Connect with us

Kolom

Hubungan Pola dan Kebiasaan Makan dengan Kejadian Obesitas pada Remaja

Published

on

Spread the love

Oleh : Jihan Salsabila Adha

Obesitas memang merupakan topik atau permasalahan yang booming yang akhir-akhir ini terjadi. Bahkan bukan saja di Indonesia, tapi juga di hampir semua negara di seluruh dunia pun juga memiliki permasalahan yang sama yaitu tentang obesitas. Kondisi obesitas semakin memburuk sekarang, tidak hanya menyerang orang dewasa atau lansia yang biasanya sudah tidak melakukan aktivitas berat. Melansir dari Kementerian Kesehatan RI, prevalensi obesitas pada orang dengan usia 18 ke atas telah meningkat dari 11,7 persen pada tahun 2010 menjadi 21,8 persen pada tahun 2018.

Namun, obesitas juga menyerang generasi muda. Tentunya menurut saya pun, angka ini menunjukkan bahwa banyak faktor baik dari internal ataupun eksternal sangat mempengaruhi terjadinya obesitas pada seorang remaja. Kalau saya pribadi, faktor internal nya yaitu dari dalam diri remaja tersebut. Seperti ya niat mereka untuk terus makan dan malas bergerak/Berolahraga, terus faktor stress yang terjadi pada diri mereka seperti saat galau karna putus bercinta atau stress karna belajar dan kegiatan, ya otomatis tempat pelarian mereka adalah makan, makan, dan makan. Lalu tidur…

Nah Ini pasti akan menjadi pola kebiasaan hidup yang buruk jika dilakukan secara berulang-ulang. Kalau faktor-faktor eksternal ya mungkin di antaranya adalah ajakan dari teman untuk mengonsumsi makanan cepat saji sesuai dengan trend masa kini, ditambah lagi Saat ini, teknologi telah menjadi semakin canggih. Tinggal pesen lewat online langsung deh nyampe tanpa harus capek-capek jalan kaki keluar rumah mencari makanan.

Tanpa mereka sadari sebenarnya makanan yang mereka konsumsi itu tidak sehat, karna di dalam makanan tersebut lebih banyak mengandung kalori, lemak, dan kolesterol.

Namun Perlu diingat juga bahwa Meskipun banyak makan dikatakan identik dengan obesitas, hal itu tidak berarti sehat. Malah, bisa jadi menunjukkan seseorang mengalami kekurangan gizi. Akan tetapi, hal tersebut bisa dikarenakan asupan yang berlebihan, baik lemak, karbohidrat, ataupun minimnya zat-zat lain seperti protein dan vitamin yang diperlukan oleh tubuh.

Karena itu, jika seseorang mengalami obesitas, hal ini sama saja dengan jenis kekurangan gizi lainnya dan dapat menimbulkan efek domino bagi kesehatan tubuh yang berpotensi menimbulkan berbagai penyakit seperti penyakit jantung, hipertensi, dan masalah ginjal. Selain itu, risiko untuk mengidap diabetes melitus juga meningkat. Obesitas juga memengaruhi psikologi remaja. Remaja yang obesitas dijauhi oleh teman-temannya memiliki kemungkinan untuk merasa putus asa, menjadi pendiam dan terisolasi secara sosial.

Obesitas dapat membuat seseorang merasa tersisih atau tersinggung. Hal ini akan semakin memburuk apabila remaja yang mengalami obesitas gagal dalam berinteraksi dengan orang lain. Mereka cenderung dianggap tidak mudah bergaul. Jika hal ini terjadi pada hampir semua generasi muda di Indonesia, bonus demografi yang diperoleh dari mereka akan berbalik menjadi bumerang. Orang-orang produktif tidak akan menjadi produktif karena obesitas, dan negara akan mendapatkan beban yang besar untuk mengobati penyakit ini pada generasi muda.

Oleh karena itu, menurut saya harus segera dilakukan tindakan pencegahan obesitas pada remaja. Salah satunya adalah dengan menggelarkan Edukasi atau pun Kampanye Pola Hidup Gizi Seimbang pada remaja dengan tujuan agar berkurangnya angka kejadian obesitas dan terbentuknya remaja yang cerdas dan berpotensi bagi nusa dan bangsa. Selain itu diharapkan juga perubahan pada remaja yang dulu nya memiliki pola kebiasaan gizi yang buruk. Sekarang memiliki pola kebiasaan hidup yang baik dalam mengonsumsi makanan atau memenuhi gizi seimbang. Rincian edukasi dan kampanye pola hidup gizi seimbang tersebut diantaranya adalah:

1. Menerapkan Pola Makan Sehat

Menu makan harian sebaiknya mengandung nutrisi lengkap, terdiri dari karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral. Sebagian besar piring makan diisi oleh sayuran, seperempat piring oleh nasi atau roti, seperempat piring oleh lauk – pauk, dan sisanya oleh buah. Jangan lupa untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh, baik dengan minum air putih, jus, atau konsumsi buah dan sayuran utuh.

2. Modifikasi Perilaku Makan

Misalnya, menahan keinginan makan di luar jam makan utama, serta mengontrol porsi dan jenis makanan yang dikonsumsi. Memastikan bahwa yang remaja konsumsi adalah camilan yang sehat, seperti buah – buahan segar di sela – sela waktu makan utama.

3. Aktivitas Fisik

Melakukan aktivitas fisik atau berolahraga sendiri ataupun bersama keluarga dan teman. Lakukan olahraga yang disukai selama 20 – 30 menit per hari, misalnya jalan kaki, sepak bola, bersepeda, berenang, dan basket. Selain mencegah obesitas, aktivitas fisik berdampak positif pada tumbuh kembang remaja. Aktifitas fisik yang benar adalah sampai berkeringat. Artinya, ada energi/kalori yang dibakar. Bagi remaja obesitas, hal ini adalah hal yang sulit, tetapi juga merupakan metode yang paling efektif untuk menghilangkan bobot tubuh mereka. Olahraga yang paling umum dilakukan oleh remaja adalah jogging di pagi atau sore hari.

Selain jogging, fitness juga sudah mulai popular di kalangan remaja masa kini. Bagi remaja yang segan untuk bersosialisasi karena malu dengan bentuk tubuh mereka, aktifitas fisik yang benar merupakan solusi yang tepat. Selain mengecilkan bentuk dan menurunkan bobot tubuh, olahraga juga membentuk tubuh menjadi lebih bagus. Dari olahraga, seorang remaja bisa mendapatkan bentuk tubuh mereka yang ideal, dan tidak malu lagi bersosialisasi dengan orang lain.

Tentunya ketiga cara tersebut tidak terlepas dari peran orang tua. Peran orang tua dalam menghadapi masalah obesitas pada remaja ini cukup berperan. Bagaimana remaja menangani masalah mereka tersebut dapat dilatar belakangi oleh sikap orang tua terhadap masalah mereka. Jika orang tua peduli terhadap anak mereka, mungkin remaja tersebut akan mencari solusi atas obesitas mereka ditambah bantuan dengan orang tua. Sedangkan jika orang tua tidak terlalu peduli, remaja tersebut bisa menganggap obesitas bukanlah hal yang berbahaya, melainkan hal yang sepele.

Meskipun demikian, tidak hanya orang tua yang memengaruhi remaja. Banyak faktor yang dapat memicu mereka untuk mencari solusi masalah tersebut, seperti teman, lingkungan, dan lain sebagainya. Tidak hanya faktor eksternal, ada juga faktor internal yang dapat memengaruhi mereka. Seperti saat mereka sadar bahwa obesitas bukanlah hal yang sepele, mereka mencari solusi untuk mengatasi masalah tersebut.

*Jihan Salsabila Adha, Kota Surakarta, Jawa Tengah

Editor media warnasulsel.com - Portal media kiwari yang menyajikan berita lebih hangat berfokus berita pendidikan, sastra, buku dan literasi di sulawesi selatan

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *