Connect with us

Kolom

Pengaruh Broken Home Terhadap Perkembangan Intelektual dan Psikologis Anak

Published

on

Spread the love

Oleh: Rasmi

Pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan intelektual maupun psikologis seorang anak sebagian besar dipengaruhi oleh lingkungan keluarga atau orang tua.

Hal ini disebabkan karena orang tua merupakan guru pertama dan yang paling utama bagi seorang anak. Orang tua memiliki peran yang sangat besar terhadap bagaimana seorang anak kedepannya, baik dari segi fisik, intelektual, kepribadian atau karakter, dan moral.

Maka dari itu, jika dalam keluarga mengalami masalah atau keretakan hubungan antara orang tua hingga terjadi broken home, anaklah yang akan terkena dampaknya.

Broken home merupakan sistem dalam rumah tangga orang tua tunggal. Broken home terjadi karena kondisi keluarga tidak lagi utuh disebabkan perceraian atau salah satu orang tua meninggal.

Dalam hal ini, tidak hanya perasaan suami atau istri yang terluka, namun anak-anak juga mengalami kekecewaan dan kehancuran. Tidak ada lagi rasa hangat yang mereka rasakan, yang tersisa hanya rasa takut dan rasa benci tehadap orang tuanya.

Broken home tentunya sangat berdampak pada anak, mereka tidak memperoleh pendidikan secara maksimal atau bahkan putus sekolah.

Anak broken home cenderung merasa stres karena permasalahan keluarganya. Saat mengalami sres, tubuh akan berusaha mengatur stres tersebut melalui pelepasan hormon yang melewati tubuh.

Namun, efek dari respon stres biologis yang berkepanjangan sangat berpengaruh perkembangan koneksi otak yang diperlukan.

Teori stres toksik menyatakan bahwa stres dapat mengubah atau merusak pembentukan sirkuit otak dan cenderung menghasilkan otak yang kecil pada anak kecil, sehingga perkembangan intelektual anak mengalami masalah.

Faktor lain yang mempengaruhi perkembangan intelektual anak adalah motivasi. Pada dasarnya, seorang anak membutuhkan motivasi yang mampu memicu semangatnya dalam belajar.

Namun, anak broken home tentunya tidak memperoleh itu dari orang tuanya. Hal ini akan mengakibatkan anak merasa malas untuk belajar maupun mengenal hal-hal baru, sehingga kecerdasannya hanya tertanam dan tidak mengalami perkembangan. Anak akan mencari pelampiasan dan tidak tertarik lagi untuk belajar.

Selanjutnya dari segi psikologis, anak yang tumbuh dan berkembang dalam keluarga broken home akan mengalami perubahan sikap. Anak akan selalu merasa tidak percaya diri.

Ketidak percayaan diri yang muncul merupakan konsekuensi kondisi yang berbeda daripada umumnya. Hal ini membuat anak memiliki pribadi yang pendiam dan menutup diri dari lingkungannya.

Seorang anak broken home juga akan sering membandingkan dirinya dengan teman sebayanya, terkait kehidupan yang mereka jalani. Kecenderungan anak dalam membandingkan dirinya dengan teman-temannya merupakan hal yang wajar.

Akan tetapi, jika tidak mampu dikelola dengan baik maka akan menimbulkan dampak negatif seperti merasa bodoh, memiliki rasa iri yang berlebihan, perasaan benci dan dengki, serta merasa minder.

Anak-anak juga biasanya menunjukkan gejala kecemasan, mereka mulai memiliki ketakutan (paranoid) atau bahkan mimpi buruk.

Berdasarkan permasalahan yang terjadi pada anak broken home, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah dan meminimalisir dampaknya:

  • dengan mempersiapkan mental anak dalam menghadapi perceraian orang tuanya,
  • menghindari pertikaian di depan anak,
  • membangun hubungan dan komunikasi yang baik dengan keluarga, dan
  • meluangkan waktu untuk menemani anak bermain atau liburan bersama,
  • mengajak anak untuk mendekatkan diri kepada Tuhan,
  • melakukan co-parenting atau orang tua tetap membesarkan anak bersama-sama,
  • tidak membohongi anak,
  • memberikan perhatian lebih, dan
  • mengajak anak berempati pada orang lain.

 

*Rasmi, lahir di Bone pada 6 Juni 2001. Memiliki hobi membaca dan membuat cerpen. Sekarang, tengah menempuh pendidikan S1 semester 6 di Universitas Negeri Makassar. Pengalaman organisasi sebagai wakil ketua Palang Merah Remaja (2018-2019), pengurus Osis (2018-2019), anggota Rohis (2018-2019), Pengurus Organisasi Dakwah Fakultas (2022).

Editor media warnasulsel.com - Portal media kiwari yang menyajikan berita lebih hangat berfokus berita pendidikan, sastra, buku dan literasi di sulawesi selatan

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *