Connect with us

Kolom

Islam dalam Konteks Budaya Lokal

Published

on

Islam budaya Lokal
Islam dalam Konteks Budaya Lokal | Kolom Andi Ulfa Wulandari | Foto: https://id.pinterest.com/Azerbaijan21/
Spread the love

Oleh: Andi Ulfa Wulandari

Islam dan budaya lokal adalah dua komponen yang saling support (mendukung) terhadap perkembangannya. Islam berkembang karena mampu menghargai budaya lokal, begitupun budaya lokal bisa tetap eksis disebabkan telah mengalami perbauran dengan ajaran-ajaran Islam.

Relasi antara Islam dan budaya ibarat dua mata uang yang tidak dapat terpisahkan. Islam hadir pertama kali di tengah-tengah budaya, berkembang melalui perbauran yang apik dengan budaya, dan tentunya akan terus beriringan dengan budaya sepanjang kehidupan manusia di alam raya ini.

Sebagai agama yang universal, Islam melintasi ruang dan zaman, dan sudah pasti berjumpa dengan budaya lokal yang berbeda-beda. Saat Islam bertemu dengan budaya lokal, wajah Islam akan berbeda dari tempat satu dan tempat lainnya. Hanya ajaran mengenai tauhid yang harus menembus batas-batas kultural dan geografis, yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Jika hanya sebatas ekspresi keberagamaan yang terpancar dalam bentuk tradisi, arsitektur, cara berbusana, dan semisalnya, tentunya akan memiliki muatan lokal yang sekali lagi tidak mesti selalu sama dengan tradisi yang ada di daerah dimana pertama kali Islam diturunkan, yakni daerah Arab.

Sebenarnya, tidak ada yang mesti dipersoalkan ketika mengadaptasi budaya Arab dalam mengekspresikan keberagamaan seorang Muslim dan Muslimah. Namun, yang menjadi soal adalah ketika menjadikan ekspresi kearaban sebagai satu-satunya atau dianggap paling absah dalam kebudayaan maupun keberagamaan. Sehingga akan menimbulkan dominasi bahkan hegemoni terhadap budaya dan tradisi lain, yang mampu memudarkan atau mematikan budaya lain tersebut.

Itulah mengapa akhir-akhir ini diperkenalkan istilah Islam Nusantara, bukan bermaksud untuk membuat agama yang berbeda, akan tetapi istilah ini dimaksudkan untuk membentuk suatu paham keislaman yang toleran sebagaimana konsep moderasi beragam oleh Kementerian Agama. Islam Nusantara bukan suatu sekte atau aliran yang baru, juga tidak ditujukan untuk mengubah doktrin Islam. Hal ini sebenarnya terbentuk karena secara historis dakwah Islam di Nusantara tidaklah dilakukan dengan cara menghanguskan tradisi, namun justru merangkul tradisi sekaligus menjadikan tradisi sebagai sarana penyebaran Islam.

Sejak awal, Islam memang hadir dalam ruang dan waktu yang kasat budaya, oleh karena itu wajar apabila Islam memakai idiom-idiom Arab karena disebarkan untuk kali pertama di Arab. Islam juga kaya akan bahasa-bahasa niaga, disebabkan masyarakat Arab notabennya masyarakat pebisnis. Dengan begitu, aktualisasi Islam dalam sejarah menjadikan Islam tidak dapat terpisahkan dari aspek lokalitas mulai dari Arab, Turki, Persia, dan juga Nusantara, dan masing-masing dengan ciri khasnya. Untuk itu, kiranya layak untuk dipertimbangkan mengenai pribumisasi Islam atau Islam yang membumi.

Akulturasi tradisi lokal dan Islam dilakukan dengan damai dan dengan memenuhi batasan-batasan tentang tradisi yang baik dilakukan dan yang boleh dilakukan manusia. Batasan tersebut jika dipandang melalui kacamata dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: Pertama, tidak mengganggu ketentuan ushuliyyah agama, dalam hal ini ialah akidah. Kedua, mendatangkankan maslahat atau kebaikan. Ketiga, tidak menimbulkan mudarat atau keburukan baik bagi individu maupun kelompok.

Sehingga, dengan begitu akulturasi ini dapat menghasilkan wajah baru yang bernilai Islami seperti seni pembangunan masjid, nama bulan dan penanggalan Jawa, seni ukir dan kaligrafi, seni tari, seni pertunjukan, seni sastra, tradisi halal bihalal yang tidak lama lagi akan marak dilaksanakan setelah perayaan hari raya Idul Fitri.

Jika diperhatikan, sebenarnya ajaran normatif yang berasal dari Tuhan diakomodasikan ke dalam kebudayaan yang berasal dari manusia tanpa kehilangan identitasnya masing-masing, inilah yang menjadi poin penting dan menjadi titik tengah sehingga Islam benar-benar sesuai konsep rahmat untuk seluruh alam.

Sejatinya yang bijak adalah bukan Arabisasi, namun bagaimana mengimplementasikan dan mendialektikakan ajaran inti Islam ke dalam budaya lokal.

Indonesia yang hari ini telah terjangkit radikalisme dan terorisme, tidaklah memiliki akar sebelumnya dalam ajaran Islam. Kemunculan gerakan radikal merupakan hasil dari adopsi kultur keagamaan yang datang dari luar Indonesia. Sebab sepanjang sejarah kedatangan Islam hingga akulturasi terjadi, tidak ada pertentangan antara Islam dan nasionalisme.

Menurut hemat penulis, tradisi dan agama akan saling menopang jika mampu disikapi dengan bijak. Apabila suatu budaya tidak menyeleweng dari tauhid, maka tidak perlu pertentangan hebat itu terjadi di kalangan internal umat Islam apalagi hingga menghakimi saudara seiman dikarenakan perbedaan perspektif semata. Bulan Ramadan ini diharapkan dapat menjadi momentum bagi umat Islam untuk meningkatkan toleransi di tengah keragaman budaya di Indonesia.

***

TENTANG PENULIS

Penulis bernama lengkap Andi Ulfa Wulandari, kelahiran Toari Kolaka 15 Juni 1998, merupakan dosen filsafat di UIN Alauddin Makassar dan Ketua Komunitas Literasi Perempuan Makassar. Penulis bisa dihubungi di:

Email : [email protected] atau WA: 085397718523

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *