Connect with us

Kolom

Indonesia Gelap, “Kabur Aja Dulu”?

Published

on

Indonesia Gelap, Kabur Aja Dulu
Spread the love

Oleh: Marginingsih, S.Pd

Benarkah solusi dari Indonesia Gelap adalah “kabur” ke luar negeri? Tagar #KaburAjaDulu yang mulai viral di media sosial pada pertengahan Februari 2025 menginspirasi rakyat untuk “kabur” dari Indonesia. Fenomena ini mencerminkan keinginan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mencari peluang kerja atau pendidikan di luar negeri.

Hal ini dipicu oleh berbagai tantangan ekonomi dan sosial di Indonesia, seperti terbatasnya lapangan pekerjaan dengan gaji layak, tingginya biaya hidup, serta kualitas pendidikan yang dianggap kurang memadai. Tren ini juga didorong oleh banyaknya informasi di media sosial mengenai peluang studi dan kerja di luar negeri, seperti lowongan pekerjaan, beasiswa, dan pengalaman bekerja di negara lain. Hal ini semakin memperkuat keinginan generasi muda untuk “kabur” dari Indonesia demi masa depan yang lebih baik.

Namun, fenomena ini menuai beragam tanggapan. Beberapa pihak melihatnya sebagai bentuk ekspresi kekecewaan terhadap kondisi dalam negeri, sementara yang lain menganggapnya sebagai kurangnya rasa patriotisme. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyebut tagar #KaburAjaDulu yang ramai di media sosial sebagai tantangan bagi pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih baik di dalam negeri. Yassierli tidak mempersoalkan WNI yang memilih bekerja di luar negeri, asalkan mereka kembali ke Indonesia untuk membangun negeri.

Berbeda dengan Yassierli, Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer justru mengaku tidak ambil pusing dengan tren #KaburAjaDulu. Noel, sapaan akrabnya, bahkan mempersilakan WNI yang ingin berkarier di luar negeri untuk tidak perlu kembali ke Indonesia. (Kompas.com, 17/2/2025)

Indonesia Gelap
Tagar #IndonesiaGelap merupakan bentuk dari respon masyarakat terhadap kondisi Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja. Gerakan “Indonesia Gelap” berawal dari dunia maya dan berlanjut ke aksi unjuk rasa mahasiswa pada 17 Februari 2025 di berbagai kota, termasuk Jakarta, Bandung, Lampung, Surabaya, Malang, Samarinda, Banjarmasin, Aceh, dan Bali. (tempo.co, 22/2/2025)

Aksi protes ini didasarkan pada beberapa kebijakan pemerintah, terutama di 100 hari pemerintahan presiden Prabowo-Gibran yang dinilai tidak pro rakyat dan kontra produktif terhadap kesejahteraan rakyat. Pemerintah mengalokasikan dana sebesar $28 miliar untuk program pemberian makanan gratis bagi anak sekolah, yang didanai melalui pemotongan signifikan pada anggaran pendidikan tinggi dan sektor lainnya. Kebijakan ini memicu protes dari mahasiswa yang merasa bahwa pendanaan pendidikan dikorbankan. Selain itu, tingkat pengangguran pemuda yang tinggi dan penyusutan kelas menengah menjadi perhatian utama. Hal ini mendorong munculnya tagar lain seperti “KaburAjaDulu,” yang mencerminkan keinginan generasi muda untuk mencari peluang di luar negeri. (financialtimes.com, 22/2/2025)

CNBC Indonesia (11/10/2024) memberitakan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini cenderung tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. Data ekonomi menunjukkan pelemahan yang signifikan selama semester pertama 2024 dan berpotensi berlanjut ke semester kedua 2024.

Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami deflasi selama lima bulan beruntun sejak Mei 2024. Data teranyar menyebut deflasi bulanan sebesar 0,12 persen terjadi pada September 2024.

Menurut ekonom Universitas Muhammadiyah Surakarta Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si., deflasi yang terjadi di Indonesia selama lima bulan terakhir ini lebih banyak disebabkan berkurangnya daya beli masyarakat, terutama kelas menengah. Penurunan daya beli masyarakat ini terjadi karena adanya masalah di industri padat karya di Indonesia terutama tekstil yang menyebabkan banyak perusahaan tekstil ditutup dan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Pewartaan Kumparan, Selasa (1/10/2024), mengatakan sebanyak tujuh perusahaan tekstil melakukan PHK akibat dinyatakan pailit dan delapan perusahaan melakukan PHK karena menjalankan efisiensi.

Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) mencatat sebanyak 15.114 buruh pabrik terkena PHK sepanjang Januari hingga 9 September 2024. Sedangkan menurut data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), jumlah pekerja yang terkena PHK sampai Agustus 2024 mencapai 46.240 orang. Dampaknya langsung terasa dengan bertambahnya jumlah pengangguran dan penurunan bisnis pada perusahaan yang ada di rantai pasok tekstil.

Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius terkait keterbatasan lapangan kerja formal. Salah satu indikatornya adalah dominasi sektor informal yang mencapai 59% dari total tenaga kerja. Selain itu, jumlah pekerja keluarga atau pekerja yang tidak dibayar meningkat dari 14,76 juta orang pada 2019 menjadi 19,29 juta orang pada Agustus 2024. Selain itu, kelas menengah Indonesia mengalami penyusutan, dari 60 juta orang pada 2018 menjadi 47,9 juta orang pada 2025.

