Sastra
Surga di Telapak Foto Bunda dan Beberapa Puisi Cahaya Daffa Fuadzen
KEPADA PEREMPUAN YANG TERJEBAK DALAM LUKISAN PAPAN TULIS
lukisan a3 bagaikan muka kaku monalisa,
berdampingan dengan setangkai lilin membara
pada atas lantai suci.
kehadirannya terbuai oleh percikan tinta spidol.
terukir dengan tulus, berbenah pada lekukan
setiap helai rambut yang terurai lurus.
memandang dan membisu.
mematung menahan senyuman, memacu picu,
memutih dalam bermimpi di tubuh yang tak selamanya
tumbuh melihat langit bersenggama dengan awan.
tersungkur dalam serum,
bening terikat mulus ketika sosok perempuan
telah utuh menjelma pada alas papan tulis yang terlukis
menawan.
mengaku secara berkala, tercium aroma dingin dalam
ruang penuh tanda tanya. terjebak—terbelenggu pula,
membeku dalam lukisan sepanjang masa.
(Tanjung Selor, 2022)
SELIMAU TELAH KEHILANGANMU
sesaat sebagai penantian
selimau telah kehilanganmu, tuan.
menelan tubuhmu di hari pengasingan
membiru seraya ingin berpelukan
bisikan ayat-ayat dilimpahkan.
akhirat dilanda krisis hiburan
memanggilmu disaat orang-orang butuh candaan
pohon-pohon saling bertukar tangisan
debu pasir saling berbenturan
daun-daun kian terban.
burung walet bercucur luka di sarang persemaian
menyaksikan lumpur saling mengeluh kesepian
berbincang sendu di area perkebunan
semakin malam ingin menadahkan
tangannya menghadap tuhan.
kehilangan yang tak terbayangkan
kepada yang tersimpan
selimau telah di ambang kesunyian.
(Tanjung Selor, 2022)
VIVARINE
musim panas kota tak berhuni
seperti jus pepaya yang berlumuran
di mulutmu.
meluap rasa cemas
kian hari memuncak girang
menghantar hawa, melebur
dengan meriang.
saban hari aku melihat kornea matamu
penuh kertas-kertas rindang.
dan aku seperti hiruk-pikuk
kumpulan doa
yang kaupungut bersama rantai tercemar.
(Samarinda, 2022)

