Kolom
Wajah Baru Feodalisme (Resistensi Feodal di Ranah Akademik)
Opini Andi Ulfa Wulandari
Mahasiswi Pemikiran Islam Pasca Sarjana UINAM, kepala SDIT Makassar Islamic School Baruga, dan founder AUW Institute.
Istilah feodalisme tidak akan pernah terlepas dari kolonialisme. Sementara itu di Indonesia, istilah feodalisme pada level lokal mengarah pada kalangan Ningrat (dalam suku Jawa), dan boleh dikata Karaeng dalam etnis Bugis.
Dahulu, feodalisme mencerminkan kondisi yang masih bersifat tradisional, dimana tuan tanah merupakan pelaku ekonomi yang mempunyai posisi tawar menawar yang relatif tinggi daripada pelaku ekonomi lain.
Sebenarnya feodalisme juga dapat diartikan sebagai suatu sistem sosial yang mengagung-agungkan jabatan atau pangkat, bukan mengagung-agungkan prestasi kerja.
Tidak ada yang lebih menarik untuk diperbincangkan selain persoalan politik, ekonomi, religi, cinta, dan pendidikan. Pergeseran zaman yang semakin modern ternyata tidak hanya mengubah pola pikir dan gaya hidup, tetapi juga mengubah bentuk feodalisme yang dulunya meliputi persoalan tuan tanah akhirnya meluas dan merambat hampir ke setiap sendi kehidupan sosial.
Saya menyebutnya dengan feodalisme modern, yang kerap kali saya gambarkan sebagai wajah baru dari feodalisme yang orientasinya adalah para akademisi beserta jajarannya.
Jika suatu bangsa dikatakan maju karena kualitas pendidikan serta aset generasi muda yang berkompeten lagi produktif, maka mari kita tengok kondisi bangsa kita hari ini.
Bagaimana integritas perguruan tinggi yang di dalamnya berkecimpung jiwa-jiwa muda? Apakah kampus sudah menjadi sentral edukasi dan wadah penampungan otak-otak kritis?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu menjelajah ke ranah aktivitas akademisi di perguruan tinggi.
Secara teoritik, pendidikan memang dikonsepkan untuk mencerdaskan dan mengikis kebodohan dalam diri manusia, dan dunia kampus diyakini sebagai tempat yang mampu melahirkan manusia-manusia tertarbiyah dengan deretan titel sebagai penunjang elektabilitas seseorang.
Dalam konsep kuasanya, Michel Foucault mengatakan bahwa penguasa memiliki kemampuan untuk memainkan peranan sosial yang penting dalam suatu kelompok atau masyarakat. Kekuasaan kerap kali diperbincangkan dalam wacana politik atau sosiologi politik, tetapi dalam hali ini kekuasaan dipahami sebagai kapasitas atau modal untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Memahami kekuasaan bukan dengan mengajukan pertanyaan apa kekuasaan itu atau siapa yang memiliki kekuasaan, dan atau dari mana kekuasaan itu bersumber. Tetapi memahami kekuasaan harus didekati dengan mengajukan pertanyaan bagaimana kekuasaan beroperasi, atau dengan cara apa kekuasaan itu dioperasikan.
Kekuasaan bagi Foucault dipandang sebagai sesuatu yang dimiliki oleh individu atau kelompok untuk mengontrol orang lain. Sebagai duri dalam demokrasi, feodalisme saat ini bukan lagi kepatuhan dan ketundukan kepada Karaeng, bukan lagi sistem monopoli tanah dan perdagangan, melainkan beralih menjadi monopoli keabsahan.
Wajah lain dari feodalisme di ranah kampus dapat juga ditemukan di ruang-ruang birokrasi, maupun dalam organisasi. Sistem senioritas yang mengakar kuat menjadikan mahasiswa bergelar “BuKan” alias Budak Kakanda. Senior memiliki kuasa untuk memerintah junior sesuka hati, dan hal ini rupanya telah menjadi budaya yang mengakar kuat, yang berujung pada rasa ingin balas dendam dan melemahkan mental junior.
Relasi antara dosen dan mahasiswa juga tidak lagi bersifat egaliter, sehingga akademisi yang memanfaatkan hierarki birokratik terkesan menghalangi persaingan pikiran, dan ini merupakan agen kolonial masa kini. Menghormati yang tua harus berbanding lurus dengan mengayomi yang muda, sama halnya jelas berbeda antara bermanfaat dan dimanfaatkan.
Dalam karyanya yang berjudul Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer menciptakan tokoh Minke sebagai manusia terdidik yang anti terhadap feodalisme Jawa saat itu.
Minke menyesali setiap adegan membungkuk yang telah diwariskan oleh leluhurnya. Sebenarnya, ini merupakan salah satu bentuk kritik terhadap feodalisme yang berusaha dibangun oleh Pramoedya melalui jemarinya yang campin. Tetapi tidak banyak pemuda yang mampu bersikap kritis karena alasan takut. Maka benarlah yang dikatakan Foucault, bahwa “The knowledge is power”, faktanya seorang raja berkuasa menetapkan aturan bagi warganya. Seorang wartawan bebas men-framing berita sesukanya, birokrat dapat menjadikan masyarakat seperti bola pimpong dengan mudahnya, dan seorang dosen leluasa mengerjai mahasiswa sepuasnya.
*Andi Ulfa Wulandari, kelahiran Toari Kolaka, 15 Juni 1998 merupakan mahasiswi Pemikiran Islam Pasca Sarjana UINAM, kepala SDIT Makassar Islamic School Baruga, dan founder AUW Institute.
IG : @andiulfawulandari
WA : 082296075229