Penurunan ini disebabkan oleh kurangnya pekerjaan formal, investasi yang minim di sektor berpenghasilan tinggi, dan ketergantungan pada sektor komoditas dengan upah rendah (Financial Times, 17/2/2025). Faktor upah juga menjadi soal. Masyarakat kian terimpit akibat kenaikan upah minimum yang terlalu kecil sehingga tidak mendorong daya beli. Ini diperparah dengan beban bunga bank yang tinggi. Kondisi tersebut membuat masyarakat harus mengatur kembali pengeluarannya, dengan memprioritaskan tanggungan wajib seperti cicilan kendaraan, cicilan rumah, ataupun kebutuhan dasar rumah tangga lainnya.

Apakah Harus Pergi?

Anies Baswedan, mantan Gubernur DKI Jakarta mengajak masyarakat untuk tetap mencintai Indonesia meskipun menghadapi berbagai tantangan. Beliau menekankan bahwa rasa cinta tanah air harus tetap dijaga dan diwujudkan melalui kontribusi nyata bagi bangsa sekalipun berada di luar Indonesia.

Pergi ke luar negeri menjadi salah satu pilihan di situasi yang sulit seperti saat ini. Tentu manusia hidup membutuhkan penghidupan. Jika dirasa luar negeri menjanjikan penghidupan yang lebih layak, maka mengapa tidak? Berbeda jika kondisi di Indonesia baik, penuh dengan kecukupan dan kemudahan, maka tidak mungkin akan ada option #KaburDuluAja.

Pilihan ini tidak seharusnya dijadikan indikator seseorang mencintai Indonesia atau tidak. Karena ini hal berbeda. Cinta terhadap Indonesia bisa diwujudkan dalam berbagai hal dan dimana saja. Satu hal yang pasti bahwa sebagai Warga Negara yang baik harus mempunyai sikap peduli terhadap kondisi bangsa nya sendiri. Sudah seharusnya kita jujur terhadap kondisi Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja ini dan bergerak untuk memperbaiki.

Bagaimana Cara Memperbaiki?

Tidak mudah rasanya untuk memperbaiki ketika melihat kondisi Indonesia yang begitu pelik ini. Bagaimana tidak, orang yang bersuara lantang menyampaikan kebenaran, mengoreksi dan mengkritik kebijakan penguasa, berakhir dipersekusi, mendapatkan berbagai ancaman dan harus berhadapan dengan hukum. Konsekuensinya dipenjara atau mati di tangan penguasa. Alhasil, banyak orang mencari aman, tidak banyak bicara, langsung aksi dengan kabur dulu aja. Ada juga orang yang tetap lantang, melakukan aksi protes dan menyerukan perubahan meskipun nyawa menjadi taruhannya. Pilihan Mana yang harus kita kedepankan?

Ada 2 pendekatan ulama dalam menghadapi masalah. Pertama, kabur aja dulu. Kedua bertahan di tempat.

Pada masa pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun (Dinasti Abbasiyah), muncul kebijakan yang memaksakan paham Mu’tazilah (rasionalisme dalam Islam) kepada masyarakat sehingga muncul fitnah bahwa Al Qur’an adalah makhluk (bukan kalamullah). Imam Ahmad menolak pandangan ini, meskipun ia disiksa dan dipenjara selama bertahun-tahun. Ia tetap bersabar dan tidak menyerah, hingga akhirnya kebijakan tersebut dicabut oleh Khalifah Al-Mutawakkil.

Kondisi ini disikapi berbeda oleh Imam Syafi’I, salah satu ulama yang mahdzab nya banyak dipakai oleh kaum muslim di Indonesia. Beliau, Imam Syafi’I memilih untuk kabur dulu dari Baghdad menuju ke Kairo, Mesir. Beliau membangun keilmuwan dan meningkatkan taraf berfikir ummat untuk memperbaiki masa depan. Kolaborasi dari dua ulama ini mampu membenahi peradapan ummat manusia di kemudian hari.

Berdasarkan paparan ini, semoga kita bisa bijak menyikapi kondisi gelap Indonesia saat ini, Bahwasanya kita harus menjadi manusia yang turut membangun peradapan dimanapun kita tinggal. Kita harus terus menerus belajar, peduli dan menyerukan kebenaran dimana pun kita berada.

Jika Islam sebagai agama dan dien yang sempurna yang Allah turunkan kepada ummat manusia, maka sudah selayaknya kita mendalami Islam dan memperjuangkannya sebagai solusi dari Indonesia gelap saat ini.

Kita juga harus menyeru kepada penguasa negeri ini agar menegakkan keadilan dan menjalankan kewajibannya sebagai pengayom dan pelindung rakyat dengan sebaik-baiknya.

Takutlah wahai para penguasa terhadap azab Allah yang diberikan kepada orang-orang yang bermaksiat dan berkhianat terhadap Amanah yang diberikan kepadanya.

Dari Ma’qil Bin Yasâr Radhiyallahu anhu berkata, aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba pun yang diberi amanah oleh Allâh untuk memimpin bawahannya yang pada hari kematiannya ia masih berbuat curang atau menipu rakyatnya, melainkan Allâh mengharamkan surga atasnya.” (Muttafaq alaih)

Editor media warnasulsel.com - Portal media kiwari yang menyajikan berita lebih hangat berfokus berita pendidikan, sastra, buku dan literasi di sulawesi selatan

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *