Kolom
Filsafat di Atas Piring : Sebuah Seni Mengelola Hidup
Oleh: Andi Ulfa Wulandari
(Dosen Filsafat UIN Alauddin Makassar)
Ada satu ruang di rumah yang jarang disebut sebagai ruang berpikir, bahkan seringkali ruang ini menjadi paling berantakan dan disembunyikan: dapur. Meskipun tidak semua dapur berada di bagian belakang, pada tiap rumah masyarakat adat Tana Toa (Kajang) misalnya, dapur mereka diletakkan paling depan dekat pintu masuk dengan filosofi yang menggugah. Rumah-rumah minimalis modern juga sudah menampakkan dapur di bagian depan dengan konsep mini bar. Tapi, tulisan ini bukan tentang desain ruangan, lebih dalam dari itu saya ingin mengeksplorasi satu sisi yang jarang disadari. Di sanalah saya menghidupkan latihan filsafat paling dasar, yaitu tentang cukup, tentang waktu, dan tentang tubuh. Pengalaman ini cukup membuat saya mengartikan makan sebagai cara kita bernegosiasi dengan keinginan, waktu, dan tubuh.
Pagi yang sederhana, terkadang dengan menyantap telur rebus, ubi, dan buah. Tidak ada yang betul-betul mewah. Ubi direbus sampai empuk, telur dikupas pelan-pelan. Tidak ada gula tambahan, tidak ada yang digoreng. Seakan menghidupkan ritual lama nenek moyang yang saat itu belum mengenal kelapa sawit.
Dulu, saya mengira ini soal kesehatan semata atau tips umur panjang masyarakat Jepang layaknya yang dikisahkan dalam buku Ikigai bersampul biru itu. Lama-lama ada kesadaran yang menyelinap masuk, benak saya seolah dibisiki bahwa ini soal kejujuran. Kejujuran pada diri sendiri, pada tubuh yang baru bangun. Ia tidak butuh ramai. Ia butuh yang hangat, yang mengenyangkan, yang tidak menipu. Bukan semata-mata yang diinginkan.
Menyeruput teori-teori filsafat dari Eropa hingga ke Asia, dari Barat ke Timur, atau bahkan dari filsafat Islam hingga skolastik Kristen, dsb, pada akhirnya membawa saya untuk mempertemukan teori dan praktik di ruang sehari-hari.
Filsafat Stoik mengajarkan “diet” dalam arti aslinya adalah cara hidup. Bukan diet untuk kurus, tapi diet untuk merdeka. Epictetus, sang filsuf yang juga sekaligus mantan budak itu, pernah berkata bahwa kebebasan dimulai ketika kita bisa berkata cukup pada keinginan.
Di atas piring itu saya berlatih berkata cukup. Dua ubi. Satu telur. Selesai. Tidak scroll menu. Tidak mengejar rasa baru. Hanya makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan. Pernyataan ini tentunya akan mengandung pro dan kontra, terlebih di era kontemporer ini yang segala jenis hidangan memanjakan panca indera, melihatnya memang begitu nikmat, apalagi dengan sistem instan yang tidak menghabiskan banyak waktu menunggu.
Siang hari, baru nasi datang, dengan sayur, dengan tahu, tempe, telur, atau jamur. Tidak ada daging. Bukan karena benci daging, dulu bahkan sangat tidak bisa tanpa makan daging minimal daging ikan sebagai anak pesisir. Justru karena itulah, filsafat mengajarkan saya untuk melatih diri, termasuk untuk membiasakan untuk tidak bersama ataupun bergantung dengan sesuatu yang sangat disukai.
Dan karena saya ingin belajar satu hal, bahwa protein tidak harus datang dari darah, sebagaimana filosofinya bahwa kekuatan tidak harus dari kekerasan. Ini juga menjadi bagian dari latihan welas asih dalam perspektif beberapa filsuf. Tentu pandangan ini tidak untuk digeneralisir, tapi membagikan pengalaman ini dalam bentuk literasi baca adalah bagian dari edukasi yang siapa pun boleh mengaksesnya.
Piring untuk makan sore akan diisi dengan tidak banyak hidangan. Selama kandungan gizinya sudah seimbang, maka cukup. Bukan perkara banyak atau sedikitnya porsi di atas piring kita, tapi cukup atau tidaknya untuk memenuhi nutrisi tubuh.
Aturan ini terdengar keras. Tapi justru di sanalah kebebasannya. Buddha mengajarkan madhyama-pratipad atau jalan tengah, jika melihat kitab suci umat Islam, Al-Qur’an, juga terdapat anjuran untuk tidak berlebihan dan bersikap”mutawassath” (pertengahan). Tidak menyiksa diri, tidak memanjakan diri, karena ternyata tubuh bisa sepandai itu. Puasa malam bukan penyiksaan. Ia adalah jeda. Memberi tubuh waktu untuk mencerna, bukan hanya makanan, tapi juga hari. Jeda ini berkontribusi dalam memberikan kualitas tidur yang ternyata lebih baik daripada kondisi perut yang penuh.
Di malam hari ketika perut ringan, pikiran justru paling jernih. Lapar kecil mengingatkan bahwa saya manusia. Saya terbatas. Saya tidak butuh semua hal sekarang juga. Air putih menetralkan perasaan lapar pura-pura itu. Sehingga tampak bahwa ego manusia bisa untuk tidak selalu disuapi.
Osho pernah berkata, “Awareness is the greatest medicine”. Menyadari lapar tanpa langsung melahap, menyadari ingin ngemil tanpa harus menuruti. Di sanalah latihan kesadaran terjadi. Bukan di gunung, bukan di hutan, bukan di kuil. Tapi meja makan, di hadapan piring.
Buah dan sayur hadir setiap hari. Warna-warni. Meski gorengan dan olahan manis bertebaran tidak hanya di ruang nyata, tapi juga di ruang digital. Justru ini adalah pembelajaran filsafat yang nyata bagi saya. Ini pengingat lain bahwa hidup tidak harus selalu gurih dan manis untuk disebut enak. Ada rasa pahit dari sayur, ada sepet dari buah yang belum terlalu matang. Dan saya belajar menerima semuanya. Tidak semua hal harus dimaniskan dengan gula tambahan agar layak dinikmati. Sebagaimana ketika saya menyeruput matcha tanpa menambahkan sesendok gula. Pahit, tapi ritual inilah yang dilakukan dalam filsafat aliran Zen, yang memberikan ketenangan dan pemaknaan mendalam.
Orang sering menganggap aneh, beberapa mengatakan berlebihan, beberapa yang lain menyangka bahwa ini adalah upaya diet. Padahal tendensinya bukan ke sana, tapi pada pelajaran dan kebermanfaatan yang saya peroleh. Ternyata benar prinsip filsafat Stoikisme bahwa, penilaian orang lain bukanlah kontrol kita, tapi tubuh dan pikiran diri sendiri dapat berada di bawah kendali kita. Termasuk makanan yang dikonsumsi, gerak tubuh yang dilakukan untuk tetap sehat, dan perawatan badan, jiwa, serta pikiran.
Makan juga mengingatkan untuk belajar. Belajar disiplin, belajar menunda, belajar bersabar ketika masakan belum jadi, belajar membedakan lapar tubuh dan lapar mata.
Belajar bahwa kenikmatan sejati bukan pada banyaknya pilihan, tapi pada hadirnya kita saat makan. Mengunyah pelan. Merasakan teksturnya, dan merasakan ‘rasa’ yang bahkan tawar.
Ketika filsafat Barat sibuk bertanya tentang aapa itu kebaikan? Filsafat Timur menjawab lewat praktik, kebaikan dimulai dari apa yang masuk ke tubuh. Karena tubuh adalah rumah pertama kita. Kalau rumah itu kita isi tanpa filter, bagaimana pikiran bisa tenang?
Rupanya hal ini juga menjadi bagian dari tingkatan meditasi. Elizabeth Louisa Moresby dalam bukunya Sejarah Filsafat Timur menyinggung bahwa terdapat 3 tingkatan meditas. Pertama adalah tubuh, kedua isi benak dan intelektualitas, serta ketiga adalah Yang Absolut (Tuhan).
Saya tidak mengklaim bahwa ini pola yang paling benar. Saya hanya sedang berlatih dan kembali berbagi sebagaimana core values yang saya pegang, yaitu berbagi dan berkarya. Berlatih untuk tidak diperbudak iklan. Berlatih untuk tidak makan karena bosan. Berlatih untuk cukup.
Dan ternyata, berbagi juga bisa dimulai dari piring sendiri, setidaknya berbagi ruang untuk tubuh beristirahat. Berbagi waktu untuk pencernaan bekerja. Berbagi kesadaran bahwa saya tidak perlu semua hal untuk bisa utuh.
Makanan akhirnya bukan lagi soal rasa. Tapi ia jadi cermin. Cermin dari seberapa jujur kita pada diri sendiri, seberapa mampu kita menahan diri, dan seberapa damai kita dengan kata cukup.
Dan di dapur yang sederhana itu, setiap hari mengajak berkontemplasi hingga menuliskan filsafat. Terakhir, tidak ada yang benar-benar final, kita adalah musafir yang sedang berada dalam perjalanan panjang. Kembali saya terngiang perkataan Socrates, “Unixemened life is not worth living”, bahwa hidup yang tidak teruji adalah hidup yang tidak layak untuk dihidup. Maka ujilah hidupmu.

