Dialog Pengembangan Budaya dan Sejarah dalam Litersi Digelar di Perpustakaan Sejarah Bukit Tamalate Katangka Gowa

Sebagai bentuk perhatian generasi muda terhadap pelestarian nilai-niali sejarah dan budaya khususnya budaya lokal Sulawesi Selatan, Komunitas Pemerhati Sejarah (KPS) Bukit Tamalate, menggelar Dialog Awal Tahun dengan menghadirkan pelaku budaya maupun pegiat literasi di Perpustakaan Sejarah Bukit Tamalate, Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Minggu (17/01/2021).

Kegiatan mengusung tema “Adat dan Budaya Masa Lalu, Masa Kini dan Akan Datang dalam Literasi” ini menghadirkan narasumber Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sulsel Andi Syamsu Rijal,S.S., M.Hum, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Sulsel yang diwakili Kepala Seksi Pembinaan Perpustakaan Nilma, S.Sos.,M.M, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gowa Iqbal, S.Sos., M.Si, Maestro Sinrili dan Pelaku Budaya, Syarifuddin Tutu, Penulis Buku dan peneliti Lembaga Kajian Sejarah Budaya Sulsel Zainuddin Tika.

Pelaksanaan kegiatan ini tetap mengedepankan protokol kesehatan. Kegitana ini live melalui Facebook dan seluruh narasumber hadir langsung di lokasi, di Perpustakaan Sejarah Bukit Tamalate yang merupakan salah satu perpustakaan penerima manfaat replikasi mandiri program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di Sulawesi Selatan, dengan stimulan yang diberikan berupa buku,rak buku dan komputer pada tahun 2020 lalu.

Pengurus KPS Bukit Tamalate yang sekaligus sebagai pengelola perpustakaan ini, Arif Wangsa menjelaskan bahwa tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah sebagai bentuk perhatian generasi muda terhadap pelestarian nilai-nilai sajarah dan budaya yang kini semakin luntur ditelan zaman.

Dalam kegiatan tersebut, KPS Bukit Tamalate menampilkan beberapa tarian budaya Makassar di hadapan para narasumber dan membuat kagum para tamu undangan. Tarian yang ditampilak diantaranya Tari Gandrang Bulo dan Tari Mappadendang, yang dibawakan langsung anak umur 5 hingga 15 tahun yang dibina di perpustakaan ini.

Kegiatan dialog sejarah dan budaya ini mendapat apresiasi dari para narasumber. Kepala BPNB Sulsel Andi Syamsu Rijal merasa kagum dan bangga terhadap generasi muda di Katangka yang terus bergerak menularkan virus literasi maupun pelestarian budaya sejak dini. Iapun berharap KPS ini dapat bersinergi dengan BPNB dalam melakukan kegiatan pelestarian sejarah dan nilai budaya ini.

Apresiasi yang sama juga disampaikan Nilma dari DPK Sulsel, di mana generasi muda yang tegabung dalam KPS Bukit Tamalate ini telah melakukan berbagai kreativitas dan menjadikan perpustakaan sebagai tempat berkegiatan, termasuk kegiatan pelestarian sejarah dan budaya.

Menurutnya salah satu fungsi perpustakaan adalah fungsi pelestarian. Di perpustakaan inilah kita mengumpulkan karya budaya anak bangsa, melestarikan dan menyebarluaskannya agar bisa dinikmati oleh anak cucu kita di masa yang akan datang.

Ditegaskan juga bahwa perpustakaan saat ini telah bertransformasi, jadi bukan hanya sekadar tempat membaca dan meminjam buku semata, tetapi perpustakaan saat ini telah bertransformasi mejadi pusat kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi informasi dan komunikasi.

Apa yang dilakukan di Perpustakaan Sejarah Bukit Tamalate ini, menurutnya adalah bentuk implementasi kegiatan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Komunitas ini telah membina 3 kelompok tari yaitu Tari Ganrang Bulo, Tari Paraga dan Anggaru.

Menariknya, souvenir yang diberikan kepada narasumber dalam kegiatan dialog awal tahun ini, berupa miniatur Kapal Pinisi yang terbuat dari bahan olahan kertas yang bernilai seni dan budaya, itu dibuat sendiri oleh komunitas di perpustakaan yang berlokasi di area situs sejarah batu tallua ini.

“Kami tidak hanya membuat miniatur Kapal Pinisi, kami juga biasa membuat miniatur rumah adat Balla Lompoa dan juga miniatur Becak salah satu alat transportasi tradisional di Makassar,” jelas Arif Wangsa.

“Selain itu, kami juga mempromosikan kuliner khas Makassar seperti Songkolo dan Sarabba untuk mengangkat strata ekonomi masyarakat,” imbuhnya.

Semua kegiatan yang dilakukan itu adalah bagian dari upaya pelestarian budaya dan bentuk kegiatan pengembangan gerakan literasi untuk kesejahteraan. *(naz)

Leave a Reply