Connect with us

Peristiwa

Dari ‘Struk Belanja’ ke ‘Portofolio Investasi’: Merombak APBN untuk Masa Depan Bangsa

Published

on

AInun Jariah
Spread the love

Oleh : Ainun Jariah

 

Pada suatu siang di sekolah, guru-guru heboh dengan notif mobile banking mereka. Sertifikasi guru telah masuk. Saya sedikit merenung. Apakah saya tidak bahagia? tentu saja saya merasa senang. Itu sudah pasti. Kita semua tahu rasanya gajian. Ada kepuasan instan saat uang masuk. Tetapi kepuasan itu seringkali menguap cepat karena habis untuk membayar cicilan, kebutuhan bulanan, dan jajan.

Bagaimana dengan pendapatan negara kita? Tidak jauh berbeda. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah modal besar negara. Uang rakyat yang dikelola pemerintah. Pertanyaannya, apakah “gaji” ini habis untuk konsumsi instan, ataukah kita sedang menanamnya sebagai modal untuk masa depan? Ini adalah inti dari masalah di negara tercinta. Kita sering terjebak dalam siklus belanja rutin yang besar. Kita terjebak dengan kebiasaan “jajan” fiskal yang tidak menghasilkan nilai tambah yang signifikan bagi masa depan bangsa.

Mari kita lihat riwayat belanja negara. Setiap tahun, porsi terbesar APBN kita dialokasikan ke hal-hal yang sifatnya langsung habis. Mengutip data dari Kementerian Keuangan, dalam beberapa tahun terakhir, porsi belanja yang bersifat rigid atau terikat (misalnya, pembayaran utang, transfer daerah yang besar, dan belanja operasional rutin) seringkali mendominasi. Sementara itu, ruang untuk belanja modal yaitu investasi yang menciptakan aset dan meningkatkan kapasitas ekonomi (seperti membangun jalan tol, sekolah baru, atau fasilitas riset) sering kali terhimpit.

Jika kita ingin naik level dari negara berkembang menjadi negara maju, kita harus memperbaiki mindset ini. APBN harus dilihat sebagai Portofolio Investasi Bangsa. Fokusnya harus bergeser dari “pengeluaran” menjadi “daya ungkit” (leverage).

  1. Prioritas Investasi SDM (Sumber Daya Manusia) 

Pengembangan sumber daya manusia memiliki tujuan agar manusia dapat meningkatkan keterampilan, kompetensi dan kualitas diri. Investasi SDM adalah investasi dengan Return on Investment (ROI) tertinggi. Namun, dilansir dari halaman kompas.com Indonesia turun ke posisi 53 dalam Word Talen Ranking 2025 yang dirilis oleh International Institute for management Development (IMD). Posisi ini turun tujuh peringkat dari tahun lalu di urutan 46. Ini menjadi PR besar untuk pemerintah. Dengan mengalokasikan secara tepat anggaran pendidikan untuk kegiatan pengembangan skill dan pendidikan. Anggaran pendidikan kita, yang secara konstitusi minimal 20% dari total belanja, harus benar-benar fokus pada peningkatan kualitas, bukan sekadar operasional rutin.

Alih-alih hanya membangun gedung, uang harus didorong ke pelatihan vokasi yang relevan dengan kebutuhan industri 4.0, penelitian ilmiah, dan beasiswa untuk bidang-bidang strategis (AI, energi terbarukan, bioteknologi). Ini adalah modal intelektual bangsa yang tidak akan pernah lekang.

  1. Memperbanyak Investasi yang Berkelanjutan (Green Infrastructure)

Investasi infrastruktur tetap penting, tetapi harus cerdas. Kita harus berinvestasi pada infrastruktur yang meningkatkan produktivitas dan berkelanjutan. Contoh kecil yang telah dilakukan yaitu Investasi pada pembangkit listrik energi terbarukan dan transportasi publik ramah lingkungan. Ini bukan hanya baik untuk planet, tapi juga mengurangi ketergantungan kita pada impor energi fosil yang mahal. Seperti yang telah dilakukan di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan yaitu PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu). Proyek berkelanjutan seperti inilah yang dapat membantu negara berkembang.

Dalam hal ini kita bisa belajar dari negara Denmark yang berani berinvestasi tinggi pada energi terbarukan. Mengutip dari halaman Our World in data, Negara ini banyak memanfaatkan tenaga angin untuk menghasilkan listrik. Pada tahun 2023 hampir 60% listrik di Negara Denmark berasal dari tenaga angin. Negara ini juga terkenal dengan pengembangan infastruktur pertanian yang berkelanjutan.  Finlandia dan Swedia juga merupakan negara yang dapat kita contoh dalam pembangunan berkelanjutannya dalam proyek-proyek  yang menghemat sumber daya alam dan menjaga lingkungan.

  1. Reformasi Subsidi yang Berani 

Dalam jurnal penelitian ilmu-ilmu sosial yang ditulis oleh Dekha dkk 2025. Adanya ketidak merataan dalam penyaluran bantuan sosial di Indonesia. Hal ini disebabkan karena ketidakmerataan data penerima, kurangnya sosialisasi dari pemerintah kepada masyarakat, lemahnya mekanisme pengawasan, serta kurangnya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.

Pemerintah harus berani melakukan reformasi subsidi secara bertahap, mengalihkannya dari subsidi yang tidak tepat sasaran (yang dinikmati orang kaya) menjadi Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang terarah dan Investasi Infrastruktur Publik.

Setiap rupiah yang diselamatkan dari subsidi konsumtif, harus di-earmark (ditandai) secara khusus untuk proyek modal yang dampaknya terasa hingga 10-20 tahun ke depan.

Masa Depan yang Kita Bayar

Jika kita terus menghabiskan “gaji” negara untuk konsumsi instan, kita hanya akan tetap berada di tempat. Kita akan terus sibuk membayar pengeluaran rutin hari ini, sementara potensi masa depan kita tergerus oleh kualitas SDM yang stagnan dan infrastruktur yang tertinggal.

Maka, merombak APBN dari sekadar Struk Belanja menjadi Portofolio Investasi adalah keharusan. Ini bukan hanya tentang angka-angka di neraca, tetapi tentang keberanian politik untuk menolak kepuasan instan dan memilih jalan yang lebih sulit: berinvestasi untuk menciptakan Modal Pembangunan Bangsa yang akan dinikmati oleh anak cucu kita. Saatnya berhenti jajan, dan mulai membangun.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *