Connect with us

Kampus

Tumpukan Teks di Era Mager

Published

on

Spread the love

Oleh: Septya Ninda

Zaman sekarang yang serba digital dan serba instan membuat kita semakin mager “malas Gerak” pokoknya apa-apa itu serba malas apalagi membaca tumpukan teks banyak bikin sakit mata, bikin sakit kepala, dan banyak lagi hambatan-hambatan yang muncul satu persatu.

Budaya mager menjadi tantangan tersendiri bagi banyak intelektual muda, terutama pada studi naska filsafat. Bayangkan, mempelajari filsafat itu identik dengan membaca tumpukan teks yang panjang, padat, dan penuh konsep. Bukan hal yang mudah dilakukan ketika godaan cepat dan praktis sangat kuat.

Tumpukan teks filsafat di tengah kehidupan digital yang menuntut kecepatan dan efisiensi, intelektual muda harus berjuang melawan kebiasaan mager yang membuat mereka cenderung menghindari bacaan berat. Ini adalah tantangan terbesar dalam menjaga kualitas studi dan pemahaman filsafat yang mendalam.

Kita hidup di zaman di mana informasi bisa diakses dalam hitungan detik tapi di sisi lain kedalaman pemikiran nggabisa didapat cuma dari scrolling cepat atau nonton video singkat. Belajar filsafat itu butuh waktu, fokus, dan tahan banting sama rasa bosan. Itulah musuh terbesar generasi mager.

Namun karna era digital justru sekarang banyak peluang untuk menjembatangi tumpukan teks berat dengan cara yang lebih ringan dan juga mudah di akses seperti naska-naska filsafat tersedia di perpustakaan digital, e-book, dan juga kita bisa berdiskusi online di sosial media sehingga dapat bertukar pengetahuan dan mempermudah memecahkan permasalahan yang tidak di mengerti.

Jadi sebenarnya, kita cuma butuh kemauan untuk memulai, baca pelan-pelan, diskusi bareng teman, atau cari pengantar ringan. Dengan cara ini, tumpukan teks bukan lagi masalah atau hambatan tapi jadi jendela untuk ilmu pengetahuan yang lebih luas.

Di era mager studi filsafat memang bukan hal yang gampang tapi justru itu tantangan berani melawan rasa malas demi ilmu yang mendalam. Karena menjadi intelektual bukan soal kelihatan pintar, tapi soal mau berfikir, merenung, dan terus belajar meski pelan asal konsisten.

“Bukan karna hidup kita singkat, tapi karena kita banyak menyia-nyiakan” _ Seneca.

Makna: Seneca menegaskan bahwa waktu sebenarnya cukup, tapi kita sering membuangnya dengan hal-hal yang tidak produktif, termasuk bermalas-malasan.

Septya Ninda
mahasiswa jurusan Aqidah dan filsafat Islam
Kampus UIN Alauddin Makassar, Samata gowa

Editor media warnasulsel.com - Portal media kiwari yang menyajikan berita lebih hangat berfokus berita pendidikan, sastra, buku dan literasi di sulawesi selatan

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *