Connect with us

LIFESTYLE

Dari Bentor ke Rektor: Perjuangan Dg Nyarrang

Published

on

Dari Bentor ke Rektor: Perjuangan dg Nyarrang
Spread the love

Pada 1920, Dg Nyarrang lahir di sebuah kelurahan kecil di Kallongtala, Sungguminasa Kabupaten Gowa, di tengah keluarga yang lebih miskin dari sendok tanpa nasi. Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan kerasnya hidup. Sarapan paginya sering kali hanya sebatas angin segar yang berhembus dari sawah, dan makan malamnya bergantung pada kemurahan hati tetangga yang kebetulan masak lebih.

Saat usianya cukup untuk menjejakkan kaki di jalanan, Dg Nyarrang menjadi seorang pabentor—pengemudi bentor (becak motor). Dengan bentor tua yang sering batuk-batuk lebih sering daripada pemiliknya, ia mengaspal jalanan Kallongtala, mengangkut penumpang dari pasar ke rumah, dari rumah ke sawah, dan dari sawah kembali ke pasar lagi. Meski hidupnya pas-pasan, semangatnya tak pernah kempis seperti ban bentornya yang sering bocor.

Tapi Dg Nyarrang bukan orang yang hanya puas dengan nasib. Ia ingin anaknya, Dande, tak perlu mengulang hidup kerasnya. Maka, ketika Dande menunjukkan bakatnya dalam belajar—bukan hanya bakat tidur di kelas seperti teman-temannya—Dg Nyarrang pun mulai menabung.

Tanah warisan keluarganya yang luas, yang dulu menjadi tempatnya bermain layangan, satu per satu dijualnya. “Mana tanahku labbusu kubalukang, yang penting anakku jai ilmuna,” katanya sambil menandatangani surat jual beli dengan tangan sedikit gemetar. “Tau maraeng nabalukang tanahna nampa napaballi oto atau motoro, anne mae napake napassikola anakna,” gosip tetangga Dg Nyarrang. Tapi Dg Nyarrang tetap teguh.

Dande pun melangkah jauh dari Kallongtala, terbang menyeberangi lautan ke Australia. Di sana, ia belajar dengan gigih, meski awalnya kaget melihat harga seporsi nasi di kantin lebih mahal dari gaji sebulan bapaknya sebagai pabentor. Namun, Dande tak menyerah. Ia bekerja serabutan, dari mencuci piring di restoran sampai menjadi asisten dosen. Setiap kali lelah, ia ingat pesan bapaknya, “Ilmu lebih mahal dari harga bensin bentorku, jadi jangan sia-siakan.”

Bertahun-tahun kemudian, kerja keras itu berbuah manis. Dande bukan hanya menjadi sarjana, tapi juga profesor. Ia bahkan diangkat menjadi rektor di salah satu universitas ternama. Ia menulis buku yang menceritakan perjalanan hidupnya—kisah dari seorang anak pabentor hingga pemimpin akademik.

Ketika kabar ini sampai ke kampungnya, Dg Nyarrang yang sudah pensiun dari dunia bentor duduk di teras rumah, menikmati segelas kopi hitam. “Eh, Dande sudah jadi rektor, Nyarrang!” kata seorang tetangga. Dg Nyarrang tersenyum, lalu menyeruput kopinya pelan-pelan. “Alhamdulillah, suksesmi anakku, I Dande. Tapi nia’ inji poeng se’re mimpiku anne kodong…”

“Apa itu?” tanya tetangganya.

“Erok tonga a’dongko kappala’ ribba, supaya teai bentor tonji lebba kulurang. Erok tonga kusa’ring rasai antekamma punna a’ribbakki rate ri langi’”

Semua yang mendengar tertawa, sementara Dg Nyarrang hanya tersenyum. Dalam hatinya, ia bersyukur. Perjalanannya panjang, penuh pengorbanan, tapi hari itu, ia tahu, semua tidak sia-sia.

Editor media warnasulsel.com - Portal media kiwari yang menyajikan berita lebih hangat berfokus berita pendidikan, sastra, buku dan literasi di sulawesi selatan