Kolom
Filsafat yang Tidak Ditulis: Ketika Tubuh Mengajarkan Filsafat
Oleh: Andi Ulfa Wulandari
Berbagi dan berkarya. Dua kata itu yang saya pegang sejak lama, hingga akhirnya menjadi jawaban bahwa di situlah ikigai saya: alasan untuk bangun pagi, alasan untuk terus belajar, alasan untuk hadir sepenuhnya.
Hari ini pelajaran itu datang lagi. Bukan dari buku, melainkan dari matras.
Pada beberapa postur di yoga menuntut kita untuk bersabar, harus bertahan dalam beberapa menit dengan posisi yang sama. Tidak boleh bergeser. Tidak peduli nyaman atau tidak. Tidak peduli sakit atau tidak. Awalnya tubuh menolak. Lutut bergetar, paha terbakar, pikiran mulai berisik: “Berhenti. Pindah. Ini terlalu lama. Sakit”
Tapi justru di sanalah filsafat turun dari kepala ke tubuh, seakan meminta untuk menghidupkan teori-teori filsafat yang selama ini berjejer di antara halaman kertas, terutama jika dikaitkan dengan materi filsafat Timur. Filsafat Timur, memang tidak segamblang sistematika berpikir filsafat Barat, namun hingga hari ini saya meyakini bahwa kedalaman refleksi di filsafat Timur sangat jauh dari Barat. Di atas matras itu, saya dipaksa menenangkan pikiran yang bising, serta mengabaikan tubuh yang merasa kesakitan. Langit-langit ruangan yang saya tatap lamat-lamat juga ikut hening, sembari mendengarkan pesan halus yang berbisik di antara matras.
Pertama, rasa sakit itu sementara. Sesakit apapun, ia punya awal dan punya akhir. Ia tidak menetap. Ia bertamu, lalu pergi. Kedua, semakin ditolak, semakin kuat ia mencengkeram. Semakin fokus diarahkan ke sakit itu, semakin besar ia membesar. Karena rasa sakit dilipatgandakan oleh perlawanan.
Lalu apa yang bisa dilakukan? Cukup menyadari. Memindahkan perhatian pada napas. Masuk dan keluar. Tanpa menghakimi, dan tanpa berlari. Perlahan, yang tadinya musuh mulai melunak. Sakit itu memang masih ada, tapi kita tidak akan lagi tenggelam di dalamnya. Pada akhirnya kita dan rasa sakit akhirnya berdamai. Demikian juga rasa sakit yang timbul karena relasi dengan orang lain, dengan keluarga, pasangan, teman, dll.
Saya teringat perkataan Dee Lestari dalam sebuah podcast, bahwa salah satu keterampilan yang wajib dipelajari manusia adalah “belajar cara menderita”. Karena selain kematian, penderitaan adalah satu-satunya hal yang pasti dalam hidup. Kita tidak bisa menghapusnya. Tapi kita bisa belajar bagaimana memeluknya tanpa hancur. Refleksi ini juga membawa saya untuk kembali melirik seorang pemikir dengan keberanian dan wawasannya yang luas, Osho.
Osho pernah berkata, “Pain is inevitable, suffering is optional.” Rasa sakit memang tak terhindarkan, tapi penderitaan adalah pilihan. Penderitaan lahir ketika saya menolak apa yang sedang terjadi. Ketika saya bertarung dengan realitas. Di atas matras, saya berlatih untuk tidak bertarung. Saya berlatih untuk hadir, bahkan ketika saya belum mampu melakukan gerakan dengan sempurna.
Filsafat selama ini banyak ditemukan di atas kertas. Tentang ketabahan Stoik, tentang eksistensialisme, tentang yin dan yang, tentang jarak antara “saya” dan “reaksi saya”. Tapi, yoga membuat kita mempraktikkannya. Dengan keringat, dengan gemetar, dengan napas yang disadari.
Dunia di luar matras pun tidak jauh berbeda. Notifikasi tidak pernah berhenti. Semua orang seperti sedang berlomba. Di kantor, di keluarga, di organisasi, bahkan di pertemanan. Ada tolok ukur yang tak terlihat: siapa paling cepat, siapa paling berhasil, siapa paling terlihat. Rupanya ini juga yang menjadi titik temu mengapa saya hadir di atas matras, karena mengambil jeda di tengah dunia yang terus sibuk itu adalah kemegahan di zaman notifikasi.
Bahkan di dalam kelas yoga pun godaan itu terkadang muncul. Melihat orang lain dengan mudah masuk ke postur yang sulit. Melihat tubuh orang lain lentur, seimbang, tenang. Muncul bisikan kecil: “Tertinggal. Belum sempurna. Kurang baik.”
Di titik itu saya berhenti. Menarik napas. Mengingat kembali mengapa saya ada di ruangan itu.
Saya hadir bukan untuk terlihat bisa. Bukan untuk membuat orang lain terkesan. Bukan juga untuk mengalahkan siapapun di samping saya. Saya hadir untuk belajar. Belajar sesuatu yang baru. Belajar keterbatasan tubuh, dan yang paling penting adalah belajar menerapkan apa yang selama ini hanya saya baca di buku filsafat.
Mahatma Gandhi, seorang pemikir India, pernah menulis: “Be the change that you wish to see in the world”. Bagi saya, kalimat itu tidak hanya tentang aksi sosial. Lebih dari itu, juga tentang cara kita memperlakukan diri sendiri di saat tidak ada yang melihat. Apakah saya bisa menjadi orang yang lembut pada proses, bahkan ketika dunia menuntut hasil?
Di Zky Yoga, tempat yang saya pilih untuk berlatih, saya belajar bahwa kesempurnaan postur bukanlah tujuannya. Tujuannya adalah kejujuran dan ketenangan. Jujur pada batas tubuh hari ini. Jujur pada napas yang pendek. Jujur pada pikiran yang masih suka membandingkan. Sementara ketenangan adalah hal istimewa yang memang menjadi impian banyak orang yang datang ke tempat ini.
Filsafat memberi saya kerangka berpikir. Yoga memberi saya tempat untuk mengujinya. Buku memberi saya konsep. Matras memberi saya pengalaman, dan permasalahan hidup menambah jam terbang untuk lebih kebal. Saya tidak sedang mencari pencerahan. Saya sedang berlatih hadir; hadir saat sakit, hadir saat gagal, hadir saat ingin menyerah. Karena pada akhirnya, hidup memang tidak selalu nyaman. Akan selalu ada postur yang harus ditahan 10 menit. Akan selalu ada musim yang panjang dan melelahkan. Skill yang paling penting bukan menghindari sakit itu. Skill yang paling penting adalah: bagaimana tetap bernapas di tengahnya, bagaimana tetap memilih untuk tidak lari, bagaimana tetap percaya bahwa ini juga akan berlalu.
Berbagi dan berkarya. Termasuk berbagi kejujuran ini, bahwa saya pun masih belajar, bahwa saya pun masih terus berada di antara teori dan praktik. Dan mungkin, itulah bentuk filsafat yang paling jujur, yaitu filsafat yang dihidupi, bukan hanya dipikirkan

