Dunia
Ekoteologi Tidak Hidup di Slide
Oleh : Andi Ulfa Wulandari
(Dosen Aqidah dan Filsafat Islam UIN Alauddin)
Pengalaman berdiri dua meter dari seekor anoa di Citra Satwa Celebes mengubah cara membaca teks. Kedua matanya menyiratkan kebingungan dan kewaspadaan. Namun, para mahasiswa yang saya bawa menatapnya dengan takjub dan gembira karena baru kali pertama mereka menyaksikan anoa secara langsung. Realitas berbicara lebih keras, bahwa negara hari ini bukan hanya mengalami kelangkaan BBM, tapi juga kelangkaan satwa.
Tiba-tiba istilah khalifah fil ardh (penjaga di bumi) dan fasad fil ardh (kerusakan di bumi) yang biasa dibahas di kelas tidak lagi abstrak. Ia punya mata, punya napas, punya luka. Ekoteologi berhenti menjadi wacana dan mulai menjadi pertanyaan etis yang mendesak, kalau bumi terus diperlakukan sebagai warisan yang seenaknya dihabiskan, lalu apa arti amanah yang kita sandang?
Ekoteologi memaksa kita membaca dua kitab sekaligus, yaitu kitab yang tertulis dan kitab yang terbentang. Dalam Islam, relasinya sudah ditetapkan sejak awal. Manusia disebut “khalifah” dalam QS Al-Baqarah: 30. Kata “khalifah” tidak berarti pemilik absolut. Ia berarti wakil yang memegang amanah.
Ya, amanah itu berat. QS Al-Ahzab: 72 menyebut langit, bumi, dan gunung menolak memikulnya, tetapi manusia menyanggupinya. Konsekuensinya jelas bahwa setiap tindakan terhadap alam adalah tindakan yang kelak dimintai pertanggungjawaban. Tetapi, di era kontemporer ini manusia yang banyak menuntut pada alam dengan pertanyaan materialistis, “Apa yang dapat saya peroleh dari alam ini?” Bukan pertanyaan reflektif-spiritual, “Apa yang dapat saya berikan untuk alam?”
Ketika habitat dirusak, ketika spesies endemik terjerat dan punah, yang rusak bukan hanya ekosistem. Yang retak adalah amanah itu sendiri. Al-Qur’an menyebutkan bahwa kerusakan di muka bumi terjadi “karena perbuatan tangan manusia”. Ini bukan metafora puitis. Ini diagnosis hukum sebab-akibat yang sangat konkret, namun beberapa kalangan melakukan penyangkalan.
Kita diingatkan untuk menjaga “mizan” atau keseimbangan, namun yang terjadi adalah ketimpangan. Beberapa orang lebih bangga melihat gedung-gedung tinggi menjulang daripada melihat hutan dan satwanya terlindungi. Mereka lebih senang melihat truk lalu-lalang daripada burung yang beterbangan.
Realitas hari ini membalikkan logika amanah menjadi logika ekstraksi. Hutan diukur dari tonase kayu. Laut diukur dari tonase ikan. Bumi diperlakukan sebagai objek mati yang menunggu dieksploitasi nilainya. Perut bumi menganga akibat pertambangan yang dianggap sebagai solusi kemajuan ekonomi dan perluasan lapangan kerja. Namun, dalam kacamata ekoteologi ini bukan maslahat melainkan sikap tamak dan egosentrik yang bersembunyi di balik payung perekonomian. Padahal, kemajuan ekonomi dapat dilakukan melalui jalan ekonomi restoratif, agar tidak merusak keseimbangan alam.
Terdapat pergeseran paradigma, di mana alam ini diperlakukan seolah hak milik, dan ketika sesuatu dianggap milik, etika yang berlaku adalah etika pasar yaitu maksimalkan keuntungan, minimalkan biaya, dan eksternalisasi kerusakan. Kalau kita melihat tradisi Islam, kita mengenal konsep “hima” dan “harim” yang merupakan kawasan lindung untuk menjaga regenerasi alam. Nabi Muhammad Saw menetapkan hima di sekitar Madinah sebagai bentuk perlindungan sumber daya. Hal ini bukan kebijakan konservasi modern, namun lebih progresif daripada pemikiran kebanyakan manusia yang menganggap dirinya “maju” hari ini. Itu hukum syara’ yang memahami bahwa alam butuh ruang untuk pulih.
Sementara yang terjadi sekarang adalah kebalikannya. Deforestasi legal, perburuan liar, penimbunan air laut untuk pembangunan, penggarapan tanah persawahan untuk gedung-gedung, sehingga daerah serapan air semakin sedikit dan menyebabkan banjir setiap kali hujan.
Kita memang punya peraturan, tetapi kita kehilangan takwa ekologis, yaitu kesadaran bahwa setiap kerusakan akan dipertanggungjawabkan. Citra Satwa Celebes yang terletak di Kabupaten Gowa ini menjadi salah satu pilihan saya untuk membawa mahasiswa belajar di alam secara nyata. Pengetahuan harus memiliki wajah. Teori tanpa praktik dan pengalaman langsung akan mandek menjadi wacana. Ekoteologi membutuhkan wajah, suara, dan luka yang konkret agar tidak berubah menjadi artikel jurnal yang dikutip tetapi tidak mengubah apa-apa. Ekoteologi tidak hanya berhenti di slide presentasi dalam forum-forum ilmiah, tapi harus turun dan menyentuh titik di mana manusia kembali menyadari bahwa dirinya juga adalah makhluk spiritual.
Kita hidup di zaman di mana melihat anoa di layar HP lebih mungkin daripada melihatnya di hutan asalnya. Itu bukan kemajuan. Itu peringatan. Ekoteologi menuntut pilihan yang tegas, menjadi generasi yang mencatat kepunahan dalam jurnal, atau menjadi generasi yang menghentikannya di lapangan. Menjaga bumi bukan tambahan etis. Ia adalah konsekuensi logis dari kesaksian bahwa Allah adalah Rabb semesta alam.
Merusak semesta adalah bentuk pengingkaran paling nyata terhadap kesaksian itu, dan amanah yang kita sandang tidak akan turun dengan sendirinya. Ia menuntut kita untuk menjaga apa yang dititipkan, sebelum yang tersisa hanya kandang karantina dan penyesalan.

