Connect with us

Kolom

Apakah Pendidikan Indonesia Kehilangan Etika Dan Moral?

Published

on

Spread the love

Penulis : Andika Pratama

Berbagai kasus yang terjadi di dunia pendidikan Indonesia belakangan ini menunjukkan gejala serius hilangnya etika dan moral sebagai nilai dasar dalam proses pendidikan. Dunia pendidikan yang seharusnya menjadi ruang aman untuk pembentukan karakter justru dipenuhi masalah hubungan antara siswa dan guru. Peristiwa kekerasan, terungkap, hingga pengeroyokan terhadap guru menjadi topik hangat yang terus diperbincangkan di tengah masyarakat dan mencerminkan kemerosotan etika yang semakin berdampak.

Peristiwa yang terjadi di kalangan siswa dan guru ini sangat memalukan, karena mencerminkan keseriusan dalam aspek etika dan moral pendidikan. Kondisi tersebut menunjukkan pergeseran nilai yang cukup tajam jika dibandingkan dengan dunia pendidikan pada masa lalu, di mana guru Ditempatkan sebagai figur yang dihormati, diteladani, dan dijunjung tinggi martabatnya oleh para siswa. Pada masa itu, hubungan antara siswa dan guru dibangun atas dasar adab, sopan santun, serta kesadaran moral akan pentingnya menghargai ilmu dan pendidiknya.

Namun seiring perkembangan zaman, kenyataan yang terlihat justru menunjukkan semakin berkurangnya rasa hormat siswa terhadap guru. Fenomena ini tidak hanya berdampak pada menurunnya wibawa pendidik, tetapi juga berpotensi menggerus tujuan utama pendidikan itu sendiri, yakni terbentuknya karakter, kepribadian, dan nilai-nilai moral generasi muda. Kasus pengeroyokan guru oleh siswa bukan sekedar kejadian individu, melainkan cermin kegagalan sistemik dalam menanamkan nilai hormat, tanggung jawab, dan adab. Guru yang sejatinya berperan sebagai pendidik, pembimbing, dan teladan justru diposisikan sebagai pihak yang dapat melawan dengan kekerasan. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian siswa kehilangan pemahaman mendasar tentang etika hubungan sosial, terutama dalam menjaga otoritas moral dan intelektual di lingkungan sekolah.

Hilangnya etika siswa tidak terjadi secara tiba-tiba. Pendidikan saat ini terlalu menekankan pencapaian akademik dan kompetisi, sementara pendidikan karakter hanya menjadi jargon normatif dalam kurikulum. Sekolah lebih sibuk mengejar nilai, peringkat, dan akreditasi, namun lalai membentuk sikap, empati, dan pengendalian diri siswa. Akibatnya, siswa tumbuh dengan kecerdasan kognitif yang tidak seimbang dengan kedewasaan moral, sehingga mudah meluapkan emosi, menolak nasihat, dan merespons konflik dengan kekerasan.

Di sisi lain, melemahnya wibawa guru juga memperparah situasi. Guru sering berada dalam posisi serba salah menegur siswa berisiko dilaporkan, janji tegas dianggap sebagai hak anak, sementara janji justru diartikan sebagai kelemahan. Ketika institusi pendidikan dan regulasi tidak memberikan perlindungan yang tegas kepada guru, siswa semakin kehilangan batas etika dalam izinnya. Guru tidak lagi dipandang sebagai figur yang harus dihormati, melainkan sebagai objek yang dapat diprotes, dilawan, bahkan diserang secara fisik.

Fenomena ini juga tidak terlepas dari pengaruh lingkungan sosial dan budaya digital. Media sosial, tayangan kekerasan, serta minimnya keteladanan di ruang publik membentuk karakter siswa yang reaktif dan permisif terhadap tindakan agresif. Sekolah gagal menjadi benteng nilai ketika moral pendidikan tidak diperkuat secara konsisten, baik di ruang kelas maupun dalam kebijakan institusional.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, pendidikan Indonesia akan melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual namun miskin etika dan empati. Kekerasan terhadap guru bukan hanya ancaman bagi dunia pendidikan, tetapi juga merupakan sinyal bahaya bagi masa depan bangsa. Oleh karena itu, pendidikan harus segera dikembalikan pada hakikatnya: membentuk manusia yang berpengetahuan sekaligus beradab. Tanpa etika dan moral, pendidikan kehilangan maknanya dan hanya akan menjadi pabrik konflik yang merusak tatanan sosial.

Persoalan yang terjadi dalam dunia pendidikan sejatinya bukan semata-mata tentang benar atau salah, melainkan tentang bagaimana karakter peserta didik dibangun melalui penanaman etika dan nilai moral yang baik. Salah satu nilai fundamental yang patut terus ditanamkan adalah sikap menghormati guru di sekolah, karena pada hakikatnya guru merupakan orang tua kedua bagi siswa dalam proses pembentukan ilmu, sikap, dan kepribadian. Oleh karena itu, setiap peserta didik membayangkan membayangkan kesadaran diri untuk selalu menjunjung tinggi rasa hormat kepada guru sebagaimana menghormati orang tua sendiri.

Apabila dalam proses pendidikan terdapat kekeliruan atau kesalahan yang dilakukan oleh guru, hal tersebut tidak sepatutnya menghadapi perlawanan, apalagi menggunakan kekerasan. Dunia pendidikan tidak pernah mengajarkan siswa untuk melawan orang tua di sekolah dengan cara-cara yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan etika. Kekerasan justru mencederai esensi pendidikan sebagai ruang pembelajaran yang menjunjung tinggi akal budi, dialog, dan penyelesaian masalah secara beradab. Oleh karena itu, sangat penting apabila peristiwa semacam ini terus terulang di kemudian hari, karena selain menimbulkan luka batin yang mendalam, juga menjadi cerminan kegagalan dalam membangun karakter dan moral generasi penerus bangsa.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *