Connect with us

Peristiwa

Ekspedisi Kebudayaan Islam di Tanah Luwu

Published

on

St. Kirani Divana Zahwa
Spread the love

Oleh: St. Kirani Divana Zahwa

(Siswi Kelas 8 SMP Alam Insan Kamil, Gowa)

 

Tanah Luwu dikenal dengan sejarah Islamnya yang begitu kuat dan kental. Tanah Luwu merupakan kerajaan Islam pertama dan tertua di Sulawesi Selatan. Tanah Luwu memiliki slogan: “Wanua Mappatuo Na Ewai Alena,” yang bermakna: “Negeri yang Hidup dan Berdiri di Atas Kaki Sendiri.” Slogan ini menggambarkan semangat kemandirian, keberdayaan masyarakat, dan keteguhan dalam menjaga jati diri serta membangun masa depan yang berkelanjutan. Baru-baru ini, saya beserta rombongan dari SMP Alam Insan Kamil berangkat dari Palopo menuju Luwu Utara untuk melakukan kunjungan edukasi ke makam Datuk Patimang serta Raja ke-15, La Patiware’.

Sekolah Alam Insan Kamil memiliki program khusus setiap tahun untuk melakukan ekspedisi ke berbagai wilayah, terutama yang berada di daerah Sulawesi Selatan. Karena untuk menelusuri sejarah kebudayaan Islam maupun tradisi lokal, akan lebih baik jika ditelusuri secara langsung agar bisa merasakan pengalaman yang berbeda.

Setiba di sana, kami langsung diarahkan menuju aula. Menurut cerita rakyat setempat, aula itu sering digunakan para raja untuk berbincang dan berdiskusi terkait pembahasan adat. Pemateri kami saat itu adalah Bapak Andi Sulo Lipu Sulthani. Beliau menceritakan konflik yang terjadi setelah La Patiware meninggal dunia, yaitu dua putra raja yang memperebutkan takhta. Karena warga sudah lelah dengan konflik antara kedua putra raja itu, mereka mencari jalan tengah melalui adat Sigajang, atau ‘baku tikam’.

Pada saat itu, kedua putra raja, Pati Raja dan Pati Pasaung, dipertemukan di aula yang di tengahnya terdapat tirai penghalang. Mereka bertanya, “Ada apa ini? Ada apa?” Warga sekitar mengatakan, “Kami sudah pusing dengan konflik kalian, kita selesaikan ini dengan adat Sigajang.” Warga sekitar menyuruh mereka untuk melakukan Sigajang agar adil. Maka, mereka pun menghunus keris dan melangkah maju. Langkah demi langkah mereka tetap maju. Namun, setelah berhadapan, keris mereka terjatuh dan mereka saling berpelukan.

Sang adik pun berkata, “Kamu saja yang menjadi raja, sebab engkau adalah kakakku, lebih tua dibanding saya.” Tetapi sang kakak menolak, seraya berkata, “Kamu saja yang jadi raja, Adik, sebab kamu yang dipilih secara adat dan engkau disukai banyak orang. Biarlah saya akan kembali ke tanah mertua kita di Gowa.” Setelah sang kakak sampai di Gowa, ia dijadikan raja di Gowa, yang dikenal sebagai Somba Opu.

Setelah Opu Sulo, atau Andi Sulo Lipu Sulthani, menceritakan kisah yang diturunkan secara turun-temurun itu, kami dari Sekolah Alam Insan Kamil langsung menuju ke makam Datuk Patimang. Di sanalah kami diberi penjelasan kembali: “Beliau adalah seorang ulama yang berperan penting dalam penyebaran agama Islam di Tanah Luwu.” Setelah diberi penjelasan, kami langsung diizinkan untuk membacakan Al-Fatihah untuk beliau.

Setelah semua selesai, kami mendapat kesempatan untuk mengirimkan doa bagi Datuk Patimang. Saya beserta rombongan pun langsung melanjutkan penelusuran ke makam Raja ke-15, La Patiware. “La Patiware, yang bergelar Petta Matinroe ri Ware Patimang, adalah raja pertama yang menerima agama Islam masuk ke Tanah Luwu pada abad ke-14 (XIV),” jelas Opu Sulo.

Yang menarik dalam perbincangan itu adalah batu pelindung makam La Patiware sama dengan batu yang digunakan untuk membangun Masjid Jami Tua Palopo, yaitu batu Cadas. Dan yang paling mengejutkan adalah terdapat batu nisan yang mana di atasnya terukir bunga matahari. Ternyata, ukiran bunga matahari itu merupakan lambang istana Luwu pada zaman dulu. Hal ini menunjukkan pentingnya mengabadikan sesuatu apalagi yang bernilai sejarah, karena semuanya tentu memiliki makna tersendiri.

Dari cerita Pati Raja dan Pati Pasaung, terdapat pelajaran berharga tentang kebijaksanaan untuk menjaga ikatan persaudaraan yang lebih erat. Hal lain yang tak kalah penting adalah peninggalan-peninggalan sejarah yang masih dipertahankan dan dijaga sampai saat ini, sehingga kami dan siapapun yang tertarik untuk menelusuri jejak Islam di Tanah Luwu sangat terbantu. Kami tidak hanya belajar tentang sejarah, tapi juga belajar tentang nilai-nilai hidup yang menjadi pegangan bagi masyarakat setempat, tentang betapa pentingnya kita memiliki prinsip dan menjunjung tinggi rasa persatuan.

Editor media warnasulsel.com - Portal media kiwari yang menyajikan berita lebih hangat berfokus berita pendidikan, sastra, buku dan literasi di sulawesi selatan

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *