Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel Berkolaborasi dengan Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulsel Menggelar Kegiatan Sastra Sabtu Sore Menghadirkan Penulis Buku Cerita Anak Madia S. Nura

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel kembali Berkolaborasi dengan Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulsel menggelar Sastra Sabtu Sore dengan tema “Yuk, Ngobrol Buku Anak dalam rangka Hari Buku Anak Sedunia” yang dilaksanakan di Taman Baca Masjid Ashabul Jannah Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel Jl. Sultan Alauddin Km. 7 Makassar, Sabtu (3/4/2021).

Kegiatan yang dikemas dalam bentuk talk show diselingi pementasan seni, lantunan lagu dan pembacaan puisi mulai dari penyair senior sampai anak-anak sekolah dasar calon penyair masa depan, menghadirkan narasumber Penulis Buku Cerita Anak sulawesi Selatan Madia S. Nura, dipandu moderator Shafira Devi Amorita, S.IP seorang pendongeng yang sarat dengan berbagai prestasi baik di tingkat Sulsel maupun di tingkat nasional, termasuk prestasi akademik lulusan terbaik FISIF Unhas Periode III Tahap I Tahun Akademik 2020/2021 dengan IPK 3,94 masa studi 3,5 tahun.

Beberapa tokoh seniman dan budayawan Sulsel, penyair, penulis, pegiat literasi, pendongeng, guru dan siswa turut memeriahkan kegiatan ini. Dintaraya Bachtiar Adnan Kusuma, Muhammad Amir Jaya, Idwar Anwar, Rusdin Tompo, Andi Asmar, Heru Pugumawan. Kegiatan ini juga dihadiri Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan diwakili Kepala UPT Perpustakaan Abd. Hadi bersama sejumlah pustskawan diantaranya Heri Rusmana, Safaruddin, Nazaruddin, Syamsir Alam, Arwadia dan Hamriati.

Ketua Harian Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulsel Yudhistira Sukatanya dalam sambutannya mengawali pelaksanaan kegiatan ini menyampaikan terima kasih kepada Kepala DPK Sulsel Moh. Hasan Sijaya yang telah memberi ruang dilaksanakannya kegiatan ini.

Menurutnya kegiatan Sastra Sabtu Sore kali ini dilaksanskan dalam rangka hari buku anak sedunia yang diperingati setiap tanggal 2 April. Kita butuh penulis cerita anak yang akan menghadirkan buku-buku bermutu untuk menggerakkan litersi di masa depan. Karena itu kegiatan ini menghadirkan penulis buku cerita ana berbakat Madia S. Nura yang akan berbagi tips dan menginspirasi lahirnya penulis buku anak berbasis cerita rakyat dan kearifan lokal Sulawslesi Selatan.

“Menulis buku cerita anak-anak sebenarnya bukan sesuatu yang saya sengaja awalnya,” ujar Madia mengawali perbincangannya pada kegiatan talk show tersebut.

“Saya berangkat dari penulis puisi, essay dan cerpen. Tapi pada akhirnya, setelah menjadi pendongeng dan tergabung dalam komunitas dongeng saya merasa kesulitan menemukan cerita-cerita baik di internet maupun di buku-buk yang bisa langsung diambil kemudian dituturkan begitu saja. Tidak banyak cerita rakyat atau cerita lokal yang bisa serta merta langsung dituturkan ke anak-anak tampa melalui proses editing agar mudah dicerna oleh anak-anak,“ tuturnya.

“Berangkat dari keinginan seperti itu kemudian dipertemukan oleh takdir dan nasib akhirnya mengikuti beberapa sayembara, yang akhirnya ada ilmu di dalamnya. Alhamdulillah, sampai hari ini sudah menuliskan tujuh buku cerita anak sejak tahun 2017,” imbuhnya.

Salah satu diantaranya buku yang berjudul Pung Julung-Julung (Kisah Persahabatan Manusia dan Ikan yang Mengharukan), yang pernah dijadikan rujukan dan didogengkan oleh Aqilah Nailatul Izzah, siswi SD Negeri Unggulan Monginsidi Makassar yang mengantarnya menjadi Jura I Lomba Bercerita tingkat Provinsi Sulawesi Selatan dan mewakili Sulawesi Selatan pada ajang lomba bercerita tingkat Nasional di Jakarta pada tahun 2018 lalu.

Bagi Madia, yang menyenangkan menurutnya dalam menulis cerita anak adalah ini kesempatan baginya untuk menempatkan diri sebagai anak-anak. Konon katanya, salah satu teknik untuk membuat cerita ini disenangi oleh anak-anak, kita harus berubah menjadi anak-anak dulu, supaya kita menggunakan sudut pandang mereka dan mengusahakan menggunakan kosa kata yang dimengerti oleh anak-anak itu.

“Saya juga selalu membayangkan bagaimana kelak kalau cerita ini saya tuturkan, bersama 32 pendongeng se Kota Makassar kami sering berkeliling keluar masuk lorong membawakan cerita dan buku-buku bersama Dinas Perpustakaan, yang selalu terbayang betapa senangnya anak-anak ini ketika menemukan bahwa oh… ternyata ada tokoh di Sulawesi Selatan yang punya perjalan untuk mencari tiga keping ringgit seumur hidupnya, oh… ternyata ada tokoh di Sulawesi Selatan yang bisa menyeberang ke pulau sebelah dengan naik buaya. Itu kan mereka tidak mengetahui itu, dan akhirnya mereka tahu tokoh-tokoh hebat ini bukan hanya ada di Disney, bukan hanya ada di film-film luar negeri. Tapi ternyata tokoh-tokoh hebat ini juga ada di Sulawesi Selatan,” paparnya.

Kegiatan talk show ini juga semakin menarik karena diseling dengan penampilan Lady Valeska Kristian seorang penyanyi cilik berbakat siswi kelas 6 SD yang kerap diundang mengisi acara pada beberapa even di Makassar, yang pada sore hari itu tampil menyanyikan dua bua langu, satu lagu Bugis berjudul Mappadendang dan satu lagu Makassar berjudul Oh Ammakku. Begitu juga dengan pembacaan puisi oleh Syahrir Patakaki Daeng Nassa berkolaborasi dengan 2 orang siswi dari SD

Pementasan lain yang juga memukau para tamu undangsn yang hadir dalam kegiatan itu adalah pembacaan piusi religi oleh Yudhistira Sukatanya bersama Istrinya Dewi Ritayana diiringi dengan musik tradisional yang unik dimainkan oleh tiga orang cucunya bersama dengan senima Basri B. Sila.

Kegiatan Sastra Sabtu Sore ini menurut Rusdin Tompo salah seorang penggagas kegiatan ini, adalah yang kedua kalinya dilaksanakan bekerjasama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel, dan masih akan terus dilaksanakan secara rutin termasuk pada bulan Ramadhan yang akan datang tentu saja menurutnya dengan Nuansa Religi.

Pada kesempatan itu, Kepala Seksi Layanan Perpustakaan Umum dan Multimedia Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel, Feby Primajanti, juga memperkenalkan keberadaan Layanan Perpustakaan Ibu dan Anak Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel dan mengundang para seniman, budayawan, penulis, pendongeng dan pegiat literasi untuk berkegiatan di Gedung Layanan Perpustakaan Ibu dan Anak yang pertama dan menjadi role model di Indonesia.* (naz)

Leave a Reply