Connect with us

Kolom

Perlunya Revitalisasi Strategi Kampanye Lempar Kaos menjadi Lempar Gagasan

Published

on

Spread the love

Perlunya Revitalisasi Strategi Kampanye Lempar Kaos menjadi Lempar Gagasan

Oleh : Rifkal Artha Yuda (Mahasiswa Jurusan Keperawatan UMKT Kaltim)

​Perhelatan pemilu di tahun ini sungguh sangat ramai menjadi perbincangan. Masyarakat sangat antusias dalam membangun euforia dengan berbagai macam mengekspresikannya. Pemilu tahun ini banyak yang mengatakan dengan politik riang gembira. Hal tersebut diungkapkan oleh banyak oleh politisi dengan harapan agar pemilih di tahun ini dapat berjalan dengan baik, ceria dan tidak ada kekerasan di dalamnya. Tetapi keinginan tidak selalu berjalan dengan harapan. Masih banyak umpatan hingga ancaman pembunuhan oleh oknum-oknum yang mungkin kesal karena calon yang dijagokannya merasa dikritik dan dikomentari oleh calon yang lainnya.

Dalam penyelenggaraan pemilu, terkhusus ditingkat nasional yaitu pemilihan capres dan cawapres, banyak sekali kepentingan orang-orang dengan berbagai upaya agar mendapatkan suara. Kita bisa lihat di sosial media, ada yang sampai mengumpulkan perangkat desa yang entah apa tujuannya. Tetapi yang kita ketahui bersama bahwa perangkat desa apalagi kepala desa tidak boleh turut andil menjadi timses dalam pemenangan capres dan cawapres.
​Negara kita menganut sistem demokrasi, yang di mana rakyat memiliki hak yang sama dalam memilih.

Tentunya dengan sistem seperti itu, tinggal bagaimana para capres dan cawapres ini mengatur strategi kampanye agar kemudian dapat mengumpulkan suara sebanyak-banyaknya. Strategi yang digunakan pun bermacam-macam, ada yang membuat konser musik, ada yang jalan santai dengan mengadakan doorprize, ada juga hingga dialog terbuka dengan masyarakat, hingga lempar-lempar kaos di jalanan. Semua itu tentunya sah-sah saja yang terpenting tidak melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh bawaslu.

​Semua metode kampanye yang dilakukan semata-mata untuk mendapatkan suara. Para paslon harus berjibaku bersama tim untuk menentukan lokasi dan strategi yang dibuat bersama. Tetapi menurut penulis di era sosial media seperti sekarang ini, para paslon harus berhati-hati dan lebih bijak lagi. Masyarakat sudah melek akan informasi dan lebih mudah mendapatkan berita yang sedang beredar. Secara fundamental, jika memang para paslon memiliki niat yang baik, maka kampanye akan banyak dilakukan dengan cara berdialog dengan masyarakat, agar kemudian masyarakat akan tau apa visi-misi para paslon untuk bangsa ini

​Semakin kesini, menurut penulis para paslon harus lebih bijak dan lebih elok lagi dalam membuat strategi kampanye. Lebih bijak yang di maksud adalah, bagaimana kepentingan untuk mendapatkan suara itu sejalan dengan apa yang ingin mereka lakukan. Dalam arti apa gagasan serta ide mereka untuk bangsa ini. Cara ini dapat dilakukan ya pastinya dengan berdialog ataupun berdiskusi bersama masyarakat. Sehingga masyarakat bisa tau apa yang ingin dilakukan oleh para paslon untuk Indonesia kedepannya.

Menurut penulis selain untuk mendapatkan suara sebanyak-banyaknya, tujuan kampanye harus melihat pada nilainya. Nilai yang dimaksud adalah apa yang bisa ditawarkan oleh para paslon untuk kedepannya. Apakah dengan kempar-lempar kaos, apalagi dengan gesture yang tidak semestinya akan mendapatkan respon yang baik. Apakah dengan tindakan kampanye seperti itu gagasan yang telah dibuat akan sampai kepada masyarakat.

Sepertinya kita sepakat bahwa alih-alih mendapat perhatian yang baik bagi masyarakat, justru malah mendapatkan sentimen negatif, karena lempar-lempar kaos dari mobil dengan gesture yang di nilai tidak baik dilakukan oleh seorang calon pemimpin. Jika ingin memajukan sistem demokrasi yang baik, maka perlunya strategi kampanye membuka ruang diskusi dengan masyarakat.

Para paslon harus siap menerima saran, kritik maupun masukan dari masyarakat.
​Seorang ilmuwan politik di Amerika Serikat bernama Kenneth White mempopulerkan istilah politik gagasan dalam bukunya yang berjudul The Politics of ideas. Ia menjelaskan bahwa di negara-negara yang demokrasinya sudah matang, pemilih dalam menentukan pemimpinnya, tak lagi mengedepankan sentimen yang bersifat primordial. Tetapi, lebih karena ketertarikan gagasan, platform atau program.

Pengarusutamaan gagasan politik juga akan semakin mengakselerasi dan menjamin bertumbuhnya sistem demokrasi yang sehat, adil transparan dan akuntabel. Dari kalimat tersebut, jika memang para paslon merasa negara Indonesia sudah matang dalam berdemokrasi atau menginginkan demokrasi yang lebih maju, maka para calon pemimpin harus lebih mengedepankan dialog.​

​Ingin penulis katakan bahwa strategi kampanye lempar-lempar kaos ataupun makanan dan lainnnya sudah sangat konservatif untuk dilakukan. Strategi ini sudah ketinggalan jaman, walaupun orang-orang berdesak untuk mengharapkan tetapi dari sesi nilai, sudah sangat jauh dari tujuan dasarnya. Keterbukaan komunikasi antar pemimpin dan masyarakat harus masif dilakukan.

Semua ini agar kedepannya demokrasi kita semakin matang, tidak ada yang namanya pemimpin yang anti kritik. Pemimpin anti kritik di negara demokrasi merupakan awal pembentukannya negara yang otoriter.
​Penulis sangat respect kepada para capres dan cawapres yang mengedepankan ruang dialog dengan masyarakat. Apalagi sampai membuat acara khusus kampanye ke berbagai daerah dengan rangkaian masyarakat bebas untuk bertanya dan mengkritik apapun. Sejatinya inilah kampanye yang sangat bijak untuk dilakukan. Walaupun mungkin ini perlu tingkat konsistensi yang baik karena menggeser budaya lempar-lempar kaos menjadi lempar gagasan.

Penulis berharap perlu adanya revitalisasi dari para calon pemimpin dalam melaksanakan kampanye. Penulis tidak mengatakan berbagi kaos ataupun benda lainnya merupakan cara yang salah. Tetapi yang penulis tekankan adalah bagaimana caranya. Pemimpin harus memberikan contoh yang baik, tidak perlu lempar-lempar dengan gesture yang seakan-akan tidak menghormati masyarakat yang akan menentukan suaranya di tanggal 14 februari nanti.

Revitalisasi yang paling ideal adalah bagaimana pemimpin bisa membuka ruang diskusi dengan masyarakat. Para capres membawa gagasan untuk Indonesia, maka dari itu perlu di uji publik gagasan tersebut. Apakah memang sangat relevan dengan apa yang dibutuhkan masyarakat atau tidak. Gagasan para capres harus di sampaikan memalui komunikasi, agar kemudian substansi yang di maksud para capres bisa tersampaikan dengan baik. Revitalisasi cara berkampanye seperti ini juga akan membentuk budaya masyarakat dalam berdemokrasi.
​Harapannya semoga Pemilu di tahun ini berjalan dengan baik.

Semua masyarakat memiliki hak dalam memilih jadi pilihlah sesuai hati nurani. Untuk para paslon, semoga bisa menjadi role model yang baik bagi masyarakat. Terkhusus dalam melakukan kampanye, semoga ada perubahan dari yang Cuma lempar-lempar kaos, menjadi diskusi terbuka yang kemudian masyarakat dapat menguji pikiran dari para capres dan cawapres Indonesia.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *