Kolom
Reinkarnasi Orde Baru yang Terbaru
Oleh: Umar Salam (Mahasiswa Ilmu Politik UIN Alauddin Makassar)
Darurat, Darurat, Darurat! Inilah seruan yang paling tepat untuk menggambarkan keadaan bangsa Indonesia saat ini. Melihat fenomena yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, kita dihadapkan pada berbagai masalah yang terus menghambat kebebasan individu, memenjara hak-hak dasar, dan membungkam suara-suara yang dianggap tidak sejalan dengan kekuasaan yang ada.
Masalah-masalah ini bukan hanya sekedar wacana, namun kenyataan yang nyata terasa di setiap sudut penjuru negeri. Fenomena ini seolah menciptakan sebuah sistem yang mencekik rakyat, membatasi ruang gerak mereka, dan membawa kita kembali ke era yang penuh dengan hegemoni dan penindasan.
Perjalanan demokrasi di Indonesia telah menempuh jalan yang penuh liku. Proses pemilihan yang seharusnya menjadi ajang kebebasan suara rakyat, malah lebih terasa sebagai acara seremonial belaka. Kepemimpinan yang terpilih bukanlah bentuk pembaharuan, namun justru membawa kita kembali ke dalam penjara demokrasi, mengurung kebebasan dan cita-cita rakyat. Hal itu mencerminkan bagaimana sistem politik dan konstitusi yang ada saat ini sudah berada pada titik kritis, yang mengancam keberlangsungan sebuah negara yang adil dan berdaulat.
Lebih lanjut, kita bisa menyaksikan bagaimana konsep sentralistik semakin dihidupkan kembali, dengan pengurangan otonomi daerah yang semula memberikan ruang bagi keberagaman dan kebebasan daerah untuk berkembang. Proses efisiensi anggaran yang mengatasnamakan kesejahteraan rakyat hanya menjadi dalih untuk menutup-nutupi kenyataan bahwa kekuatan baru diberikan kepada aparat militer yang semakin besar. Hal ini mencerminkan kembalinya semangat Orde Baru yang dengan jelas mereduksi kebebasan sipil, serta membuka peluang bagi kekuatan militer untuk kembali menguasai kehidupan Politik.
Keadaan ini semakin memperburuk nasib kelas menengah yang terdesak, yang terpaksa bertahan hidup dalam ketidakpastian. Banyak di antara mereka yang harus merelakan pekerjaan mereka melalui PHK, sementara pajak dan beban hidup semakin berat. Mereka berjuang di tengah serigala kapitalisme yang tak kenal ampun, dan tidak jarang mereka terjebak dalam keadaan yang seolah tak terhindarkan. Ini adalah dampak dari sistem yang tidak berpihak pada rakyat, melainkan hanya berpihak pada kekuatan yang ingin mempertahankan status quo mereka. Reformasi 1998 seharusnya menjadi titik balik bagi Indonesia, memberikan harapan bagi masyarakat untuk hidup layak sebagai manusia yang bebas dan setara.
Seperti yang tertuang dalam Q.S. Al-Isra ayat 70, yang menekankan bahwa setiap manusia berhak untuk hidup dengan kebebasan dan kesetaraan. Namun, meski reformasi membuka harapan baru, kita tetap menyaksikan usaha untuk menghidupkan kembali kekuatan militer di ruang publik, yang dengan jelas mengancam kebebasan itu sendiri. Keputusan untuk melibatkan militer dalam kehidupan sipil hanya akan semakin mengekang kebebasan rakyat untuk hidup sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia.
Tidak hanya itu, penguasa yang pernah berkuasa pada era Orde Baru juga tidak bisa lepas dari tanggung jawab atas kekayaan yang mereka curi dari negara ini. Mereka tidak hanya meninggalkan kerugian material yang sangat besar, tetapi juga luka mendalam dalam sejarah bangsa ini. Upaya untuk mensterilkan peristiwa sejarah, seperti yang disuarakan oleh beberapa tokoh, hanya akan mengaburkan kebenaran dan menutupi kesalahan masa lalu. Sejarah yang penuh luka itu jangan pernah dilupakan, karena hanya dengan memahami dan mempelajari masa lalu kita bisa menghindari kesalahan yang sama di masa depan.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Prof. Dr. Sartono Kartodirjo, kaum intelektual memiliki peran yang sangat besar dalam memperbaiki keadaan bangsa yang kini tampak semakin buruk. Mereka adalah kekuatan inti yang bisa membawa perubahan melalui daya cipta dan kerja keras. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita semua untuk merenungi dan belajar dari sejarah, agar kita tidak terjebak dalam kesalahan masa lalu yang bisa menghancurkan masa depan.
Bagaimana mungkin kita bisa meraih Indonesia Emas jika kita tidak memahami dengan benar keadaan kita saat ini? Untuk itu, kita harus menyadari bahwa sejarah bangsa ini bukanlah sebuah kenangan yang harus dilupakan, melainkan sebuah pelajaran berharga untuk memperbaiki masa depan. Mari kita mengambil peran ditengah kebobrokan rezim saat ini dan bersama-sama berserikat untuk melawan system yang terlihat rapi ini, demi terwujudnya Masyarakat adil dan Makmur.

