Kolom
DARAH TANPA WARNA

Penulis : Rahmat (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sinjai)
Sebelumnya saya minta maaf pertama saya penulis tanpa dasar dan tanpa ilmu. Kedua saya suka menulis tapi tidak tertarik membaca. Terakhir tulisan ini tidak ada kata “KITA” karna ini cerita yang SAYA alami dalam pikiran saya dan tidak mengikut sertakan orang lain dalam cerita ini. Cerita saya di mulai pada saat tembakau terbungkus kertas putih mulai ku bakar di mana air yang sangat jernih mulai turun secara perlahan. saya melihat kearah jendela dan memfokuskan pada pendengaran ternyata bukan air hujan, di bawah mata terasa basah dan tanpa sengaja saya menghadap ke cermin ternyata yang jatuh secara perlahan adalah DARAH TANPA WARNA.
Dada tiba2 terasa sangat sesak, kenapa hati ini tiba2 terluka tapi darahnya bisa lewat mata. Di pikiranku saat ini menginginkan ketenangan dalam gelap yang sunyi tapi kenapa bayangan masa lalu yang menghampiri. Apakah luka yang kemarin harus muncul atau ini cuman bagian dari hukum alam. Saya kemarin selalu meyakini timbal balik roda dari kehidupan tapi kenapa kenapa kesedihan selalu muncul tanpa ada selipan kebahagian.
Kata SoS di lagunya kenapa ada sang hitam bila putih menyenangkan dan kata saya kenapa selalu ada kesedihan jika bahagia menyenangkan. Yah mungkin pertanyaan muncul bayangan masa lalu dan kesedihan apa yang tiba tiba datang tanpa undangan dan pergi tanpa kepastian.
Itu jawaban yang mungkin tidak di harapkan karna inti dari cerita pendek ini yang mungkin saya buat cuman 30 menit adalah pengharapan yang membuat aura negatif muncul dalam diri saya dan masa lalu yang saya maksud adalah pengharapan yang saya target belum ada satu persen pun yang terjadi sampai detik ini. Sedikit saran berharap boleh tapi harus bisa menerima kenyataan karna mungkin saja pengharapan orang yang kerjanya tidur dan malas-malasan bisa saja terwujud dan orang yang bekerja keras mungkin saja lambat atau bahkan sama sekali tidak terwujud.

