Connect with us

Peristiwa

Peningkatan Kasus HIV di Kota Makassar, Pemerintah Perkuat Edukasi dan Layanan Pencegahan

Published

on

Spread the love

Oleh : Dwi Afwan Fauzan
(Mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Alauddin Makassar)

Kota Makassar tengah menghadapi tantangan serius dengan meningkatnya angka kasus HIV, yang kini menyebarkan lebih banyak remaja dan orang dewasa. Fenomena ini menjadi sorotan setelah laporan menunjukkan bahwa sebagian besar penularan terjadi akibat perilaku seksual berisiko dan penggunaan narkoba suntik.

Dalam upaya merespons situasi ini, pemerintah berkomitmen untuk memperkuat program edukasi di sekolah-sekolah dan komunitas, menekankan pentingnya pencegahan melalui penggunaan kondom dan akses ke layanan kesehatan. Melalui kampanye yang lebih agresif dan transparan, diharapkan stigma negatif terhadap orang dengan HIV dapat diatasi, sehingga lebih banyak individu merasa aman untuk melakukan pemeriksaan dan mendapatkan perawatan yang tepat.

Berdasarkan Harfianti Firman, Penanggung jawab Program HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kota Makassar, tren kasus HIV menunjukkan peningkatan yang signifikan, dengan mayoritas penularan terjadi melalui hubungan seksual berisiko. Menyikapi hal ini, Pemerintah Kota Makassar menggencarkan berbagai upaya pencegahan untuk menekan laju penyebaran penyakit ini (6/12/2024).

Berdasarkan data terbaru, prevalensi HIV menunjukkan angka yang mencolok, dengan kasus pada laki-laki mencapai 195, 84% dari total, sementara pada perempuan tercatat sebanyak 37, 16%. Lebih lanjut, kasus HIV juga ditemukan pada berbagai kelompok usia, mulai dari 1 kasus pada anak di bawah 4 tahun, 3 kasus pada anak usia 5-14 tahun, hingga lonjakan kasus pada usia remaja 15-19 tahun dengan 10 kasus. Kelompok usia 20-24 tahun mencatatkan 58 kasus, usia produktif 25-49 tahun mencatat 148 kasus, dan usia di atas 50 tahun sebanyak 12 kasus.

Saat ini, jumlah total Orang dengan HIV (ODHIV) yang menjalani terapi ARV mencapai 4.625 orang. Yang menjadi perhatian khusus adalah peningkatan signifikan di kalangan remaja usia 15-19 tahun, yang dinilai menjadi kelompok paling rentan dalam penyebaran HIV.
Harfianti Firman, Penanggung jawab Program HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kota Makassar menempatkan edukasi sebagai kunci pencegahan. “Kami fokus pada edukasi tentang bahaya seks bebas, narkoba, dan pentingnya kesehatan reproduksi, khususnya kepada anak muda. Edukasi dilakukan melalui media sosial, organisasi sekolah seperti OSIS, hingga kegiatan di sekolah-sekolah.”

Selain itu, 47 puskesmas di Makassar kini menyediakan layanan tes HIV gratis yang menjamin kerahasiaan pasien. “Kami ingin menghapus stigma agar masyarakat, terutama remaja, tidak takut memeriksakan diri. Kerahasiaan data pasien dijamin oleh kode etik tenaga kesehatan kami” Harfianti Firman (6/12/2024) Tambahnya.

Tomi (Nama Samaran) pengidap HIV yang mengetahui statusnya pada 2021 setelah memeriksa dirinya ke dokter hasilnya positif membagikan pengalaman emosionalnya. “Awalnya, saya kaget dan syok tapi karena karena saya sadar bahwa dalam tiga bulan terakhir saya memang melakukan hal yang berisiko. tapi saya sudah memperkirakan sebelumnya bahwa hasilnya bisa positif, karena dalam tiga bulan terakhir saya melakukan hubungan yang berisik. Namun, karena pernah mendapatkan edukasi tentang HIV sebelumnya, saya bisa menerima kenyataan ini. Saya sadar bahwa saya telah melakukan perilaku berisiko,” ujarnya. (12/2/2024).
Pemerintah juga menawarkan layanan pencegahan seperti penggunaan kondom gratis dan obat profilaksis PrEP untuk mereka yang berisiko tinggi. “Orang yang teratur minum obat HIV dengan baik bisa hidup normal dan tidak menularkan virus. Fokus utama kami adalah mencegah penularan baru,” ujar Muhammad Iqbal, staf lapangan Yayasan Gaya Celebes (1/12/2024)

Namun,ungkap Muhammad Iqbal, staf lapangan Yayasan Gaya Celebes menyoroti dampak negatif media sosial yang memudahkan remaja mengakses perilaku berisiko. “Tren aplikasi sosial mempermudah pertemuan untuk hubungan seksual berisiko. Edukasi dari teman ke teman sangat penting untuk memutus rantai ini

Stigma menjadi tantangan besar dalam upaya penanggulangan HIV. Banyak pengidap HIV mengalami diskriminasi, bahkan dari keluarga. Hal ini membuat mereka enggan mencari pengobatan. “Kami sering menemukan kasus pengidap HIV yang dipisahkan dari keluarga, tinggal di tempat yang tidak layak, hingga akhirnya kondisi mereka memburuk bukan karena virus, tetapi karena tekanan mental,” jelasnya Muhammad Iqbal, staf lapangan Yayasan Gaya Celebes (1/12/2024).

Dengan meningkatnya kasus HIV, Pemerintah Kota Makassar mengajak semua pihak, termasuk keluarga dan komunitas, untuk mendukung pengidap HIV dan mengurangi stigma. “Edukasi harus terus digencarkan, tidak hanya oleh pemerintah, tetapi juga masyarakat secara luas. Hanya dengan kolaborasi, kita bisa menekan penyebaran HIV,” ujar Harfianti Firman, Penanggung jawab Program HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kota Makassar (6/12/2024)

Berbagai program telah diluncurkan, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri dan mempraktikkan perilaku hidup sehat. Dengan pendekatan holistik ini, pemerintah berharap dapat menciptakan Makassar yang lebih sehat dan bebas dari stigma HIV.

Editor media warnasulsel.com - Portal media kiwari yang menyajikan berita lebih hangat berfokus berita pendidikan, sastra, buku dan literasi di sulawesi selatan

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *