Connect with us

Kolom

Palestina dan Umat Muslim Semakin Gelap

Published

on

Spread the love

Oleh: Ulianafia (Ummu Taqyuddin)

Konflik Palestina, yang telah berlangsung selama puluhan tahun, kembali menunjukkan fakta bahwa Zionis Israel tidak pernah benar-benar menginginkan perdamaian. Sejarah mencatat berbagai pengkhianatan yang dilakukan oleh Israel dalam perjanjian-perjanjian damai, di mana mereka kerap melanggarnya dengan melakukan serangan militer baru. Termasuk dalam genjatan senjata Febuari tahun 2025 ini. Belum berlanjut kepada tahapan kedua sudah terjadi penghianatan dari kaum zionis.

Bahkan di bulan suci Ramadan, agresi terhadap rakyat Gaza terus meningkat, dengan serangan udara yang membunuh anak-anak, perempuan, dan warga sipil yang tidak bersenjata dengan korban tewas mencapai 413 orang. Sementara itu, lebih dari 600 orang lainnya mengalami luka-luka.

Kejahatan perang ini terjadi di hadapan dunia yang seolah hanya menjadi penonton, terkhusus bagi para pemimpin muslim. sementara itu mereka selalu berharap pada organisasi seperti PBB dan negara-negara Barat atas solusi kejahatan zionis Israel ini. Mereka menampakkan ketulian dan kebutaan semata, bahwa sejatinya pendukung dan musuh sejati adalah AS dan sekutunya, begitupun dengan PBB sebagai anak kandung dari AS.

Di sisi lain, umat Muslim global, termasuk di Indonesia, perhatiannya pada Palestina nampak semakin berkurang karena tertutup beragam berbagai persoalan-persoalan dalam negeri.

Krisis ekonomi yang semakin menghimpit akibat dari kenaikan pajak yang berimbas pada melonjaknya harga kebutuhan pokok; meningkatnya angka PHK hingga 44.069 buruh terkena PHK dari 37 perusahaan; korupsi fantastis Pertamina, korupsi PT Timah, korupsi Duta Palma, korupsi Hasto Kristiyanto, korupsi Thomas Lembong, dan korupsi PLN.

Kehidupan yang nampak semakin gelap dan tidak nampak akan ada perbaikan maka rakyatpun lebih sibuk dengan urusan kehidupan mereka sendiri. Begitupun dengan pemerintah yang nampak lebih fokus dan sibuk pada kebijakan-kebijakan yang menguntungkan dan mengamankan pada kelompok dan kalangan mereka sendiri daripada mengurusi urusan umat, sebut saja pembentukan lembaga danantara dan revisi UU TNI.

Persatuan Umat dalam Sistem Islam

Dari realitas ini, sudah seharusnya umat Islam menyadari bahwa mengandalkan negara-negara Barat seperti Amerika Serikat atau institusi global seperti PBB hanyalah ilusi. Mereka sejak awal berpihak kepada Israel dan telah terbukti tidak pernah benar-benar membela Palestina.

Sebaliknya, mereka justru menjadi bagian dari masalah dengan memberikan dukungan politik, ekonomi, dan militer kepada Israel. Oleh karena itu, umat Islam harus berhenti berharap kepada mereka dan mulai mencari solusi yang sejati dalam Islam.

Begitupun berbagai penderitaan hidup yang terjadi secara global yang menimpa umat ini tidak akan bisa berharap pada solusi-solusi dari sistem buatan manusia, yaitu sistem kapitalisme sekuler yang diusung oleh AS dan sekutu-sekutunya. Tentu berharap perbaikan pada sistem yang memusuhi islam, hanyalah bunuh diri semata.

Umat harus segera menyadari siapa musuh mereka sebenarnya dan kembali pada fitrah mereka yaitu Islam. Islam mengajarkan bahwa kekuatan umat terletak pada persatuannya. Dalam sejarah Islam, ketika umat Muslim berada di bawah naungan Khilafah Islamiyah, mereka memiliki kekuatan untuk melindungi diri dan membela saudara seiman mereka di berbagai belahan dunia. Ketika umat Islam bersatu dalam satu kepemimpinan Islam, mereka mampu menghadapi musuh-musuh mereka, baik dari kalangan Yahudi Zionis maupun kekuatan imperialis lainnya. Serta akan merasakan kehidupan yang mulia dan berwibawa dalam naungan sistem Islam. Sebab, hanya Islamlah yang memiliki aturan yang adil dan menyeluruh.

Kini, satu-satunya solusi yang tersisa bagi umat Islam adalah kembali kepada Islam secara kaffah (menyeluruh) dan berjuang untuk mewujudkan kembali persatuan mereka dalam sistem Islam. Hanya dengan cara ini, umat Islam dapat membebaskan Palestina dan melindungi kaum Muslimin di seluruh dunia dari kezaliman.

Kehidupan yang penuh kesejahteraan dan kemuliaan sebagaimana yang terjadi di masa Khilafah Islamiyah tidak akan terwujud jika umat masih terpecah-belah dan terus bergantung pada sistem yang dibuat oleh musuh-musuh mereka.

Saatnya umat Islam bersatu dalam satu barisan perjuangan, meninggalkan perbedaan yang melemahkan, dan bergerak bersama dalam satu kepemimpinan Islam yang kuat. Hanya dengan demikian, kemenangan atas musuh-musuh Islam akan menjadi kenyataan, dan kehidupan yang penuh keadilan serta kemuliaan akan kembali dirasakan oleh seluruh umat Muslim di dunia.

Wallahu’alam

—
*Ulianafia, lahir di Pacitan 1991, menempuh pendidikan terakhir S1 dipacitan. Selain menyukai literasi, ia aktif dalam dakwah, pemerhati keluarga dan politik

Editor media warnasulsel.com - Portal media kiwari yang menyajikan berita lebih hangat berfokus berita pendidikan, sastra, buku dan literasi di sulawesi selatan

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *