Kolom
Ubud di Tengah Tekanan Overtourism: Pariwisata yang Tak Lagi Ramah
Ubud selama ini dikenal sebagai pusat kebudayaan Bali yang menawarkan ketenangan, nilai spiritual, serta harmoni antara manusia, alam, dan tradisi. Popularitas tersebut menjadikan Ubud sebagai salah satu destinasi wisata unggulan, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya arus kunjungan wisatawan mulai memberikan tekanan terhadap daya dukung wilayah. Fenomena ini sejalan dengan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke Bali yang pada 2024 tercatat mencapai lebih dari 6 juta wisatawan mancanegara. Lonjakan tersebut berdampak langsung pada kawasan-kawasan populer, termasuk Ubud, yang memiliki keterbatasan ruang dan infrastruktur.
Dalam pariwisata, kondisi ini dikenal sebagai overtourism, yaitu situasi ketika jumlah wisatawan melampaui kapasitas sosial, lingkungan, dan fisik suatu destinasi. Menurut teori Tourism Carrying Capacity, setiap wilayah memiliki batas kemampuan untuk menerima kunjungan wisata tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan maupun gangguan terhadap kehidupan sosial masyarakat lokal. Ketika batas ini terlampaui, kualitas destinasi akan menurun, baik bagi wisatawan maupun bagi penduduk setempat. Kondisi Ubud saat ini menunjukkan indikasi tersebut, terlihat dari meningkatnya kemacetan, volume sampah, serta berkurangnya ruang publik.
Tekanan overtourism di Ubud tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada struktur sosial dan ekonomi masyarakat. Teori Doxey’s Irritation Index (Irridex) menjelaskan bahwa masyarakat lokal akan mengalami tahapan kejenuhan terhadap pariwisata, mulai dari euforia, apati, hingga iritasi dan penolakan, ketika dampak negatif pariwisata lebih dominan dibandingkan manfaatnya. Dalam konteks Ubud, meningkatnya aktivitas wisata di ruang-ruang permukiman, perubahan fungsi lahan, serta naiknya biaya hidup menjadi faktor yang berpotensi mendorong ketegangan antara warga dan industri pariwisata.
Argumen utama dalam persoalan ini adalah bahwa pertumbuhan pariwisata di Ubud masih terlalu berorientasi pada kuantitas kunjungan, bukan kualitas pengelolaan. Peningkatan jumlah wisatawan tidak secara otomatis meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Sebagian besar keuntungan ekonomi justru dinikmati oleh pelaku usaha bermodal besar, sementara masyarakat lokal sering kali hanya menjadi tenaga kerja dengan posisi tawar terbatas. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa sistem pariwisata yang berjalan belum sepenuhnya inklusif dan berkeadilan. Selain itu, jika pariwisata terus berkembang tanpa pengendalian yang jelas, Ubud berisiko kehilangan identitas budayanya. Teori Butler’s Tourism Area Life Cycle (TALC) menjelaskan bahwa destinasi wisata yang tidak dikelola secara berkelanjutan akan memasuki fase stagnasi dan penurunan. Dalam fase ini, daya tarik utama destinasi melemah akibat degradasi lingkungan dan budaya, sehingga justru mengancam keberlangsungan pariwisata itu sendiri. Dengan kata lain, overtourism bukan hanya masalah hari ini, tetapi ancaman jangka panjang bagi masa depan Ubud.
Oleh karena itu, penataan ulang arah pembangunan pariwisata menjadi kebutuhan mendesak.
Pemerintah daerah perlu menerapkan kebijakan berbasis daya dukung wilayah, termasuk pengendalian kunjungan wisatawan, penataan tata ruang, serta pengawasan pembangunan akomodasi. Di sisi lain, penguatan pariwisata berbasis komunitas dan pelibatan masyarakat lokal dalam pengambilan keputusan harus menjadi prioritas agar manfaat pariwisata dapat dirasakan secara lebih merata.Pada akhirnya, keberhasilan pariwisata Ubud tidak semestinya diukur dari ramainya wisatawan, melainkan dari sejauh mana pariwisata mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian budaya, dan kualitas hidup masyarakat. Tanpa perubahan arah kebijakan, pariwisata yang tidak terkendali justru berisiko menjauhkan Ubud dari nilai-nilai yang selama ini menjadi daya tarik utamanya.
Penulis : Rista Paseru
Fakultas : ilmu sosial dan ilmu politik
Universitas Bosowa

