidupan perempuan baik di dunia maya maupun nyata, dengan mendukung pilihan hidup perempuan lain tanpa menganggapnya tidak cukup baik. Karena komentar negatif yang diterima hanya dapat melemahkan mental perempuan.

Dukungan tidak boleh hanya berhenti pada ibu pekerja, namun kepada pilihan hidup perempuan lain termasuk mereka yang memilih untuk full menjadi ibu rumah tangga. Karena kita tidak pernah benar-benar tahu terdapat cerita apa di balik pilihan hidup seseorang, sehingga yang dibutuhkan hari ini bukanlah ruang untuk berkontestasi tentang siapakah ibu ideal itu, akan tetapi sebuah ruang yang mampu memberikan keamanan secara fisik maupun psikis.

Ketika penulis memilih diksi ibu adalah “penjara” sebenarnya merujuk pada maksud bahwa wacana “ibu” seringkali digunakan untuk membatasi kebebasan dan pilihan perempuan. Seolah-olah “ibu” menjadi sebuah identitas yang dipaksakan kepada perempuan, yang membuat mereka harus memenuhi harapan masyarakat tentang apa yang sepatutnya dilakukan oleh seorang ibu. Apabila dianalisis lebih jauh, kita dapat melihat bagaimana dalam banyak kasus, perempuan seakan harus mengorbankan karir, mimpi, dan identitas mereka sendiri untuk memenuhi peran sebagai “pengurus rumah tangga”, tanpa memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri. Ibu sebagai “penjara” adalah bentuk metafora karena perempuan seringkali merasa terjebak dalam peran di mana mereka tidak memiliki pilihan lain. Mereka tidak dapat meninggalkan peran ini, bahkan jika mereka ingin, karena tekanan sosial dan ekonomi yang kuat. Namun, sebagai imbasnya adalah justifikasi dari keluarga dan masyarakat akan memenuhi telinga.

 

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *