Sudah berangkat orang-orang yang belanja di kedai Januar

SUDAH tiga hari Januar berkedai. Mengambil tempat depan rumah papannya, ia dirikan sebuah kedai papan dengan atap daun rumbia. Menyediakan mi rebus, mi goreng, teh, kopi, kopi susu, dan rokok.

Istrinya yang tukang kredit prihatin melihat kesehatan Januar, yang tidak lagi bisa bakarajo kareh (bekerja yang berat-berat) menurut dokter. Sebelumnya Januar bekerja di pasar sebagai kuli angkut.

Kalau tidak sedang hari pasar, ia jadi tukang amplas di sebuah usaha perabotan. Istrinya yang memberi modal Januar, sejuta untuk buka usaha di rumah.

Riki, tetangga depan rumah Januar, tiga hari belakangan ini duduk-duduk di kedai itu bila siang hari. Riki yang tukang bangunan itu sedang tidak ada kerja.

Daripada bermenung di rumah–daripada duduk sendiri bersempit-sempit, lebih baik duduk bersama berlapang-lapang menurut pepatah–lebih baik bersama Januar.

Setiap dia ke sana selalu didatangi istrinya, Fita, kemudian.

Siang itu, baru saja menerima telepon dari adiknya di Jakarta, Fita langsung menghampiri kedai Januar yang sampai hari ke-3 belum juga ada satu pun orang yang membeli.

Riki, si suami, sedang bermenung di palanta kedai. Sedangkan Januar juga bermenung, di palanta yang satu lagi.

Belum lagi Fita sempat duduk, Januar sudah menimpali.

“Tidak perlu lagi kau ceritakan tentang kehidupan sanak kau di Jakarta itu. Bosan aku. Setiap kau ke sini, itu terus cerita kau,” kata Januar bangkit dari ketermenungannya.

Sebenarnya, belum lagi Januar berkedai, Fita sudah sering juga main ke rumah Januar. Mengobrol dan bersenda dengan istri Januar, bernama Anis, bila si istri sedang di rumah siang hari.

Obrolannya macam-macam tapi selalu ada terus yang menyerempet kepada kehidupan sanaknya di Jakarta.

Baca juga: Pak Wib dan sepotong cerita tentang polisi

Fita kakak-beradik empat orang. Dua perempuan dan dua laki-laki.

Setelah bisa mengontrak toko–berjualan sete padang–, Suardi, begitu nama kakak laki-laki Fita yang di Jakarta itu, membawa semua adiknya tinggal di Jakarta. Itu untuk membantu usaha Suardi.

Jika kelak sudah pandai mandiri, adik-adiknya itu diharapkan bisa pula membuka usaha sendiri–sudah lima belas tahun Suardi hidup di Jakarta, adik-adiknya sudah sepuluh tahun.

Setiap dengar cerita Fita tentang sanaknya di Jakarta, Anis selalu mengernyitkan kening. Bukan tak percaya–walau dilebih-lebihkan–, tapi karena cerita itu sudah diputar berulang-ulang.

Suardi sudah punya istri, sudah punya anak, sudah punya rumah, sudah beli mobil, atau adik-adiknya yang sudah pula berkeluarga dan punya usaha masing-masing.

Cerita itu diputar secara mendetail lengkap dengan lika-likunya. Selalu pula bilang, ”Begitu orang merantau.” Seperti menggurui–maklumlah, Anis tidak punya sanak di rantau, jika menyela takut nanti dibilang “iri”.

Rupanya cerita-cerita seperti itu belum tuntas pada Anis saja tapi diulang lagi kepada Januar. Tentu saja Januar jadi acuh tak acuh saja ketika Fita mulai duduk di sebelah suaminya pada siang yang terik itu.

“Tidak perlulah cerita-cerita masalah perantauan lagi. Sekarang masalahnya sudah tiga hari aku berjualan, belum ada orang yang membeli jualanku,” kata Januar.

“Selama kau duduk di sini, juga suamimu, tidak pernah membeli jualanku. Sekarang belilah jualanku. Kopi saja, atau teh sudah cukup. Tanda pelaris jadilah,” tambahnya.

Mendengar kata begitu dari Januar, Riki hanya manggut-manggut dan tidak mengeluarkan kata-kata apa pun. Lalu melihat wajahnya istrinya. Fita hanya senyam-senyum.

“Aku tidak mengopi, Januar,” kata Fita.

“Ya, laki kau masa’ tidak mengopi. Atau teh.”

“Tidak biasa dia minum kopi siang hari, Januar. Dia kalau minum kopi pagi dengan malam saja.”

Januar hanya mendehem. Maklum. Ia sudah begitu kenal watak Fita. Istri Riki itu pandai benar hidup berhemat–kalau tidak boleh dibilang pelit.

Uang hasil jerih payah suaminya bermanfaat benar olehnya. Beli tempat tidur, sofa, keramik rumah, ataupun mengganti atap rumah yang bocor. Masalah selera Fita termasuk pelit juga.

Baca juga :  Manusia yang diusir hutan

Tak pernah Januar melihat perempuan itu membeli kue ke warung, atau memanggil pedagang gerobak yang lewat sekali pun.

Lagi pula, di pekarangan rumah, apa pun yang tumbuh berbuah dan apa pun yang berguna bisa jadi uang olehnya. Jambu air berbuah, jadi uang. Dijual ke pasar. Sampai daun kunyit untuk menggulai, jika ada orang yang meminta, beli saja.

Lima helai daun kunyit harus dibayar seribu rupiah–walau seribu, tapi uang juga.

Januar lalu memilih diam. Sedang tak ingin mengobrol. Sebab Riki sudah pula mengobrol dengannya tadi. Bosan.

“Kalau begitu aku pulang saja Januar,” kata Fita. Lalu mengajak pula suaminya pulang.

“Tidak asyik Januar kini,” katanya lagi ketika sudah lima meter meninggalkan kedai.

Selepas Riki dan Fita pergi, pulang ke rumahnya, Januar kembali bermenung di kedai. Pandangannya mengarah ke jalan, kepada kendaraan yang melintas satu-satu.

Angin menyepoi, membuat Januar terkantuk-kantuk. Pikirannya mengarah ke entah.

Sedang Januar bermenung, melaju pelan mobil-mobil pribadi di jalan, kemudian menepi. Dan benar-benar berhenti. Januar kaget.

Gerangan apa yang terjadi, tiga mobil pribadi berhenti sekaligus di tepi jalan depan kedainya. Pintu-pintu mobil pun dibuka.

Keluar orang-orang, laki-laki perempuan, dengan pakaian modis. Januar jadi tambah kaget, semua orang itu mengarah ke kedainya.

Januar sedikit tegang ketika orang-orang itu duduk seorang demi seorang di palanta kedainya. Hampir saja tak muat andai Januar tidak mengeluarkan tiga buah kursi dari dalam rumahnya.

Mereka semua berjumlah 14 orang. Pesan macam-macam. Ada yang mi rebus, ada yang mi goreng, ada yang teh, kopi, atau kopi susu. Saking gembiranya Januar, ia panjar sebungkus rokok di rak papan–sudah tiga hari ia tidak merokok. Mengeluarkan sebatang. Sigap membakarnya.

Januar membuatkan minuman dulu. Namun, ia merasa kaget bukan kepalang ketika melihat gelasnya tidak cukup. Ia cari ke dalam rumah, dapat dua gelas.

Masih kurang dua lagi gelasnya.

Tak ia sangka.

Berpikir dia. Harus bagaimana? Dia buatkan dulu teh dan kopi dengan gelas yang tersedia.

Terbit di kepalanya untuk meminjam gelas kepada Fita. Benar, batinnya, pinjam gelas Fita saja.

Segera ia berlari menyeberangi jalan menuju rumah Fita.

Ia panggil nama Riki. Lalu nama Fita. Lama memanggil, tidak ada sahutan menjawab. Akhirnya keluar Fita dengan wajah yang malas.

“Ada apa Januar?” kata Fita di depan pintu yang terbuka.

“Aku hendak meminjam gelas. Dua buah,” kata Januar dengan wajah yang tergesa-gesa.

“Tidak bisa, Januar. Gelasku baru dibeli. Nanti kotor,” kata Fita spontan.

“Gelas lama yang ingin aku pinjam. Lagi pula, nanti kan dicuci.”

“Gelas lamaku sudah pecah semua,” kata Fita acuh, lalu beranjak ke dalam rumah. Meninggalkan Januar yang berdiri dengan muka yang nampak iba.

Januar kembali menyeberang jalan, kembali ke kedainya dengan perasaan yang tak enak. Bermacam-macam pikirannya tentang Fita, tapi ia coba meredakan pikiran yang bermacam-macam itu. Ia takut berburuk sangka.

Perasaannya jadi takut salah. Takut kalau-kalau orang-orang yang sudah duduk di kedainya kesal. Bahkan marah. Ini orang mau beli, malah keluyuran.

Maka Januar pun mengatakan hal yang dialaminya terus-terang. Bahwa gelasnya kurang dua. Untuk sementara dua orang ditunda dulu minum tehnya. Untuk dua orang yang belum dapat teh, menunggu dua orang yang makan mi dulu.

Dua gelas yang makan mi dengan air putih nanti yang akan dipakai buat teh.

Lalu, Januar segera menyalakan kompor gas. Mulai memasak mi. Sedang Januar merebus air di kuali–sambil menghisap rokok–, seorang yang duduk di kedai berkata, ”Buatkan saja dulu teh dua laki-laki ini, biar kami dua orang ini makan mi bergantian gelasnya.”

Sejenak Januar terharu. Merasa diperhatikan dan terbantu.

Maka, ia pun mulai membuat teh untuk dua orang itu.

Januar tahu kemudian, jika mereka masih bersaudara semua. Habis mengunjungi Pasir Putih, Kambang, melihat ombak yang bergulung–berwisata. Mereka datang dari Sungai Penuh (Kab. Kerinci, Jambi), tapi mereka aslinya orang Kab. Pesisir Selatan, Sumbar, juga.

Baca juga : Passampo Siri’

***

SUDAH berangkat orang-orang yang belanja di kedai Januar. Dalam hati Januar tak henti-hentinya bersyukur. Hatinya membesar. Senang dan haru jadi satu.

Ia sedang menghitung uang ketika Fita dan suaminya, Riki, terdengar bertengkar di teras rumah.

“Mengapa pintu dapur Uda biarkan terbuka,” kata Fita dengan suara yang keras membentak-bentak.
“Aku tidak tahu kalau ada sayur di dapur,” balas Riki yang tak kalah kerasnya.

“Sayur baru aku ambil di belakang. Masalahnya tidak sayur. Sayur itu masalah sepele. Bisa diambil lagi. Masalahnya gelas-gelasku pecah ditanduk oleh sapi itu.”

“Piring juga pecah?” kata Riki pura-pura bertanya.

“Tentu iyalah. Piring dan gelas satu tempat juga.”

Yulputra Noprizal, lahir di Air Haji pada 11 November 1985. Penyuka dan penikmat sastra. Cerpennya pernah dimuat di Singgalang, Haluan, Rakyat Sumbar, Banjarmasin Post, Bangka Pos, apajeke.id, litera.co.id, dan media online lainnya. Tinggal di Air Haji, Kab. Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Editor @warnasulselcom

Portal media kiwari yang menyajikan berita lebih mendalam

Recent Posts

  • Daerah
  • Peristiwa

FLP ranting UINAM gelar pelantikan, upgrading dan raker periode 2019-2020

  WARNASULSEL.com - Sebagai agenda lanjutan dari Musyawarah Ranting pada 20 Oktober 2019 lalu, Forum Lingkar Pena melaksanakan Pelantikan, Upgrading…

3 days ago
  • Daerah
  • Peristiwa

M Galang Pratama beri motivasi literasi di SD Kompleks Borong

  WARNASULSEL.com - Khusus untuk SD Negeri Borong, anak-anak diajak melakukan field trip ke beberapa tempat.     Setiap kelompok…

3 days ago
  • Daerah
  • Peristiwa

Tagana masuk sekolah di SD Kompleks Borong

    WARNASULSEL.com - Pagi itu, Kamis, 7 November 2019 ratusan anak dari SDN Borong dan SD Inpres Borong berkumpul…

3 days ago
  • Daerah
  • Peristiwa

Pertemuan perdana Fokasi IT Pelajar Makassar

      WARNASULSEL.com - Forum Komunikasi IT atau Fokasi Pelajar Makassar menggelar pertemuan perdananya, Sabtu (2/11/2019).   Kegiatan yang…

1 week ago
  • Peristiwa

Lomba debat ilmiah meriahkan selebrasi bulan bahasa SMAIT Nurul Fikri Makassar

    WARNASULSEL.com - Literasi Sains dikenal sebagai jenis literasi dasar yang menghadirkan banyak informasi kepada pembaca atau pendengar.  …

1 week ago
  • Cawah
  • Uncategorized

Street quotes ini bisa bikin kamu seketika merenung

WARNASULSEL.com-  Dikutip dari laman FB Haru D. Fold, beberapa street quotes ini bisa membuat kita sejenak merenung. Terutama banyak dari…

2 weeks ago