Pencemaran Lingkungan di Anak Sungai Tallo Serupa Kepentingan Musiman

(Pencemaran Limbah Perusahaan di Anak Sungai Tallo)

Oleh: Muhammad Musmulyadi*

KADANG panas, kadang pula dingin. Ya, begitulah nasib dari kasus pencemaran limbah di kawasan Kelurahan Parangloe, Kecamatan Tamalanrea, Makassar.

Kadang ketika suasana panas ada saja pejabat setempat yang datang hanya sekadar berswafoto untuk diunggah di sosial media. Kemarau atau musim penghujan berlalu begitu saja.

Dari musim pilkada hingga musim maccaleg periode berikutnya tetap tidak mengubah apa apa. Persoalan seperti ini memang ibarat musim, siklusnya hanya ditunggu dan silih berganti.

Sama saja dengan iklim cuaca, sebelumnya kemarau dibiarkan berlalu, hujan dibiarkan gerimis dan badai hanya teman yang paling setia. Walau tak ada kata percuma untuk memperjuangkan nasib rakyat yang merasa dizalimi.

Dari menggunakan media (media daring, cetak dan sosial) untuk menyuarakan aspirasi masyarakat hingga menggunakan pendekatan ngopi di teras-teras pemerintahan setempat tak kunjung menuai jawaban atas kasus ini. Datang silih bergantian para tokoh-tokoh untuk melakukan pengamatan yang kepadanya masyarakat menggantungkan harapan hingga kembalinya di rumah pun tidak menuai jalan keluar. Hanya jalan pulang ke rumahnya masing-masing yang ditemui.

Memang, salah satu dari perusahaan tersebut dan yang paling banyak memberikan dampak buruk terhadap lingkungan sekitar. Perusahaan tersebut memiliki beberapa sertifikat lingkungan hidup. Dengan segala bentuk syarat-syarat yang telah dilakukannya untuk memenuhi aturan perundang-undangan.

Lantas mengapa masih saja dampak buruk terus dirasakan? Serendah itukah standarisasi dari pemerintah terhadap upaya pengelolaan lingkungan hidup?

Sertifikat dan berbagai macam kertas-kertas perizinan dan lainnya yang terpajang di dinding kantor perusahaan apalah gunanya jika masyarakat setempat masih merasakan dampak buruknya. Saya pikir rakyat tidak mau tau apakah ini perusahaan berprestasi di muka pemerintah atau tidak.

Masyarakat melihat yang secara nyata terjadi di lapangan bahwa betapa tercemarnya lingkungan tempat tinggalnya. Yang perlu kita tahu bersama bahwa sungai yang hitam, hujan gula dari proses kimiawi masih ada. Sungai masih saja tercemari dan atap-atap rumah masih saja dihujani.

Empang-empang warga juga ikut tercemar sebab aliran sungai ini dimanfaatkan oleh petani empang untuk melakukan pergantian air pada saat pasang-surut. Bahkan hidung yang tak bersalah ikut tercemar oleh bau yang menyengat. Tidak ada perubahan. Kalah dalam kemenangan, menangis dalam sungai pekat air mata.

Kasus seperti ini merupakan salah satu dari banyaknya kasus yang serupa terjadi di negeri ini. Seperti di Ibukota, pembersihan sungai dilakukan karena menjelang perhelatan besar Asian Games akan segera terlaksana dan asumsinya karena kurang sedap aromanya dan kurang sedap dipandang, malu?

Apakah mungkin jika Asian Games dipindahkan ke Keluarahan Parangloe Kota Makassar, maka sungai akan dijernihkan? Dan masalah akan segera terselesaikan?

Sebenarnya kita punya wakil yang duduk di sana. Digaji banyak pula. Semestinya merekalah yang menjadi penyambung lidah rakyat.

Tolonglah carikan jalan keluar untuk masalah ini. Jangan menunggu tahun politik untuk memanfaatkannya sebagai ajang untuk mendulang suara masyarakat yang menggantungkan harapan dengan janji-janji yang kau berikan dan mereka impikan.

Dibandingkan dengan kasus ini yang tidak mengalami perbaikan dan kemajuan, sama sekali beda halnya dengan pembangunan perumahan elit yang segera berdiri kokoh di tempat itu. Tampaknya kemajuannya lebih pesat dibanding kemajuan unuk mengatasi pencemaran sungai oleh limbah.

Lalu apa yang harus dilakukan. Haruskah penduduk sekitar mengungsi dan meninggalkan kampungnya. Ataukah perusahaan tersebut yang berhenti. Atau mungkin pemerintah datang lalu melakukan perbaikan.

Ataukah barangkali perusahaan itu mengolah limbahnya dengan baik? Semuanya hanya berakhir dengan tanda tanya di kepala, yang menjadi kemungkinan-kemungkinan yang acapkali diandai-andaikan.

Parangloe, anak sungai Tallo, pencemaran sungai, laut hitam dan hujan gula yang masih satu kawasan dengan kampus terbesar wilayah Indonesia Timur di kecamatan Tamalanrea merupakan satu masalah di antara sekian banyak masalah yang mendera negeri ini.

Selalu ada kepentingan lain yang mesti dinomor satukan; semisal politik, kepentingan perut dan kepentingan-kepntingan lain yang sungguh tidak penting. Sehingga kepentingan rakyat selalu dinomor sekiankan. Bagaimana jika kepentingan antara pemerintah dengan perusahaan tersebut? Jika begini, lebih-lebih kepentingan rakyat terpinggirkan.

Bijaknya, sebagai manusia beradab perlu untuk duduk bersama membicarakan hal ini. Segala unsur elemen yang terkait duduk bersama guna  mencari jalan keluarnya. Itu pun jika ada keseriusan mengingat setiap orang memiliki kepentingan yang berbeda-beda.

*Muhammad Musmulyadi, Mahasiswa UIN Alauddin Makassar. Akun Facebook: Muhammad Musmulyadi. Instagram: @achmad_muze

Editor @warnasulselcom

Portal media kiwari yang menyajikan berita lebih mendalam

Recent Posts

  • Daerah
  • Peristiwa

FLP ranting UINAM gelar pelantikan, upgrading dan raker periode 2019-2020

  WARNASULSEL.com - Sebagai agenda lanjutan dari Musyawarah Ranting pada 20 Oktober 2019 lalu, Forum Lingkar Pena melaksanakan Pelantikan, Upgrading…

7 days ago
  • Daerah
  • Peristiwa

M Galang Pratama beri motivasi literasi di SD Kompleks Borong

  WARNASULSEL.com - Khusus untuk SD Negeri Borong, anak-anak diajak melakukan field trip ke beberapa tempat.     Setiap kelompok…

1 week ago
  • Daerah
  • Peristiwa

Tagana masuk sekolah di SD Kompleks Borong

    WARNASULSEL.com - Pagi itu, Kamis, 7 November 2019 ratusan anak dari SDN Borong dan SD Inpres Borong berkumpul…

1 week ago
  • Daerah
  • Peristiwa

Pertemuan perdana Fokasi IT Pelajar Makassar

      WARNASULSEL.com - Forum Komunikasi IT atau Fokasi Pelajar Makassar menggelar pertemuan perdananya, Sabtu (2/11/2019).   Kegiatan yang…

2 weeks ago
  • Peristiwa

Lomba debat ilmiah meriahkan selebrasi bulan bahasa SMAIT Nurul Fikri Makassar

    WARNASULSEL.com - Literasi Sains dikenal sebagai jenis literasi dasar yang menghadirkan banyak informasi kepada pembaca atau pendengar.  …

2 weeks ago
  • Cawah
  • Uncategorized

Street quotes ini bisa bikin kamu seketika merenung

WARNASULSEL.com-  Dikutip dari laman FB Haru D. Fold, beberapa street quotes ini bisa membuat kita sejenak merenung. Terutama banyak dari…

2 weeks ago