Connect with us

Sastra

[Cerpen] Siti Khoningah ; Gonggongan Tengah Malam

Published

on

Cerpen Gonggongan Tengah Malam Siti Khoningah
Spread the love

Awan hitam bergelung-gelung bagai kawanan domba yang baru naik dari sawah. Angin berembus kencang menerbangkan debu, kotoran, plastik, dan apa-apa yang dilaluinya. Satu dua detik berlalu, gerimis pun datang. Orang-orang di jalanan berlarian mencari atap untuk berteduh. Teriakan-teriakan terdengar; menyuruh bocah-bocah ingusan untuk jangan main hujan-hujanan.

Makin lama, hujan makin deras. Ningsih dan Kasih yang masih kelimpungan mencari tempat berteduh harus menyipitkan mata agar air hujan tidak masuk ke dalamnya. Dengan terengah-engah, sampailah mereka berdua di poskamling.

Sebuah poskamling dengan dinding yang retak, lantai yang sudah tidak rata lagi, dan atapnya berlubang di sana-sini. Bisa dibilang bahwa kakak-beradik itu tidak benar-benar berteduh.

Ningsih merasakan badannya lengket sebab sedari pagi ia belum mandi. Kudis poleng  di kakinya terasa cekit-cekit; gatal dan perih saling berpadu. Rambutnya menggimbal. Wajahnya penuh dengan noda hitam dan kotoran-kotoran yang berasal dari tanah, yang berasal dari tempatnya mengais rezeki. Ada rasa kesal di hatinya karena hujan datang tidak pada waktu yang tepat.

Berbeda dengan Ningsih yang memilih diam tetapi hati dan pikiran saling berperang,

Kasih menyibukkan diri dengan membasuh kakinya di bawah pancuran air hujan. Sesekali ia membasuh pula kedua tangannya dan wajahnya hingga sirna noda-noda yang merasuk di pori-pori.

“Pulang sekarang, yuk!” ajak Ningsih.

Seketika Kasih menolehkan wajahnya ke arah kakaknya. “Hujan deras begini mau diterjang? Mbakyu sudah gila.” Kasih memberengut.

“Aku lapar,” kata Ningsih sembari mengelus-elus perutnya.

“Memangnya di gubuk ada makanan?”

Ningsih menggeleng. Raut wajahnya membiaskan rona iba. Kedua matanya berkaca-kaca. Sorot matanya mengisyaratkan bahwa ada kesedihan di dalam sana. Memangnya di gubuk ada makanan? Ucapan adiknya membuat hatinya seperti dicabik-cabik belati.

“Apa perbuatan kita sebegitu kejamnya sampai-sampai hidup kita jadi seperti ini?” Kasih terdiam. Ningsih bungkam.

***

Mentari akan siuman. Pendar cahaya merah semu orange telah membuka gerbang bagi raja siang. Embun-embun saling mengerling bak mutiara. Dedaunan basah lembap. Dahan-dahan menjadi pasar bagi burung-burung. Ranting-ranting tampak menggeliat oleh barisan rangrang yang mengantre keluar dari sarang. Angin berembus menentramkan jiwa.

Pagi itu, pagi-pagi buta, dapur milik Ningsih dan Kasih sudah terlihat gumpalan asap putih yang keluar melalui celah-celah dinding bambu yang membalut keseluruhan dinding rumah mereka. Asap-asap itu menyebarkan bau harum, bau yang mampu menggoda lambung yang tengah lapar.

Kakak-beradik itu saling bahu-membahu menyiapkan bekal untuk perjalanan jauh mereka. Ningsih sedang mengulek bumbu di leyeh menggunakan cobek, sementara Kasih sedang sibuk dengan api yang bolak-balik padam karena kayu sedikit basah.

“Kasih, tolong ambil telur tiga saja!” Kasih yang tengah mengucek-ngucek mata sebab kukus atau asap membuat matanya perih, menoleh ke arah kakaknya. “Telur yang mana, Mbakyu?”

