Kolom
Peranan Ikatan Pustakawan Indonesia dalam Mendukung Peningkatan Budaya dan Kecakapan Literasi Masyarakat di Era AI
Oleh: Nazaruddin, S.Ag., M.Sos.I.
Pustakawan Madya pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan
Perkembangan teknologi informasi yang pesat telah menghadirkan era baru, yaitu Era Artificial Intelligence (AI), di mana hampir semua aspek kehidupan masyarakat dipengaruhi oleh kecerdasan buatan. Transformasi ini membawa peluang besar, sekaligus tantangan baru bagi dunia literasi. Di satu sisi, AI mempermudah akses informasi, memperkaya sumber belajar, dan membantu efisiensi kerja. Namun, di sisi lain, arus informasi yang deras berpotensi menimbulkan misinformasi, kesenjangan digital, hingga menurunnya daya kritis masyarakat.
Dalam konteks inilah, Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) memiliki peran strategis sebagai wadah profesi pustakawan untuk mendukung peningkatan budaya dan kecakapan literasi masyarakat. Pustakawan tidak lagi sekadar penjaga koleksi, tetapi agen perubahan yang membekali masyarakat dengan keterampilan literasi baru agar mampu beradaptasi di era digital dan AI.
Peranan Strategis IPI
- Penguatan Kompetensi Pustakawan, IPI berperan mengembangkan kompetensi pustakawan agar mampu memanfaatkan teknologi AI dalam pelayanan perpustakaan. Misalnya, penggunaan chatbot berbasis AI untuk layanan informasi, sistem rekomendasi koleksi, serta analisis data pengguna untuk mengoptimalkan program literasi. Dengan peningkatan kapasitas ini, pustakawan dapat mendampingi masyarakat secara lebih efektif.
- Advokasi Budaya Literasi, IPI menjadi garda depan dalam mendorong kebijakan dan program pemerintah terkait literasi. Melalui seminar, lokakarya, dan kampanye literasi, IPI memastikan bahwa masyarakat tidak hanya sekadar mampu membaca, tetapi juga memiliki keterampilan literasi digital, literasi data, dan literasi informasi yang krusial di era AI.
- Inovasi Program Literasi Berbasis Inklusi Sosial, Perpustakaan saat ini diposisikan sebagai pusat belajar masyarakat (community learning center). IPI mendorong pustakawan untuk merancang program literasi inklusif, seperti pelatihan keterampilan digital, kelas literasi finansial, hingga pendampingan UMKM dengan pemanfaatan teknologi. Program ini menjadikan literasi relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat.
- Kolaborasi dengan Pemangku Kepentingan, Dalam mendukung budaya literasi, IPI menjalin sinergi dengan lembaga pendidikan, komunitas literasi, pemerintah daerah, serta mitra internasional. Kolaborasi ini membuka ruang lebih luas untuk berbagi praktik baik, mengakses sumber daya, dan mempercepat penyebaran literasi berbasis AI.
- Menanamkan Etika Informasi di Era AI, Tantangan terbesar di era AI adalah banjir informasi yang tidak selalu valid. IPI melalui pustakawan berperan penting menanamkan etika informasiākemampuan memilah, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi secara bijak. Hal ini memastikan literasi tidak hanya berhenti pada kemampuan teknis, tetapi juga mengakar pada sikap kritis, etis, dan bertanggung jawab.
Tantangan yang Dihadapi
Meski memiliki peran penting, IPI juga dihadapkan pada berbagai tantangan, antara lain:
- Kesenjangan digital antarwilayah.
- Rendahnya minat baca di sebagian masyarakat.
- Terbatasnya anggaran dan fasilitas perpustakaan.
- Perluasan literasi ke ranah baru seperti literasi AI, literasi media, dan literasi digital.
Tantangan tersebut menuntut IPI untuk terus beradaptasi, memperkuat kapasitas organisasi, dan memperluas jaringan kerja sama.
Dengan demikian, di era AI, literasi tidak lagi terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi mencakup kecakapan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan etis dalam menggunakan teknologi. Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) memiliki peranan sentral dalam menyiapkan masyarakat menghadapi tantangan ini melalui penguatan kompetensi pustakawan, advokasi budaya literasi, inovasi program berbasis inklusi sosial, serta kolaborasi lintas sektor.
Dengan langkah strategis tersebut, IPI tidak hanya menjaga eksistensi perpustakaan di era digital, tetapi juga memastikan bahwa masyarakat Indonesia memiliki budaya dan kecakapan literasi yang memadai untuk menghadapi perubahan zaman yang dipacu oleh kecerdasan buatan.

