Konsuler Jepang Akan Membatu dan Siap Bekerjasama DPK Sulsel untuk Pengembangan Layanan Perpustakaan Ibu dan Anak

Pengelola Layanan Perpustakaan Ibu dan Anak Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Sulawesi Selatan dipimpin Kepala UPT Layanan Perpustakaan Abd. Hadi, S.Sos, M.Si melakukan audiensi ke Kepala Kantor Konsuler Jepang di Makassar, Miyakawa Katsutoshi di Kantor Konsuler Jepang  Lt. 7 Wisma Kalla Makassar, Kamis (18/2/2021).

Kunjungan audiensi tersebut dalam rangka memperkenalkan keberadaan Layanan Perpustakaan Ibu dan Anak DPK Sulsel yang baru sebulan lebih beroperasi membuka layanan perpustakaan khusus untuk ibu dan anak, sekaligus meminta dukungan dan kerjasama dalam rangka pengembangan perpustakaan yang digagas oleh Bunda Baca Sulsel Hj. Lies F. Nurdin.

Pada kunjungan audiensi tersebut, Kepala UPT Layanan Abd. Hadi di dampingi Kepala Seksi Layanan Perpustakaan Umum dan Multimedia DPK Sulsel Hj. Feby Primajanti T.T, S.Sos, M.Si, Kepala Sub Bagian Tata Usaha UPT Layanan Arwadia, S.AP, Koordinator Layanan Perpustakaan Ibu dan Anak Hamriati, A.MK dan PIC Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial DPK Sulsel Nazaruddin, S.Ag., M.Sos.I.

Kepala Kantor Konsuler Jepang di Makassar, Miyakawa Katsutoshi, menyambut baik kehadiran dari pengelola Layanan Perpustakaan Ibu dan Anak DPK Sulsel ini. Ia mengatakan keberadaan perpustakaan Ibu dan Anak ini sangat bagus, dia siap membantu dan bekerjasama dalam pengembangan kegiatan layanan perpustakaan ini.

“Perpustakaan itu penting untuk pendidikan anak-anak kita. Saya heran ketika tiba di Makassar, saya melihat kurang sekali perpustakaannya, koleksinya juga tidak lengkap, bukunya ada yang robek,” ujarnya.

Karena itu ia sangat mengapresiasi kehadiran Layanan Perpustakaan Ibu dan Anak ini. Ia meminta agar perpustakaannya ditata dengan baik, pengelolanya disiplin, kebersihannya dijaga, biar anak-anak tertarik dan betah untuk membaca buku di perpustakaan.

“Membiasakan membaca buku bagi anak-anak itu penting dan harus dibudayakan. Anak-anak tidak boleh larut dengan budaya menonton TV dan main HP. Bila perlu anak-anak harus dipaksakan membaca buku. Di sinilah pentingnya peranan orang tua, jadi orang tua juga harus memberi contoh bagi anak-anaknya. Bagaimana bisa menyuruh anak-anaknya rajin membaca buku kalau orang tuanya sendiri malas baca buku,” tegasnya.

“Kita akan membantu perpustakaan Ibu dan Anak ini tapi bukan dalam bentuk uang melainkan dalam bentuk kerjasama. Kami bisa membantu memfasilitasi pelaksanaan kegiatan workshop dan pelatihan-pelatihan seperti pelatihan origami dan yukata. Kami juga bisa memperkenalkan seni budaya dan permainan alat-alat musik jepang, bisa melakukan pemutaran film animasi jepang, dan berbagai kegiatan lainnya,” imbuhnya.

Secara pribadi Miyakawa Katsutoshi juga akan menyumbangkan buku-buku dan boneka untuk menambah koleksi perpustakaan Ibu dan Anak ini. Ia juga akan membantu mempromosikan keberadaan perpustakaan yang diharapkan menjadi role model untuk Perpustakaan Ibu dan Anak di Indonesia ini melalui media sosial konsuler jepang. *(naz)

Leave a Reply