“Yang mana ya?” Ningsih berpikir sejenak. “Telurnya blorok sajalah,” lanjutnya.

Mendengar itu, Kasih bergegas menuju ke kandang ayam yang terletak tepat di samping rumahnya. Oleh karena terburu-buru dan penerangan dapur tidak sepenuhnya terang, kaki Kasih menyenggol sebuah gayung berisi air yang tidak jauh dari tungku api berada.

Air dalam gayung itu tumpah membasahi tanah di sekitar tungku.

“Makanya hati-hati! Kalau begitu kan apinya jadi ndak nyala-nyala!” ujar Ningsih. Ia melirik tajam adiknya. Kasih pun mengangkat kayu-kayu agar tidak basah sekujurnya.

Selesai mempertanggungjawabkan kecerobohannya, Kasih langsung mengambil ceting dan pergi menuju ke samping rumah. Di sana terdapat banyak petarangan tempat ayam-ayam bertelur. Tumpukan jerami menjadi bantal duduk sekaligus pelindung kehangatan bagi induk ayam dan telur-telurnya.

Setiap hari, Ningsih dan Kasih selalu mengurusi ayam-ayam mulai dari mengabsen, menghitung telur, memberi makan dengan dedak, mengganti jerami yang sudah gimbal, hingga melerai ayam-ayam yang bertengkar. Bila waktu dhuha tiba, ayam betina berisik bukan main.

“Mbakyu! Mbak! Ayam kita Mbak!” teriak Kasih dari luar. Ia memanggil kakaknya berulang kali dengan mimik penuh kepanikan. Ningsih yang saat itu baru selesai mengulek bumbu, cepat-cepat berlari ke samping rumah.

“Ada apa ta, Kas!” kata Ningsih yang ikutan panik. Belum juga Kasih memberi tahu sebab yang membuatnya panik, Ningsih sudah lebih dulu memekik terkejut.

“Ayamku! Ayamku mana, Kas! Ayamku!”

Ningsih dan Kasih memeriksa petarangan satu persatu dan keadaan di sekitar kandang ayam milik mereka. Mereka melihat banyak sekali bulu-bulu ayam yang berserakan.

Lima ayam betina yang semuanya sedang bertelur barang berapa butir maupun yang sedang mengerami bakal kuthuk dan satu ayam jago yang menjadi kepala keluarga ayam di kandang itu, pagi itu tidak kelihatan semua. Si blorok yang dimaksud oleh Ningsih untuk diambil telurnya pun tidak kelihatan batang ekornya. Di petarangan itu hanya tersisa beberapa telur dan cangkang-cangkang yang rusak.

“Mbak! Sini sebentar!” panggil Kasih. Ningsih yang masih resah bercampur khawatir, menghampiri adiknya. “Apa!” pekik Ningsih.

“Coba lihat ini, Mbak! Seperti tapak kaki binatang.” Ningsih dan Kasih berjongkok.

Kedua bola mata Ningsih dan Kasih menelisik lebih jauh tapak kaki itu. Dilihat dari bentuknya, tidak berbeda dengan besaran kepal tangan mereka. Pun terdapat bekas cakaran kuku-kuku yang menapak di tanah.

“Apa jangan-jangan dia yang makan ayam-ayam kita?!”

Kasih menganggukkan kepala tanda sependapat dengan kakaknya.

“Oh ya, Mbak! Aku ingat! Aku ingat! Ndak salah lagi!”

Ningsih mengerutkan keningnya.

“Itu, Mbak. Kemarin malam waktu aku selesai buang air, aku lihat ada binatang hitam lewat belakang sumur kita, Mbak. Suaranya ‘guk! guk! guk!’. Aku langsung tutup pintu,” jelas Kasih.

“Wah, ndak betul ini. Sudah pasti anjing itu yang makan ayam kita!” Ningsih berdiri.

Ia masuk ke dalam dapur dengan mood yang berantakan. Pagi ini bukan pagi miliknya.

“Ya jelas ta, Mbak. Kalau maling kan ndak mungkin telur-telurnya pecah.”

Rencana kakak-beradik itu untuk melakukan perjalanan jauh pun batal. Seharian ini mereka berdua sibuk bertanya-tanya ke tetangga sekitar rumah, kira-kira siapa yang memelihara anjing di desa ini. Setahu Ningsih maupun Kasih, warga di desanya tinggal tidak ada yang memelihara anjing.

“Mbak Ningsih ndak tahu? Itu ada warga baru yang tinggal di ujung desa, di jalan buntu itu, Mbak. Namanya Mpok Jamela. Dia memang punya anjing.”

“Mpok Jamela ya, Mbak?” Kasih menyahut memperjelas.

“Iya, Kas. Memangnya kenapa, ta?”

“Oh, ndak. Ndak apa-apa, Bu,” pungkas Ningsih. Mereka berdua memutuskan untuk pulang ke rumah setelah mendapat informasi mengenai siapa pemilik anjing yang sudah memakan habis ayam-ayamnya.

Di perjalanan pulang, dengan hati dikerubungi amarah yang menyala-nyala, Ningsih berkata, “Aku harus cari perhitungan sama dia! Pendatang kok bikin ulah!”

“Betul, Mbakyu! Seenaknya saja merenggut milik orang!”

Sore harinya, Ningsih benar-benar mencari perhitungan dengan si empunya anjing, Mpok Jamela. Ia bersama adiknya berjalan tergesa-gesa menuju ke rumah Mpok Jamela. Kasih dibuat tersandung-sandung karena mengikuti kecepatan langkah kaki kakaknya.

Ningsih yang kadung tatu hatinya, tidak bisa lagi menahan gejolak emosi. Ia memasuki halaman rumah Mpok Jamela sembari menendang pot-pot kecil yang terbuat dari plastik. Batu-batu kerikil ditendangnya tidak beraturan arah.

“Jamela! Jamela! Jamela!” teriak Ningsih dan Kasih bersahut-sahutan. Keduanya men-dobrak-dobrak pintu dan jendela.

Tidak lama, terdengar bunyi khas deritan pintu yang terbuat dari anyaman bambu. Dari sanalah tampak wajah Mpok Jamela yang menyambut tamunya dengan ramah.

“Ngapunten, ada apa nggih, Mbak?” tanya Mpok Jamela sembari tersenyum dan meng-anggukkan kepala, santun.

“Ndak usah banyak mulut! Mana anjing-anjingmu!” Ningsih menyerobot masuk tanpa permisi. Kasih pun tidak luput mengekor di belakang kakaknya. Melihat kakaknya yang mengobrak-abrik barang-barang di rumah Mpok Jamela, Kasih tidak mau kalah.

“A…a…da apa ini?” Mpok Jamela kebingungan. Ia bergegas masuk ke dalam.

Terjadilah perdebatan sengit antara Ningsih dengan Mpok Jamela. Ningsih tidak terima atas hilangnya ayam-ayam peliharaannya. Suasana di rumah itu memanas. Hati Ningsih dan Kasih dikendalikan oleh setan. Tatapan mata mereka memantulkan semburat kebencian.

“Apa buktinya kalau anjing-anjing saya memakan ayam-ayam milik Mbak?!”

“Kalau ndak ada tapak kaki anjingmu di sekitar kandang ayam, mana mungkin kita ke sini!”

“Bisa saja itu hewan lain atau dicuri sama orang, Mbak!”

“Halah, banyak omong! Makannya kalau punya hewan buas dikurung yang benar!

Malam-malam keluyuran, pulang-pulang kenyang!” gertak Ningsih.

Anjing-anjing milik Mpok Jamela yang tengah terbuai dalam mimpi, yang tengah

menikmati hangatnya radiasi dari tungku api, harus terjaga dan berakhir tertatih-tatih ditarik ke  pekarangan rumah. Gonggongan saling bersahut-sahutan. Ekornya mengibas ke kanan dan kiri. Lidahnya terjulur. Lehernya nyaris tercekik karena tarikan paksa. Kesunyian pun sirna. Debu-debu beterbangan akibat kaki-kaki mereka saling meronta-ronta.

Mpok Jamela menarik lengan baju Ningsih dan menjegal kaki Kasih agar mereka ber-dua terjerembap. Namun, tenaga Ningsih dan Kasih lebih besar dari dirinya.

Dengan sebilah bambu dan kayu yang mulanya tergeletak sembarang di tanah, tangan

Ningsih dan Kasih bersatu memberi pelajaran kepada anjing-anjing yang mereka ikat di sebatang pohon jambu. Dengan bercucuran air mata, Mpok Jamela berusaha mendorong tubuh Ningsih maupun Kasih.

Takdir berkata lain. Satu per satu anjing-anjing itu terkulai lemas. Gonggongan yang semula memecah keheningan, yang semula berlomba-lomba di antara perkelahian sengit, kini berangsur-angsur redam. Darah mengucur deras membasahi helaian bulu. Luka-luka menganga.

Tubuh berbulu mereka meringkuk di tanah tidak berdaya. Mata hewan berkaki empat itu berlaun mengatup. Kesakitan pun sirna. Kesedihan pun merajalela di hati Mpok Jamela. Dengan ketegaran hatinya, Mpok Jamela bersumpah bahwa anjing-anjingnya tidak berbuat seperti apa yang telah dituduhkan oleh Ningsih dan Kasih kepadanya.

Kabarnya, semenjak kejadian di sore hari yang membuat hati empunya dirundung duka dan sakit hati, rumah kecil berdinding anyaman bambu dan beratap daun kelapa itu tampak sepi. Hari-hari berlalu, rumput-rumput makin panjang dan subur. Banyak tanaman di halaman yang menguning berangsur mati. Bulan berganti bulan, dinding bambu rumah itu gapuk oleh lumut, atapnya tercerai-berai, pintu serta jendelanya ringsek.

Tampak dari bahu jalan, rumah itu menyeramkan.

Se-menyeramkan kenyataan hidup Ningsih dan Kasih sepuluh tahun ke depan. Di hari ini, di usia mereka yang telah menginjak kepala empat. Mereka tidak mungkin lupa atas perbuatan kejam di suatu petang menjelang sandikala.

Benar pepatah mengatakan bahwa penyesalan selalu datang di akhir. Pada akhirnya, penyesalan itu pun sudah tiada arti. Ribuan air mata yang jatuh tidak bisa membayar kesalahan yang telah diperbuat.

Ningsih dan Kasih, kakak-beradik yang hanya tinggal berdua, kini luntang-lantung di jalanan. Tidak ada rumah yang layak bagi mereka untuk berlindung dari terik matahari dan deras air hujan. Sepanjang menit berjalan, mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan menahan keroncongan dan kekeringan. Sesekali beristirahat, bercerita, dan berujung pada keluh-kesah.

“Kas, Mbak merasa Mbak tidak lebih baik dari anjing.”

 

Purworejo, 03 Juni 2024

 

___

 

*Siti Khoningah, kelahiran September 2006 di Kota Purworejo, Jawa Tengah. Saat ini ia menjadi mahasiswa baru Universitas Negeri Tidar. Prestasi terbaiknya, Juara 1 Cipta Teks Feature oleh FIB UGM (2022), Juara 1 Cipta Puisi oleh MA Islamiyah Sawangan (2022), Juara 1 Cipta Cerpen Hari Pers oleh Universitas Muhammadiyah Purworejo (2023), dll. Karya-karyanya telah terbit di buku antologi dan media online. Sapa ia di Instagram @khoningahsiti.

Editor media warnasulsel.com - Portal media kiwari yang menyajikan berita lebih hangat berfokus berita pendidikan, sastra, buku dan literasi di sulawesi selatan

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *