Kolom
Tantangan Pasien TBC: Stigma, Pengobatan, dan Pentingnya Dukungan Keluarga
Dok. Istimewa| Sumber: Okezone.com
WARNASULSEL.COM – Tuberkulosis (TBC) terus menjadi salah satu masalah kesehatan yang serius di Indonesia. Penyakit menular yang menyerang paru-paru ini tidak hanya menyebabkan gejala seperti batuk berkepanjangan, tetapi juga memaksa para penderitanya untuk menghadapi berbagai tantangan fisik, psikologis, dan sosial dalam proses pengobatan, Kamis (19/12/2024).
Di tengah perjuangan melawan penyakit ini, pasien TBC sering kali harus berhadapan dengan stigma, akses layanan kesehatan yang terbatas, serta kebutuhan untuk menjalani pengobatan jangka panjang yang membutuhkan ketekunan.
Hal ini menegaskan pentingnya perhatian semua pihak dalam menangani TBC secara komprehensif. Perempuan berinisial MK (19), menceritakan pengalamannya saat didiagnosis TBC.
“Awalnya saya sangat terkejut dan takut. Saya khawatir penyakit ini akan menular ke orang-orang terdekat,” ungkapnya. Namun, penjelasan dokter bahwa jenis TBC yang dideritanya tidak menular membuatnya sedikit lega.
Selama menjalani pengobatan, MK merasakan berbagai efek samping obat yang mengganggu aktivitas sehari-harinya. “Badan saya selalu lemas setelah minum obat dan air kencing saya berwarna merah,” ujarnya.
Meski begitu, MK tetap berusaha untuk disiplin minum obat karena tidak ingin proses penyembuhannya menjadi lebih lama.
Dukungan keluarga sangat berarti bagi MK dalam menghadapi penyakit ini. “Keluarga saya selalu mengingatkan saya untuk minum obat dan tidak mengucilkan saya,” tambahnya.
Sierli Natar, S. Kep., yang menjabat sebagai perawat Epidemiologi Madya (wakil supervisor TBC) di dinas kesehatan kota Makassar, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam mengatasi TBC adalah kepatuhan pasien terhadap pengobatan. “Banyak pasien yang putus pengobatan karena efek samping obat atau merasa sudah sembuh setelah beberapa waktu,” jelasnya.
Sierli Natar, S. Kep., juga menyebutkan bahwa pasien lansia, penderita diabetes, HIV, dan anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap TBC. Selain itu, wilayah kumuh dan padat penduduk menjadi tempat yang paling banyak ditemukan kasus TBC.
“Pengobatan TBC harus dilakukan dalam jangka waktu yang lama karena bakteri penyebab TBC sulit diberantas,” ujar Sierli Natar, S. Kep., Jika pengobatan dihentikan sebelum selesai, bakteri TBC dapat menjadi kebal obat dan menyebabkan penyakit yang lebih parah.
Untuk memotivasi pasien, Sierli Natar, S. Kep., selalu memberikan edukasi dan dukungan. “Saya ingin pasien merasa diperhatikan dan memiliki semangat untuk sembuh,” ungkapnya.
Sierli Natar, S. Kep., juga mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap gejala TBC seperti batuk berdahak lebih dari dua minggu, demam, keringat malam, dan penurunan berat badan. “Jika mengalami gejala tersebut, segera periksakan ke puskesmas terdekat,” imbuhnya.
Harapan untuk kedepannya, Sierli Natar, S. Kep., berharap pasien yang sudah berhasil melalui masa pengobatan dapat menjadi motivator kepada pasien TBC lainnya untuk tidak menyerah. “Tetap semangat dan jangan takut untuk berobat,” pesannya.
Penulis: Ummul Khatima (Mahasiswi Jurusan Jurnalistik, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Alauddin Makassar)

