4 penulis Sulsel terpilih jadi penulis bahan bacaan literasi baca-tulis Kemendikbud 2019

WARNASULSEL.com – Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Dadang Sunendar, memberikan sambutan pada pembukaan kegiatan Pertemuan Penulis Bahan Bacaan Literasi Baca-Tulis, di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Rabu (24/4/2019).

Kegiatan yang diikuti oleh 90 penulis dengan 170 karya ini, merupakan salah satu implementasi dari kebijakan tentang gerakan literasi di tanah air.

“Tujuan pertemuan ini adalah untuk memberikan ruang bagi penulis dalam memperbaiki karyanya dari segi konten, grafika, dan penyajian,” ungkap Dadang Sunendar.

“Nantinya,” kata Dadang “karya mereka dapat digunakan sebagai media bagi pengajar atau penggiat literasi untuk menebarkan virus literasi di Indonesia.



Kegiatan pertemuan penulis bahan bacaan literasi baca-tulis tahun 2019 ini merupakan kelanjutan dari program Gerakan Literasi Nasional (GLN) tahun 2018.

“Tahun ini ada lebih dari 600 yang mendaftar untuk membuat buku-buku bacaan literasi, dan oleh teman-teman di Pusat Pembinaan Bahasa diseleksi menjadi 95. Buku teman-teman penulis ini sekarang posisinya sudah selesai kurang lebih sekitar 30%-40%, dan dalam 3-4 hari ke depan ini, mereka akan memperoleh masukan pembekalan dari para penulis ahli, para penggiat literasi, dan penjelasan mengenai sasaran-sasaran buku yang ditulis oleh mereka,” terang Dadang Sunendar yang juga Guru Besar UPI Bandung itu.

Dari 95 penulis yang diundang, terdapat empat orang dari Sulawesi Selatan. Mereka adalah Andi Makkaraja, Sabir (S. Gegge Mappangewa), Nurmadia Syam (Madia Gaddafi) dan Muhammad Randhy Akbar.

Baca juga: Talkshow edukasi smsg: anak-anak kita krisis pendidikan karakter

Setelah acara pembukaan, reporter warnasulsel mewawancarai salah satu perwakilan dari Sulsel melalui pesan WhatsApp. Dia adalah Andi Makkaraja.

Andi Makkaraja merupakan penulis asal Bulukumba. Ia mengatakan jika seleksi GLN tahun ini lebih rumit dibanding seleksi tahun lalu.

“Untuk seleksi penulis GLN tahun ini syaratnya lebih banyak daripada tahun sebelumnya. Kalau di tahun-tahun sebelumnya cukup mengirimkan beberapa eksemplar cetakan buku karya kita, tahun ini sudah tidak seperti itu lagi,” kata Andim, sapaan akrabnya.

“Lebih tepatnya tahun ini bukan seleksi buku, tapi seleksi penulis, jadi ada syarat yang mengarah ke subjektivitas penulis, seperti buku yang pernah diterbitkan dan prestasi-prestasi apa yang pernah diraih. Selain itu, juga harus mengirimkan rancangan naskah yang akan ditulis jika terpilih nanti dan beberapa eksemplar contoh buku yang pernah diterbitkan.”



Ia melanjutkan, jika seleksi tahun ini penilaiannya lebih mengarah kepada kemampuan individu penulis.

Dirasakan Andim, ada beberapa kendala yang sempat ia hadapi saat ingin mengikuti lomba tersebut. Seperti tidak punya buku anak seperti yang dipersyaratkan panitia.

“Saya belum pernah menerbitkan buku anak jenjang kelas bawah SD atau PAUD. Ya, jalan keluarnya sesegera mungkin menulis dan menerbitkan terlebih dulu buku semacam itu,” jelasnya.

Terkait tips, ada beberapa hal yang dibocorkan oleh Andi Makkaraja, bagaimana agar rancangan naskah buku bisa lolos seleksi.

“Khusus untuk mengikuti seleksi GLN, ya naskah mesti beda. Artinya ada kekhasan dari tulisan kita. Konten cerita yang kita angkat harus unik dan sebisa mungkin memuat unsur semangat literasi,” tegasnya.

Baca juga: Skorsing mahasiswa UIN Alauddin Makassar dan adat istiadat institusi pendidikan

Selanjutnya, ia menceritakan bahwa selain ada syarat naskah yang dibuat, ada juga syarat pengiriman buku yang telah ditulis.

Andi Makkaraja mengaku mengirim naskah buku yang telah ia terbitkan di Jariah Publishing berjudul Geng Penyelamat Sungai dan satu rancangan buku yang sedang ditulisnya berjudul “Belajar Bisa di Mana Saja.”

“Rancangan naskah saya yang diterima (Belajar Bisa di Mana Saja, Red.) bercerita tentang anak-anak jalanan yang membuat sekolah pohon di pantai tanah beru, Bulukumba.”

Saat ditanya tentang apa makna judul rancangan buku yang sementara ia tulis dan akan dijadikan buku pegangan anak PAUD itu ia menjawab dengan jelas.

“Belajar tak harus di sekolah. Belajar bisa di mana saja, bisa di bawah pohon atau di bangkai kapal yang rusak,” tutup pria kelahiran Bulukumba, 10 Oktober 1990 ini. (mgp)

Editor @warnasulselcom

Portal media kiwari yang menyajikan berita lebih mendalam

View Comments

    Recent Posts

    • Daerah
    • Peristiwa

    FLP ranting UINAM gelar pelantikan, upgrading dan raker periode 2019-2020

      WARNASULSEL.com - Sebagai agenda lanjutan dari Musyawarah Ranting pada 20 Oktober 2019 lalu, Forum Lingkar Pena melaksanakan Pelantikan, Upgrading…

    1 week ago
    • Daerah
    • Peristiwa

    M Galang Pratama beri motivasi literasi di SD Kompleks Borong

      WARNASULSEL.com - Khusus untuk SD Negeri Borong, anak-anak diajak melakukan field trip ke beberapa tempat.     Setiap kelompok…

    1 week ago
    • Daerah
    • Peristiwa

    Tagana masuk sekolah di SD Kompleks Borong

        WARNASULSEL.com - Pagi itu, Kamis, 7 November 2019 ratusan anak dari SDN Borong dan SD Inpres Borong berkumpul…

    1 week ago
    • Daerah
    • Peristiwa

    Pertemuan perdana Fokasi IT Pelajar Makassar

          WARNASULSEL.com - Forum Komunikasi IT atau Fokasi Pelajar Makassar menggelar pertemuan perdananya, Sabtu (2/11/2019).   Kegiatan yang…

    2 weeks ago
    • Peristiwa

    Lomba debat ilmiah meriahkan selebrasi bulan bahasa SMAIT Nurul Fikri Makassar

        WARNASULSEL.com - Literasi Sains dikenal sebagai jenis literasi dasar yang menghadirkan banyak informasi kepada pembaca atau pendengar.  …

    2 weeks ago
    • Cawah
    • Uncategorized

    Street quotes ini bisa bikin kamu seketika merenung

    WARNASULSEL.com-  Dikutip dari laman FB Haru D. Fold, beberapa street quotes ini bisa membuat kita sejenak merenung. Terutama banyak dari…

    3 weeks ago