Connect with us

Kolom

Things won’t change until we do

Published

on

Things Won’t Change Until We Do
Spread the love

Oleh: Muhammad Husein Heikal

SURYA baru menyenter bumi. Saya menyelusuri situs berita Aljazeera. Menemukan berita: jurnalisme adalah pekerjaan suci. Isinya perihal Bushra Seddique, wartawan garda depan Afghanistan. Fakta menariknya, ditempat Bushra menyelesaikan studi jurnalistik di Kabul University, saat ini 1.152 mahasiswa terdaftar dalam program sarjana jurnalisme dan komunikasi.

Itu jumlah yang tak sedikit, apalagi bila dibandingkan dengan peluang pekerjaan di bidang pers dan jurnalisme. Pers bertransformasi dari cetak ke digital. Ini bukan perubahan mudah. Tapi, bukan ini yang ingin saya bicarakan.

Saya penasaran. Saya mencari nama Bushra Seddique di Google. Hasil yang keluar justru milik orang lain: Bushra Siddique. Perempuan muda dari India, sekolah di Dhaka, berlanjut studi sarjana dan master di UCL. Mengagumkan sekali. Saya telusuri gambarnya. Ternyata ia punya blog. Judul blognya: Things Won’t Change Until We Do.

Demi keakuratan ––dibanding kemampuan bahasa Inggris saya yang tak lebih dari cukup––saya seret teks itu ke Google Translate. Hasilnya: Hal-hal tidak akan berubah sampai kita melakukannya.

Kalimat ini menggugah. Setidaknya untuk saya, di pagi ini. Mengapa begitu? Entahlah.

Hari ini dan beberapa hari belakangan saya semacam kehilangan semangat atau gairah hidup. Bawaan diri saya lemas, meskipun saya masih bisa tertawa dengan rekan-rekan di kantor.

Saya seperti kehilangan sesuatu, seperti kehilangan sebuah bagian dalam diri saya. Saya tak tahu apa. Apakah kesehatan? Saya memang menderita selang-seling penyakit seminggu ini, mulai dari demam, flu, pusing, mual, hingga anosmia.

Saya suka memetik kalimat dari seseorang. Siapa pun itu, apalagi kalau perempuan. Saya punya kekaguman tersendiri terhadap perempuan cerdas. Namun sulit menemukan mereka di kenyataan.

Saya sempat memiliki kekasih, seorang perempuan yang menurut saya cukup cerdas. Ia punya ketertarikan kuat terhadap luar angkasa. Saya juga menyukai luar angkasa. Tapi tak terlalu mendalami.

Saya bukan orang cerdas, meski segelintir orang menyebut saya demikian. Saya berjuang demi ilmu dan pengetahuan. Saya bersekolah dengan ketidakberdayaan finansial. Saya tak tekun-tekun amat. Saya lemah, dan mudah menyerah. Tapi saya punya tekad. Barangkali itu yang membuat saya mampu bertahan hidup hingga saat ini––ya, saat saya sudah tak berkomunikasi dengan kekasih saya, dan mesti melakukan semuanya sendiri.

Saya memang anak tunggal. Tapi saya sempat bergantung kepadanya. Bukan bergantung terhadap hal-hal teknis, melainkan ketergantungan emosional. Semua orang butuh didengarkan, bukan?

Maka, kini, dalam kesendirian ruang kerja, seraya menatap jalan Gatot Subroto yang senyap di masa PPKM, saya menuliskan ini. Saya tak punya lagi orang yang mau mendengarkan saya, mendengarkan ocehan atau hal-hal tak penting lainnya.

Ibu saya? Terlalu sedikit yang bisa saya ceritakan kepada beliau. Padahal saya tengah terluka. Perasaan saya sedang sakit. Saya baru tahu ternyata saya seorang penakut. Saya cemas menghadapi realita hidup.

Apa yang harus saya lakukan tahun depan? Bukankah things won’t change until we do? Entahlah. Saya sejujurnya agak jera membuat rencana hidup.

Hidup setelah wisuda sarjana ternyata lebih banyak menderita. Tapi saya masih bisa tertawa. Hampir setiap hari saya tertawa. Ya, benar Kamerad, saya tertawa dibalik penderitaan. Apakah hidup memang demikian? Tentu saja ya. Segala yang saya lakukan kini, akan saya baca lagi di hari kemudian, di masa barangkali saya sudah meraih gelar master atau sudah menikah, atau justru saat saya merana bersama roti kelatak.

Saya bertanya, pada diri sendiri. Apa yang harus saya ubah dalam hidup? Kebiasaan buruk saya ialah mudah emosi. Ini sudah saya coba kendalikan. Saya malas bangun pagi. Kurang berolahraga. Banyak makan. Banyak protes. Lalu, pertanyaan tersulitnya ialah bagaimana cara mengubah itu semua? Sial, ternyata sulit sekali.

Apalagi saya tak punya motivasi. Saya hanya bertanggungjawab kepada ibu saya. Dan diri saya? Ah, ya…saya lupa. Saya barangkali kurang memikirkan diri sendiri, benarkah? Sudah tujuh bulan saya bekerja. Tapi saya tak jadi-jadi membeli sepatu. Saudara, tolonglah saya agar saya mau memperhatikan diri saya.

Hal-hal tidak akan berubah sampai kita melakukannya. Ya, ya! Saya harus berubah. Saya harus berbenah. Saya harus bangkit. Dari apa? Saya sudah nyaman, dan cukup mapan. Tinggal butuh gelar master, kemudian PhD! Lalu saya akan mati dengan santai, dan tanpa mengharapkan orang-orang mengenang saya. Amin.

*Muhammad Husein Heikal, pernah menjadi kolumnis, analis, editor

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *