Kolom
Peluang Ekonomi Minuman Lokal: Kopi Cincau Laris Manis di Toko Serabutan
Oleh: Tri Rahmadani*
Bola Eppae – Di tengah gempuran berbagai minuman kekinian seperti boba, cheese tea, dan aneka kopi susu modern, minuman tradisional seperti kopi cincau justru menunjukkan eksistensi kuatnya. Kombinasi rasa pahit khas kopi dengan tekstur kenyal cincau menciptakan pengalaman minum yang unik dan menyegarkan. Popularitas minuman ini tidak hanya terbatas pada kedai kopi modern, tetapi juga merambah ke toko-toko kecil, termasuk toko serabutan yang awalnya hanya menjual berbagai kebutuhan harian, kini menemukan peluang bisnis baru dengan menjual kopi cincau.
Di Desa Bola Eppae, Kabupaten Sidenreng Rappang, sebuah toko serabutan bernama Toko Yusman berhasil memanfaatkan peluang ini. Kopi cincau yang mereka tawarkan kini menjadi salah satu produk favorit masyarakat, dari pelajar hingga pekerja. Awalnya, kopi cincau hanya tersedia dalam jumlah terbatas, namun seiring waktu, permintaan terus meningkat. Banyak pelanggan yang tertarik dengan rasa khas dan harga terjangkau yang ditawarkan, membuat minuman ini menjadi salah satu produk favorit di toko tersebut.
Fenomena ini menarik untuk dikaji lebih dalam, terutama dari segi strategi pemasaran, minat konsumen, serta tantangan yang dihadapi dalam penjualan kopi cincau di toko serabutan. Apakah tren ini akan terus berkembang? Bagaimana toko kecil seperti Toko Yusman dapat bersaing dengan gerai minuman modern? Liputan ini akan mengeksplorasi lebih jauh mengenai perjalanan kopi cincau di Toko Yusman sebagai peluang ekonomi yang menjanjikan.
Berdasarkan hasil observasi di lapangan, Toko Yusman berada di lokasi yang sangat strategis, tepat di pinggir jalan utama. Lingkungan sekitar toko cukup ramai dengan lalu lintas kendaraan dan pejalan kaki, didukung dengan adanya beberapa warung makan dan toko kelontong lain di sekitar. Hal ini memberikan keuntungan besar dalam menarik konsumen yang melintas. Dalam satu hari pengamatan, tercatat sekitar 30-40 orang mampir ke toko, dengan 8 orang di antaranya membeli kopi cincau. Jumlah ini termasuk cukup tinggi mengingat kopi cincau bukanlah produk utama toko. Area toko pun terjaga bersih, dengan tempat sampah tersedia, serta penyajian minuman yang rapi dan higienis.
Menurut Faisal, pengelola sekaligus peracik kopi cincau di Toko Yusman, ide awal menjual kopi cincau muncul secara spontan. Faisal, yang berlatar belakang pendidikan Sarjana Pertanian dari Universitas Hasanuddin, mengaku ingin mencoba menerapkan pengetahuannya dalam bidang pertanian dan kopi ke dalam bisnis kecil. “Ide ini awalnya cuma iseng saja. Saya lihat di daerah ini belum banyak yang buat kopi cincau yang rasanya beda. Kebetulan latar belakang saya juga anak pertanian, jadi saya mencoba mengolah kopi dengan pendekatan yang berbeda,” ujar Faisal saat ditemui di lokasi.
Berbeda dari kebanyakan kopi cincau lain di daerah tersebut yang menggunakan bahan baku gula aren atau campuran susu biasa, Faisal berinovasi menggunakan susu sebagai bahan dominan dan kopi dalam jumlah tipis. Selain itu, dia juga menekankan penggunaan bahan premium tanpa pemanis buatan. “Yang membedakan produk kami adalah penggunaan bahan premium. Saya hindari pemanis buatan, supaya rasa tetap alami dan sehat,” tambahnya.
Dalam memasarkan produknya, Faisal mengandalkan metode sederhana, yaitu promosi dari toko ke toko sekitar. Selain itu, ia sangat bergantung pada kekuatan rekomendasi dari mulut ke mulut, terutama di kalangan pelanggan setia. “Tahun pertama saya hanya titip jual di Toko Yusman, tahun kedua baru mencoba ekspansi kecil-kecilan ke tempat lain,” jelas Faisal.
Namun perjalanan itu tidak tanpa tantangan. Faisal menghadapi beberapa kendala besar, di antaranya:
1.Kompetitor Lokal
Di daerah tersebut sudah ada beberapa toko yang lebih dulu menjual produk berbasis cincau. “Mereka sudah lebih dulu dikenal pasar, jadi kita harus cari cara supaya produk kita tetap diminati,” katanya.’
2.Kualitas Produk
Karena menggunakan bahan alami, kopi cincau rentan rusak jika tidak segera habis terjual. Ini menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kualitas rasa dan kesegaran.
3.Fluktuasi Bahan Baku
4.Kadang bahan baku sulit didapatkan atau tiba-tiba naik harga. “Kalau bahan bakunya naik, otomatis harga jual harus disesuaikan, tapi saya usahakan tetap terjangkau supaya pelanggan tidak kabur,” ungkapnya.
Meskipun demikian, Faisal tetap optimistis. Dengan penjualan rata-rata 13–20 botol per hari dan omzet harian sekitar Rp130.000–Rp200.000, kopi cincau berhasil menjadi produk andalan di toko tersebut.
Rasa khas kopi cincau Toko Yusman mendapatkan respon positif dari para pelanggan. Riska Dwi Apriyani, seorang mahasiswa yang sering membeli kopi cincau di Toko Yusman, mengatakan bahwa kepraktisan kemasan dan rasa unik menjadi alasan utama dirinya memilih minuman ini. “Saya suka karena rasanya beda dan kemasannya praktis. Bisa dibawa dalam tas tanpa takut tumpah. Harganya juga cocok buat kantong mahasiswa,” ujar Riska. Saat ditanya apakah pernah merekomendasikan kopi cincau ini kepada teman-temannyam Riska menjawab pernah, terutama saat acara bazar. Ia merekomendasikan kopi cincau Toko Yusman karena harganya terjangkau untuk mahasiswa.
Hal serupa disampaikan oleh Syaiful, seorang agen BRILink yang sudah menjadi pelanggan tetap. “Rasanya pas, manisnya cukup, tidak bikin enek. Minuman ini juga membantu saya tetap fokus saat harus kerja lembur,” katanya. Menurut Syaiful, kopi cincau ini sangat membantu dirinya tetap segar dan fokus, terutama karena pekerjaannya yang menuntut untuk sering begadang. Ia mengonsumsi kopi cincau agar tetap terjaga sepanjang malam. Saat ditanya apakah ia akan tertarik mencoba varian baru jika Toko Yusman menambah produk minuman lainnya, Syaiful dengan antusias menjawab iya. “Karena saya sudah berlangganan dan percaya dengan rasanya, saya pasti akan coba lagi,” katanya.
Kopi cincau di Toko Yusman dijual seharga Rp10.000 per botol, harga yang dianggap wajar oleh konsumen, mengingat kualitas bahan yang digunakan dan rasa yang dihasilkan. Banyak pelanggan merasa bahwa dengan harga tersebut, mereka mendapatkan minuman yang tidak hanya enak, tetapi juga praktis dan memuaskan. Selain menghilangkan rasa haus, kopi cincau ini juga memberikan rasa kenyang berkat cincau yang digunakan sebagai campurannya.
Berdasarkan riset literatur, tren minuman berbahan dasar cincau memang sedang naik daun. Artikel dari RRI.co.id menyebutkan bahwa cincau tetap diminati di tengah tren minuman kekinian seperti boba dan cheese tea. Selain rasa, cincau memiliki nilai tradisi dan nostalgia, terutama bagi generasi lama. Generasi muda mulai melirik cincau sebagai topping sehat karena rendah kalori dan tinggi serat. Inovasi minuman berbasis cincau seperti kopi cincau semakin berkembang, bahkan diadopsi oleh pelaku usaha kecil hingga restoran besar.
Sementara itu, jurnal ilmiah dari Universitas Lampung menunjukkan bahwa minuman berbasis cincau seperti cappuccino cincau diminati oleh berbagai kalangan, terutama mahasiswa. Penelitian ini menemukan bahwa faktor kebersihan tempat, promosi, dan kualitas pelayanan sangat memengaruhi keputusan pembelian.
Selain itu, frekuensi pembelian, tempat tinggal memiliki pengaruh signifikan terhadap minat beli terhadap produk ini. Produk ini dinilai memiliki potensi pasar tinggi dengan modal terjangkau dan inovasi rasa yang variatif, namun masih banyak konsumen belum mengetahui kandungan gizi cappuccino cincau. Di sisi lain, konsumen modern kini mulai memperhatikan aspek kesehatan dalam memilih makanan dan minuman. Hal ini menjadi peluang besar bagi produk tradisional seperti kopi cincau untuk bertahan, bahkan berkembang, di tengah persaingan pasar yang ketat.
Melihat antusiasme pasar, Faisal tidak menutup kemungkinan untuk mengembangkan usahanya lebih jauh. Ia berencana menambah variasi rasa dan meningkatkan kapasitas produksi jika permintaan terus meningkat. “Kalau permintaan stabil dan bahan baku mudah didapat, saya ingin membuat varian baru. Mungkin kopi cincau rasa karamel atau vanila, supaya pelanggan punya lebih banyak pilihan,” ujarnya penuh semangat.
Selain itu, Faisal juga mempertimbangkan untuk memperbaiki desain kemasan agar lebih menarik dan berstandar retail modern. Strategi ini diharapkan bisa memperluas segmen pasar, tidak hanya di desa tetapi juga ke kota-kota terdekat.
Kisah sukses kopi cincau di Toko Yusman menunjukkan bahwa inovasi sederhana dengan menjaga kualitas dan memahami kebutuhan konsumen bisa menjadi kunci keberhasilan, bahkan di tengah persaingan bisnis yang ketat. Dengan kombinasi strategi pemasaran yang tepat, rasa produk yang khas, dan semangat berinovasi, kopi cincau Toko Yusman membuktikan bahwa minuman tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.
Fenomena ini menjadi contoh bahwa pelaku usaha kecil di daerah pun bisa bertahan, berkembang, dan bersaing, selama mau membaca peluang dan terus berinovasi. Dengan memanfaatkan potensi lokal, memahami kebutuhan konsumen, serta menjaga kualitas produk, usaha kecil seperti Toko Yusman mampu menarik perhatian pelanggan dan membangun loyalitas di tengah ketatnya persaingan pasar.
Referensi:
https://www.rri.co.id/jawa-timur/kuliner/1377409/cincau-tetap-diminati-di-tengah-gempuran-minuman-kekinian
https://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=1242861&val=12576&title=BAURAN%20PEMASARAN%20DAN%20PERILAKU%20KONSUMEN%20DALAM%20PENGAMBILAN%20KEPUTUSAN%20PEMBELIAN%20CAPPUCCINO%20CINCAU
*Penulis dari Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang, Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia

