Connect with us

Kolom

Habitus Diri yang Terlupakan

Published

on

Spread the love

Oleh: Gunawan Hatmin

Manusia sebagai makhluk sosial, tentu tidak terlepas dari interaksi dan komunikasi antar sesama entitas individu maupun antar kelompok masyarakat. Interaksi dan komunikasi sosial ini terjadi ketika manusia lahir, mula-mulanya ia mulai dari proses pembatinan terhadap nilai dan norma yang berlaku.

Di mana kita sendiri yang menjalankan atribut-atribut (potensial) yang melekat dalam diri kita sebagai suatu bentuk keintiman esensi diri kita, baik individu maupun kelompok masyarakat.

Pasalnya, dinamika kehidupan manusia telah menjadi puncak kejayaan peradaban. Tak ada lagi batasan bagi manusia dalam ruang eksklusifitas untuk merespon segala macam problem atau pun cikal bakal antar relasi entitas manusia satu dengan entitas manusia yang lain.

Bahkan masing-masing manusia memandang bahwa, kejayaan dalam menciptakan peradaban bahkan meruntuhkannya sekalipun tidak akan menjadi tolak ukur bagi dirinya dalam memastikan kelancaran dan kelihaian dalam hidupnya.

Dalam melihat fenomena kehidupan manusia, habitus pada setiap aktifitas dalam rana sosial akan menjadi intrik-intrik sandaran bagi manusia.

Kadangkala, fenomena semesta terus memberikan respon pada manusia yang dikenal sebagai pelaku utama dalam realitas ini. Hal ini menegaskan kita bahwa, kita tidak boleh diam tanpa mengupayakan kemenjadian “becoming” diri dalam mentadaburi realitas ini sebagaimana mestinya. Dituntut untuk menyeimbangkan moralitas yang punya kesesuaian dan kemauan dalam melihat poros kehidupan sebagai gaya hidup yang baru.

Oleh karena itu, realitas yang dialami hari ini, memberikan sebuah keseriusan bagi manusia dalam menentukan sikap optimalnya, hal ini akan menjadi salah satu basis kemendasaran dalam hidup.

Pieere Buordieu, salah satu tokoh antropolog dan sosilog abad ke-20 mengemukakan sebuah istilah yang cukup popular dan memberikan kita sebuah refleksi untuk memahami gejala sosial kemasyarakatan yang mana kita sendiri tidak sadar dengan kebiasaan atau Bourdieu menyebutkan dengan sebutan habitus.

Tak dipungkiri bahwa, dalam kalangan khazanah pemikiran, para intelektual, cendikiawan bahkan para pemikir yang lainnya juga banyak menyinggung dan menerjemahkan habitus sebagai suatu hubungan disposisi yang memberi suatu efek sosial yang seragam.

Jadi, habitus adalah kerangka penafsiran untuk memahami dan menilai realitas dan penghasil praktik-praktik kehidupan yang sesuai dengan struktur-struktur objektif. Habitus menjadi dasar kepribadian individu (Haryatmoko, 2016: 41). Dengan demikian habitus adalah pandangan hidup (word view), nilai-nilai, gaya, dan sebagainya.

Teori yang dikonstruksikan Bourdieu dibangun dari berbagai pengaruh banyak tokoh dimana dirinya banyak mendapat ilmu pengetahuan dan berinteraksi.

Dari Max Weber, ia memperoleh kesadaran tentang pentingnya dominasi dan sistem simbolik dalam kehidupan sosial, serta gagaasan tatanan sosial yang akhirnya akan ditransformasikan kedalam teori ranah-ranah ‘feild’nya Bourdieu.

Dari Karl Marx, Ia mendapatkan pemahaman tentang masyarakat sebagai penjumlahan hubungan-hubungan sosial. Hubungan tersebut berlandaskan pada bentuk dan kondisi produksi ekonomi, dan kebutuhan untuk secara dialektis mengembangkan teori sosial dari praktik sosial. Sedangkan melalui Email Durkheim, Bourdieu seperti mewarisi pendekatan Determinisme.

Gaya strukturalis yang menekankan struktur sosial untuk memproduksikan dirinya sendiri, ia dapatkan dari Marcel dan Levistrauss. Namun Bourdieu banyak membantah dan menyimpang dari para tokoh yang mempengaruhinya.

Durkheim ia bantah bahwa reproduksi struktur sosial tidak beroperasi menurut logika fungsionalis. Salah satu aksi tujuan dasarnya dalam reaksi terhadap akses strukturalis; niat saya adalah mengembalikan kehidupan nyata aktor yang telah dilenyapkan dalam tangan levistrous dan strukturalis laninnya,… (rizer & goodman).

Pada ruang ini Bourdieu mampu menghadirkan teori barunya yang kemudian menjadi konsumsi para scholar.

Klenden dan Binawan berusaha menafsirkan Habitus yang digagas Bourdieu dengan 7 (tujuh) elemen penting.

Penulis menilai, hal ini lebih mudah di pahami dalam ruang pemahaman semua kalangan yang ingin mendalami kajian keilmuan antropologi.

Pertama; Habitus merupakan Produk sejarah. Habitus adalah produk sejarah yang menghasilkan praktik/prilaku individu atau kolektif (Bourdieu dalam Ritzer & Goodman).

Habitus terejawantahkan dalam hidup dan kehidupan yang diwariskan oleh perjalan sejarah, hal ini adalah sejarah sosial di mana habitus itu terjadi. Sebuah kebiasaan adalah sistem yang sudah bertahan lama, namun kebiasaan itu tidak begitu saja terjadi. Selain itu, pembentukan prilaku itu butuh upaya yang berkelanjutan dalam proses yang tidak pendek—mengingat hal tersebut telah bertahan sangat lama.

Kedua; Habitus adalah struktur yang dibentuk dan membentuk. Habitus menghasilkan dan dihasilkan oleh dunia sosial. Pada dimensi tertentu habitus menstrukturkan struktur; artinya habitus struktur yang menstrukturkan struktur dalam dunia sosial. Namun dalam dimensi yang lain habitus adalah struktur yang terstruktur; ini bermakna habitus yang distrukturkan oleh dunia sosial. Ini dapat kita terjemahkan, meskipun habitus adalah suatu struktur terinternalisasi yang menghambat pemikiran dan pilihan bertindak, namun ia tidak dapat menentukannya. Hal inilah yang membedakan ‘tiadanya determinisme’ adalah suatu hal utama yang membedakan posisi Bourdieu dari posisi strukturalis arus utama.

Ketiga; Habitus adalah struktur yang menstrukturkan. Habitus telah menjadi kesadaran dan sikap yang tertanam dalam setiap diri. Pada waktu tertentu kesadaran dan sikap tersebut menjadi persepsi, presentasi, dan tindakan seseorang.

Keempat; Meskipun habitus lahir dalam kondisi sosial tertentu, dia bisa dialihkan ke kondisi sosial yang lain dan karena itu bersifat transposable. Ini mengartikan sangat mungkin melahirkan kebiasaan sosial lain. Kebiasaan sosial yang dibentuk itu menjadi cara penyelesaian dari suatu masalah yang muncul dari suatu konteks sosial baru. Sehingga keniscayaan tidak akan terus ada, maka kebiasaan juga demikian, karena dapat dibuat atau dilakukan dalam konteks sosial yang berbeda.

Kelima; Habitus bersifat pra-sadar (preconcius). Habitus bukan merupakan hasil dari refleksi atau pertimbangan rasional. Kleden mengungkapkan ‘Habitus merupakan spontanitas yang tidak disadari dan tidak dikehendaki dengan sengaja.

Namun juga bukan suatu gerakan mekanistik yang tanpa latar belakang sejarah sama sekali’. Ritzer; Habitus bekerja dibawah alas kesadaran. Habitus bekerja di bawah level kesadaran dan bahasa, diluar jangkauan pengawasan dan kontrol instropeksi kehendak.

Habitus bergerak sebagai struktur, namun orang tidak hanya merespon secara mekanis terhadapnya atau terhadap struktur eksternal yang beroprasi padanya. Sebagai teori atau paradigma pedekatan, Bourdieu menghindari kutub ekstrem kebaruan yang tidak dapat diperkirakan dan determinisme total (Kleden, Binawan)

Keenam; Habitus bersifat teratur dan berpola, namun bukan ketundukan kepada peraturan-peraturan tertentu. Ketertundukan bukan berarti ketakutan pada sanksi atau hukuman. Namun lebih cenderung pada tumbuhnya rasa nyaman, senang, bangga dan adanya rasa kebahagiaan. Suatu tindakan baru dapat dikategorikan kebiasaan sosial, ketika aktor tidak lagi mengharap hadiah.

Ketujuh; Habitus dapat terarah kepada tujuan dan hasil tindakan tertentu, namun tanpa maksud secara sadar untuk mencapai hasil-hasil tersebut dan juga tanpa penguasaan kepandaian yang bersifat khusus untuk mencapainya. Tujuan yang sudah terinternalisasi itulah yang membangun sifat sosial, didalamnya terangkum kebutuhan bersama.

Habitus mengkonstruk hal-hal positif. Tujuan untuk kesejahteraan dan kenyamanan bersama itulah yang membedakan kebiasaan sosial yang dimaksud dalam pemahaman habitus dengan kebiasaan sopan santun. Karena itu pelanggaran yang dilakukan dalam habitus tidak akan mengoyak kebiasaan yang dibangun dalam sopan santun.

Ketujuh elemen penting yang dibaca Klenden di atas, akan menjadi sangat menarik ketika dilanjutkan dengan arena (ranah/field). Kajian Habitus dalam ranah dapat dijadikan sebagai suatu kerangka dalam membaca kebiasaan sosial yang telah lama terbentuk selain 7 elemen penting di atas. Bourdieu memandang Arena secara relasional dari pada struktur yang mempengaruhinya.

Keberadaan relasi-relasi ini terpisah dari kesadaran dan kehendak individu. Arena dalah jaringan relasi antar posisi objektif di dalamnya (Ritzer, 582).

Oleh karena itu arena kerap diterjemahkan terpisah keberadaannya ‘relasi-relasi ini terpisah dari kesadaran dan kehendak individu’. Arena merupakan; kekuatan yang digunakan dalam memperebutkan sumber daya atau modal atau untuk memperoleh akses tertentu yang dekat akses kekuasaan; Arena semacam hubungan yang terstruktur dan tanpa disadari mengatur posisi-posisi individu dan kelompok dalam tatanan masyarakat yang terbentuk secara spontan.

*Gunawan Hatmin (Mahasiswa UIN Alauddin Makassar)

Editor media warnasulsel.com - Portal media kiwari yang menyajikan berita lebih hangat berfokus berita pendidikan, sastra, buku dan literasi di sulawesi selatan

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *