Connect with us

Sastra

JEJAK MERANTAU DI ANTARA SARAWAK-SABAH DAN KALIMANTAN

Published

on

Spread the love

Oleh: Rosmayasari

Angin sore menyapu lembut halaman rumah, membawa aroma tanah basah yang selalu membuatku ingat pada satu hal: Sawit. Entah bagaimana, pohon-pohon tinggi berdaun rimbun itu seperti melekat pada garis hidup keluargaku. Sejak aku kecil, sejak pertama kali aku bisa mengingat cerita-cerita masa lalu yang diucapkan dengan suara serak seorang kakek yang menua oleh kerja keras, sawit selalu hadir. Sawit, dan luka-luka yang ia tinggalkan.

Kakek dan nenekku adalah bagian dari rombongan pertama yang menembus perbatasan Sarawak–Sabah, Malaysia. Mereka pergi tanpa paspor, hanya bermodalkan tekad dan perut yang tak boleh dibiarkan kosong. Kata mereka, waktu itu tidak ada pilihan lain. Bisa dikatakan waktu itu mereka merupakan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) “Ilegal”. Dimana pada waktu itu kondisi Indonesia sedang berada dalam masa sulit, dan di koran berisi kekacauan dimana-mana, dan di layer televisi hanya ada wajah Presiden Soeharto yang tersenyum-senyum yang tidak pernah benar-benar menyentuh hidup orang kecil seperti mereka.

“Dulu…”, kata kakek suatu malam, sambil mengunyah menyeruput kopi hangat di tangannya, “ada istilah perantau ketika pulang kampung bisa membawa “uang satu karung”. Mereka menggambarkan betapa banyaknya uang yang diperoleh dari gaji mereka dibandingkan pendapat yang bisa didapatkan di negeri sendiri. Tapi itu cuma mimpi bagi orang yang tidak pandai mengatur hidup.” Ia tertawa pahit waktu itu. Aku masih SD, belum paham arti getir dalam tawa tuanya.

Aku masih ingat waktu itu, sebab aku lahir di sana. Masa kecilku hingga usia 6 tahun menikmati hari-hari bersama keluargaku dan aku ingat ketika tiba waktu gajian yang membawa kebahagian bagi para pekerja TKI. Aku kecil, berdiri di ujung meja kantor perkebunan, memegang tangan nenek. Meraka berbaris panjang, mata penuh lelah, bajunya dipenuhi debu kebun. Mereka datang dari Sulawesi, NTT, NTB, Papua orang-orang tangguh dari timur. Orang bilang, “orang timur itu keras.” Padahal, yang kulihat hanya mereka yang mengeras karena keadaan.

Sebagian besar adalah Bugis-Makassar. Mereka merantau seperti air laut yang selalu mencari pantai baru. Bahkan sampai sekarang, banyak dari mereka yang memilih menjadi warga Malaysia. “Lebih sejahtera,” kata mereka. Aku tidak bisa menyalahkan siapa pun.

Darahku, rupanya, sudah tercetak dengan aroma sawit sejak generasi sebelum aku lahir. Kakek-nenekku menembus hutan rimba pada tahun 80-an untuk memasang pondok sementara, makan apa saja yang ada, tidur di tanah lembap, hanya demi sesuap nasi. Dan ketika aku besar sedikit, aku sadar bahwa perjuangan itu tak berhenti di situ. Sebab keluarga kecilku pun harus ikut menanggungnya.

Aku tumbuh dengan separuh keluargaku berada jauh di negeri orang. Sejak SD, aku ditinggal. Mereka merantau, terus bekerja, terus kembali ke ladang sawit. Waktu berjalan tiga puluh tahun, empat puluh tahun dan sawit tetap menjadi alasan kenapa rumahku selalu sepi.

Kadang aku bertanya dalam hati, “Apa yang salah dengan negeri ini, sampai orang-orang seperti keluargaku harus mempertaruhkan hidup di tanah asing?” Dan pertanyaan itu selalu menggantung, tidak pernah benar-benar menemukan jawabannya.

Beberapa kerabat berhasil. Mereka pulang membawa modal, membuka usaha kecil. Tapi sebagian lain terus merantau, terus bergantung pada perusahaan-perusahaan sawit Malaysia yang hidup dari keringat mereka. Kini giliran ayahku. Ayah telah merantau lebih dari tiga dekade, menyaksikan daun-daun sawit tumbuh dan gugur sepanjang hidupnya. Dan kini, untuk pertama kalinya, ia pulang bukan untuk beristirahat melainkan untuk mencoba peruntungan baru.

Ayah membawa keluarganya ke Kalimantan, memulai dari nol, membuka lahan sendiri. Bukan perusahaan besar, bukan tanah warisan; hanya sebidang lahan sederhana dan pengalaman yang sangat panjang. Ayah bilang ia sudah terlalu tua untuk terus menjadi buruh. Saatnya mencoba menjadi tuan di tanah sendiri, walau kecil.

Ada satu hal yang tidak pernah hilang dari ingatanku ucapan ayah yang selalu ia ulang saat aku mengeluh tentang hidup. “Teruslah berusaha. Jangan berhenti. Mungkin kamu belum punya uang, tapi kamu punya tenaga dan kemauan. Itu kekayaanmu. Rezeki datang dari Allah. Lebih baik dibuang di rantau orang daripada hidup dari belas kasihan di kampung sendiri.” Dan kalimat itu, entah mengapa, selalu membuat dadaku sesak. Sesak karena aku tahu, ucapan itu lahir dari hidup yang sangat keras.

Kini, ketika aku memandang ladang sawit ayah yang baru ia buka di Kalimantan, aku seperti melihat tiga generasi berdiri di sana kakek, nenek, ayah, dan semua luka yang tidak pernah mereka ceritakan dengan tuntas. Seandainya sawit bisa berbicara, mungkin ia akan menangis.

Karena terlalu banyak cerita manusia yang tertinggal di batang dan pelepahnya. Cerita tentang kehilangan, perjuangan, dan harapan-harapan kecil yang terus dimasak dengan air mata.

Aku hanya berharap, perjalanan panjang keluarga kami tidak sia-sia. Bahwa suatu hari nanti, anak-anak kami tidak lagi harus merantau dengan cara yang sama tanpa paspor, tanpa arah, hanya dengan mimpi yang dipaksa hidup. Mungkin, suatu hari nanti, sawit tidak lagi menjadi simbol luka dalam keluarga kami. Melainkan simbol tentang keberanian untuk bertahan hidup.

Hidup mungkin membawa kita jauh dari rumah, memaksa kita menembus hutan, menahan lapar, bahkan kehilangan keluarga demi bertahan hidup. Namun perjuangan tidak pernah sia-sia selama kita melangkah dengan ketulusan dan kejujuran.

Merantau bukan hanya tentang mencari uang, tetapi tentang membentuk karakter:

keteguhan, kerja keras, dan keberanian untuk bangkit meskipun jatuh berkali-kali. Dan pada akhirnya, kita akan menyadari bahwa yang membuat seseorang “kaya” bukanlah jumlah uang yang dibawa pulang, melainkan nilai hidup yang terus digenggam selama jiwa raga masih bernapas.