Kampus
Tim Dosen UNM Perkuat Komunikasi Keluarga dan Kesejahteraan Psikososial Orang Tua Migran Indonesia di Kuala Lumpur
WARNASULSEL.com – Kuala Lumpur – Tim dosen Universitas Negeri Makassar (UNM) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Penguatan Komunikasi Keluarga Transnasional dan Kesejahteraan Psikososial Orangtua Migran Indonesia di Kuala Lumpur.”
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Kemitraan Masyarakat (PKM) PNBP Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Makassar Tahun 2026.
Kegiatan dilaksanakan pada Kamis, 4 Juni 2026 di UTBM, Malaysia, dengan melibatkan orang tua migran Indonesia yang berada di Kuala Lumpur. Program ini dirancang untuk memberikan penguatan kepada orang tua dalam membangun komunikasi keluarga yang lebih dialogis sekaligus menjaga kesejahteraan psikososial di tengah berbagai tantangan kehidupan sebagai keluarga migran.
Tim pengabdian diketuai oleh Dr. A. Octamaya Tenri Awaru, S.Pd., M.Pd., dengan anggota Muhammad Nur, S.Sos., M.Pd. dan Rahmi Juwita, M.Pd. Kegiatan ini juga melibatkan dua mahasiswa, yakni Revalini Eka Widiyawati dan Soraya, sebagai bagian dari tim pelaksana.
Kegiatan ini berangkat dari kenyataan bahwa kehidupan sebagai keluarga migran menghadirkan tantangan tersendiri dalam menjaga hubungan antara orang tua dan anak. Kesibukan bekerja, keterbatasan waktu bersama keluarga, kelelahan, serta tekanan kehidupan sehari-hari dapat memengaruhi cara orang tua berkomunikasi dan membangun kedekatan dengan anak.
Ketua tim pengabdian, A. Octamaya Tenri Awaru, menjelaskan bahwa kehadiran orang tua dalam keluarga tidak cukup hanya dipahami sebagai kehadiran secara fisik. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana orang tua mampu hadir secara emosional dalam kehidupan anak.
“Anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang hadir secara fisik, tetapi juga hadir secara emosional. Artinya, orang tua perlu menyediakan waktu untuk mendengarkan, memahami perasaan anak, memberikan ruang untuk berbicara, dan merespons anak dengan empati. Dalam keluarga migran yang menghadapi kesibukan dan berbagai tekanan pekerjaan, kualitas komunikasi menjadi sangat penting untuk menjaga kedekatan orang tua dan anak,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, peserta memperoleh materi mengenai dinamika keluarga transnasional, tantangan orang tua migran, ketidakhadiran emosional dalam keluarga, komunikasi dialogis, active listening, quality time, pengelolaan stres, serta kolaborasi peran ayah dan ibu dalam pengasuhan. Materi disampaikan melalui pendekatan partisipatif dengan memadukan penyampaian materi, diskusi, tanya jawab, dan refleksi pengalaman pengasuhan.
Suasana kegiatan berlangsung interaktif karena peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga berbagi pengalaman mengenai persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan keluarga. Berbagai pengalaman terkait kesibukan bekerja, keterbatasan waktu bersama anak, pola komunikasi, hingga pengelolaan emosi menjadi bagian dari diskusi. Dengan cara tersebut, materi yang diberikan tidak berhenti pada konsep, tetapi langsung dikaitkan dengan pengalaman nyata peserta sebagai orang tua migran.
Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya kualitas komunikasi dalam mempertahankan kedekatan antara orang tua dan anak. Peserta semakin memahami bahwa membangun hubungan dengan anak membutuhkan kemampuan mendengarkan, memahami perasaan anak, memberikan ruang untuk berdialog, dan merespons anak secara empatik. Mereka juga mendapatkan keterampilan praktis mengenai penerapan active listening dan membangun quality time di tengah keterbatasan waktu yang dimiliki.
Aspek lain yang mendapat perhatian adalah kesejahteraan psikososial orang tua. Peserta diajak memahami bahwa tekanan pekerjaan, kelelahan, dan stres dapat terbawa ke dalam kehidupan keluarga dan memengaruhi cara mereka berkomunikasi dengan anak. Karena itu, kemampuan mengelola emosi menjadi bagian penting dalam membangun pola pengasuhan yang lebih sehat, terbuka, dan suportif.
“Kadang-kadang persoalannya bukan karena orang tua tidak menyayangi anak, tetapi karena kelelahan dan tekanan pekerjaan membuat cara kita berkomunikasi menjadi berbeda. Karena itu, orang tua juga perlu menjaga kondisi psikososialnya agar mampu membangun komunikasi yang sehat dengan anak,” ujar A. Octamaya.
Salah satu capaian penting dari kegiatan ini adalah penyusunan Family Action Plan oleh peserta. Rencana aksi tersebut menjadi bentuk komitmen orang tua untuk membawa hasil pelatihan ke dalam kehidupan keluarga sehari-hari. Peserta merumuskan langkah-langkah sederhana, seperti menyediakan waktu khusus untuk berkomunikasi dengan anak, menerapkan active listening, membangun quality time, mengelola emosi ketika berinteraksi dengan anak, serta membiasakan komunikasi dua arah.
Program pengabdian ini juga dirancang agar tidak berhenti pada kegiatan tatap muka. Tahap selanjutnya diarahkan pada pendampingan dan evaluasi melalui media komunikasi daring. Pendampingan difokuskan pada empat praktik utama, yaitu komunikasi dialogis, active listening, quality time, dan pengelolaan emosi orang tua. Peserta didorong untuk merefleksikan perubahan yang telah dilakukan sekaligus menyampaikan kendala yang masih mereka hadapi ketika menerapkan keterampilan tersebut dalam kehidupan keluarga.
Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya untuk membangun keberlanjutan program. Family Action Plan diharapkan dapat digunakan secara mandiri oleh setiap keluarga untuk mempertahankan perubahan praktik komunikasi setelah program selesai. Jejaring komunikasi antarpeserta juga diharapkan berkembang menjadi ruang untuk saling berbagi pengalaman dan memberikan dukungan sosial sesama keluarga migran Indonesia. Pengalaman dari program ini selanjutnya dapat menjadi dasar bagi pengembangan dan replikasi kegiatan serupa pada komunitas migran Indonesia lainnya.
Tim pengabdian menyampaikan terima kasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Negeri Makassar (UNM) atas dukungan dan fasilitasi yang diberikan dalam pelaksanaan program pengabdian ini. Apresiasi juga disampaikan kepada mitra, para orang tua migran Indonesia di Kuala Lumpur, serta seluruh pihak yang telah membantu dan berpartisipasi dalam pelaksanaan kegiatan.
Menurut A. Octamaya, keberhasilan sebuah program pengabdian tidak hanya diukur dari terlaksananya kegiatan, tetapi terutama dari sejauh mana pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat terus digunakan oleh masyarakat setelah kegiatan berakhir.
“Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti pada pertemuan yang telah dilaksanakan. Yang lebih penting adalah bagaimana orang tua dapat membawa apa yang diperoleh dalam kegiatan ini ke dalam kehidupan keluarga sehari-hari. Keluarga boleh menghadapi jarak, kesibukan, dan berbagai tekanan kehidupan sebagai migran, tetapi jangan sampai kondisi tersebut menciptakan jarak emosional antara orang tua dan anak. Komunikasi yang sehat adalah salah satu cara untuk menjaga keluarga tetap dekat dan saling terhubung,” tutupnya.
Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan oleh tim yang diketuai Dr. A. Octamaya Tenri Awaru bersama Muhammad Nur dan Rahmi Juwita sebagai bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Makassar.

